Hidayatullah.com– Saya bagian dari 29 mahasiswa yang ditugaskan ke Kalimantan Utara (Kaltara) sebagai relawan Tebar Hidayah Ramadhan (THR).
Kami dibagi menjadi 4 kelompok dengan tempat tugas di 4 kota/kabupaten berbeda. Yaitu Tarakan, Nunukan, Malinau, dan Bulungan. Saya dan 9 orang lainnya diberangkatkan ke Bulungan.
Pagi pertama di kawasan ibukota Kaltara ini, kami ikut dalam kerja bakti rutin yang diselenggarakan oleh warga Tanjung Selor.
Hari kedua, sesuai dengan instruksi Kepala BMH perwakilan Kaltara, selama Ramadhan kami mendapatkan amanah sebagai ‘konsultan zakat’. Tugasnya mengedukasi masyarakat tentang zakat.
Hari demi hari kami jalankan amanah ini ke berbagai penjuru Bulungan. Karena keterbatasan sarana, kami lebih sering berjalan kaki. Meski pun jarak yang ditempuh berkilo-kilo meter di bawah teriknya matahari, kami tetap melaksanakan amanah ini.
Memasuki hari ke-17 Ramadhan 1437 H, Rabu (22/06/2016). Saat itu, karena cukup lelah, saya pun singgah di salah satu masjid untuk istirahat.
Tiba-tiba handphone-ku berdering. Ada yang menelepon. Ternyata orang kantor menginstruksikan saya agar segera kembali ke kantor.
Tanpa basa-basi, dalam keadaan penasaran, saya segera pulang dan menemui Pak Lukman selaku Ketua BMH Bulungan.
Di kantor, pria yang disapa Ustadz Lukman itu langsung menginstruksikan saya untuk segera bersiap-siap menuju ke pedalaman Bulungan.
“Hari ini kita mau tebar (hidangan) takjil ke Tanjung Buka SP 9,” demikian informasi yang ia sampaikan.
“Wah, menantang nih!” batinku.
Kemudian datang Pak Qomar, Ketua Bidang Dakwah di Hidayatullah Bulungan. Ia yang tahu persis lokasi yang akan kami tuju. Karena memang masyarakat di sana adalah binaannya.
Sungai Berbuaya
Tujuan kami adalah bersilaturahim dengan masyarakat di Tanjung Buka SP 9, Kelurahan Tanjung Buka, Kecamatan Palas Tengah, Bulungan.
Kami pun berangkat dengan 2 sepeda motor tipe trail –hadiah dari donatur untuk kepentingan dakwah– dan tipe bebek milik Pak Qomar.
Kami berangkat berempat. Saya dibonceng Pak Qomar. Sementara di sepeda motor trail Pak Lukman dan Pak Suparman, dai utusan Kedutaan Arab Saudi yang ditugaskan berdakwah di Bulungan selama Ramadhan ini.
Rute menuju lokasi tidak semudah yang kubayangkan. Selain jalannya berlubang dan becek, bebatuan dan kerikil ikut serta menghiasi perjalanan.
Menurut informasi dari nelayan yang menyeberangkan kami, kalau sungainya lagi surut, biasanya buaya bermunculan. Selain itu, kami juga menyeberangi beberapa sungai kecil menggunakan jembatan kayu ulin khas Kalimantan.
Karena kondisi jalan yang kurang bersahabat, sesekali kami terperosok ke dalam lubang bahkan hampir jatuh.
Saya salut dengan Pak Qomar, ia tak pernah sekalipun saya lihat mengeluh. Ia tampak sangat menikmati perjalanan. Begitu pun dengan Pak Lukman.
Rasa iri dan bangga bercampur jadi satu dalam dadaku ketika melihat semangat mereka dalam berdakwah.
Saat menghindari jalan yang rusak, sesekali Pak Lukman meliuk-liuk dan mengangkat ban motor layaknya pembalap motor cross. “Pegang yang kuat yah.. di depan jalannya jelek,” katanya mengingatkan saya.
Rasanya damai dan tenteram menghampiriku saat disambut senyum, sapa, dan salam para warga yang kami lewati.
Apakah masyarakat memang kenal dengan ustadz yang membonceng saya ini, atau karena memang begitu tradisi keramahan masyarakat setempat, entahlah. Intinya perasaan saya damai kala itu.
Sekitar dua jam perjalanan, kami pun sampai di lokasi tujuan.
Kebahagiaan warga tampak di wajah mereka saat kami tiba di Tanjung Buka SP 9. Mereka menunggu kedatangan kami di depan Masjid Muhajirin yang berdinding kayu dan tak berkubah.
Dibarengi senyuman, satu per satu warga menjabat tangan kami. Rasa lelah sisa perjalanan pun terasa hilang.
Buka Puasa Perdana
Singkat cerita, rangkaian acara buka bersama “THR, Tebar 10.000 Takjil Berkah 1437 H” dimulai dengan sambutan Pak Sahuri, imam masjid itu. Ia mengungkapkan rasa bahagia dan haru atas kedatangan kami.
Suhari menambahkan, sejak berdirinya masjid itu, belum pernah diadakan buka puasa bersama. “Kalau bukan karena kunjungan BMH, kami mungkin tidak pernah merasakan buka bersama,” katanya.
Sementara Pak Lukman mengatakan, digelarnya acara ini juga atas bantuan dan dukungan kaum Muslimin melalui lembaga amil zakat nasional (laznas) itu.
“Kami ini berada di tengah-tengah. Kami menerima bantuan dari umat, kemudian menyalurkannya kepada yang membutuhkan,” katanya di depan jamaah masjid.
Setelah rangkaian sambutan usai, kami berbuka puasa bersama warga, dilanjutkan dengan shalat maghrib berjamaah.
Setelah shalat sunnah ba’diah, Pak Sauhari menghampiri Pak Lukman untuk menyampaikan ucapan terima kasih. ”Saya mewakili warga betul-betul berterima kasih atas kedatangannya,” ucapnya berkali-kali.
Di tengah-tengah obrolan itu, Pak Sauhari berharap agar laznas itu bisa membantu mereka dalam pengadaan kubah masjid dan mesin genset.
Acara selanjutnya adalah ceramah tentang Nuzulul Quran yang diisi oleh Pak Suparman, lalu diakhiri shalat tarawih.
Tepat pukul 21.00 WITA, kami meninggalkan lokasi. Karena kondisi penerangan yang sangat minim, kali ini tantangan perjalanan pulang lebih menantang.
Suara berbagai jenis satwa dan lambaian ranting pepohonan turut menghibur perjalanan pulang. Sampai akhirnya kami tiba di kantor dengan selamat. Alhamdulillah atas segalanya!* Zainal A, mahasiswa, pegiat komunitas menulis PENA