Hidayatullah.com – Sejarah Islam banyak sekali mencatat para pejuang yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga karena kewajiban ibadah, tetapi juga tetap teguh ketika diuji dengan siksaan dan tekanan penguasa dalam kondisi berpuasa. Keteladanan ini terpancar jelas melalui kisah Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah dalam menghadapi fitnah Khalqul Qur’an (kemakhlukan al-Qur’an) dan kesaksian Buya Hamka terhadap sosok Kasman Singodimedjo saat ditahan rezim Nasakom pada tahun 1964.
Keteguhan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah saat berada dalam penjara penguasa adalah cermin keteguhan yang sangat layak dijadikan teladan. Dalam kitab “Sīrah al-Imām Ahmad bin Hanbal” (1404: 64) yang ditulis putranya: Shalih, dikisahkan bagaimana sang imam tetap mempertahankan prinsip meski rasa haus dan lapar menyiksa tubuhnya. Seorang saksi mata yang bersamanya saat di penjara menceritakan keheranannya melihat ketabahan Abu Abdullah (Imam Ahmad) yang tetap memilih berpuasa meski berada dalam keadaan taqiyyah atau kondisi darurat yang memperbolehkan orang berbohong.
Kesabaran Imam Ahmad mencapai puncaknya ketika ia ditawarkan segelas air dingin di tengah rasa haus yang membakar. Saksi tersebut menceritakan: “Beliau merasa haus, lalu (teman setahanan) meminta kepada penjaga minuman agar memberinya minum. Penjaga membawakannya sebuah wadah berisi air dingin. Imam Ahmad mengambilnya, memandangnya sejenak, namun kemudian mengembalikannya (tidak meminumnya).” Pemandangan ini membuat orang-orang di sekitarnya takjub akan kekuatannya menahan haus dan lapar di tengah kengerian siksaan yang sedang mengancam nyawanya.
Dalam referensi lain, ketika Imam Ahmad dibujuk pamannya untuk taqiyyah, agar bisa terhindar dari berbagai siksa, maka dengan tegas Imam Ahmad menyatakan:
إِذَا أَجَابَ الْعَالِمُ تَقِيَّةً وَالْجَاهِلُ يَجْهَلُ فَمَتَى يَظْهَرُ الْحَقُّ
“Apabila seorang alim menjawab dengan taqiyyah (menyembunyikan kebenaran karena takut), sementara orang bodoh tetap dalam kebodohannya, maka kapan lagi kebenaran akan tampak?” (Ahmad bin Hanbal, al-‘Ilal wa Ma‘rifat al-Rijāl, Riwāyah ‘Abdullāh bin Ahmad, 1/83).
Ungkapan ini merupakan kritik tajam terhadap kondisi umat ketika kebenaran tidak diucapkan. Seorang alim yang seharusnya menjadi penunjuk jalan justru diam atau bersembunyi karena tekanan, sedangkan orang awam tetap dalam kebodohan. Akibatnya, kebenaran tidak pernah muncul di tengah masyarakat. Imam Ahmad sendiri adalah teladan yang menolak untuk berkompromi dalam masalah akidah dan prinsip-prinsip kebenaran, meski harus menanggung lapar, haus, dan ancaman sebagaimana tergambar dalam kisah hidupnya.
Keteguhan Imam Ahmad dalam memegang prinsip di bulan Ramadhan ini mengingatkan penulis pada nasihat Fudhail bin Iyadh Rahimahullah:
لا تَسْتَوْحِشْ طُرُقَ الْهُدَى لِقِلَّةِ أَهْلِهَا، وَلَا تَغْتَرَّنَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ، وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِينَ.
“Jangan merasa asing dengan jalan petunjuk karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jangan pula tertipu dengan banyaknya orang yang binasa. Dan janganlah engkau merasa rugi karena sedikitnya orang yang berjalan di atas jalan kebenaran.” (Imam an-Nawawī, al-Tibyān fī Ādāb Ḥamalat al-Qur’ān, 116).
Imam Ahmad adalah teladan nyata dari prinsip tersebut. Meski berada dalam tekanan, beliau tidak tergoda untuk mengambil jalan mudah yang bisa merusak integritasnya. Beliau memilih jalan hidayah meski sepi pengikut dan penuh risiko. Inilah pesan penting bagi kita: istiqamah di jalan kebenaran sering kali terasa berat dan sunyi, tetapi justru di situlah letak keselamatan.
Ribuan tahun kemudian, ruh keteguhan yang sama muncul dalam diri Kasman Singodimedjo di Indonesia. Pada Ramadhan tahun 1964, Kasman ditangkap dan diinterogasi tanpa henti oleh pihak keamanan atas tuduhan palsu. Buya Hamka, yang saat itu ditahan bersama, memberikan kesaksian dalam buku “Hidup itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun” (1982: 368-383) bahwa Kasman adalah pribadi yang disiplin dan teguh dalam mempertahankan kebenaran. Di dalam sel, dalam kondisi berpuasa di bulan Ramadhan, Kasman tetap asyik membaca Al-Qur’an dan terjemahannya demi menguatkan batinnya menghadapi hardikan pemeriksa.
Perbedaan mencolok antara mereka yang “kuat” dan “lemah” terlihat jelas dalam catatan jujur Buya Hamka. Hamka mengakui bahwa dirinya sendiri sempat jatuh pada titik terendah dan terpaksa “mengarang cerita” agar bisa beristirahat dari interogasi yang kejam. Namun, Kasman Singodimedjo tidak goyah sedikit pun. Hamka menuliskan: “Saya mengaku terus terang bahwa dibanding dengan mereka itu semuanya, saya termasuk yang tidak kuat.” Lain halnya dengan Kasman, ia tidak mau berbohong, berani berkata tidak apa pun risikonya.
Kekaguman Hamka memuncak saat melihat kondisi fisik Kasman yang merosot tajam akibat penyiksaan di bulan suci tersebut. Wajah Kasman tampak pucat dan kurus akibat kurang tidur dan tekanan mental yang hebat, namun ia tetap teguh pada satu kata: “TIDAK”. Kasman dengan tegas berkata kepada Hamka, “Apa yang musti kita akui, memang tidak ada!” Keteguhan ini adalah bentuk nyata dari pengamalan ayat-ayat Al-Qur’an yang ia baca setiap hari di balik jeruji besi. Bahkan, dalam jeruji besi, sempat mengarang buku “Renungan dari Tahanan”.
Keteguhan Kasman ini juga mengingatkan penulis pada kitab “Minhāju as-Sunnah” (VI/71) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –yang sering dinisbatkan juga kepada Umar– yang mengungkapkan:
فَإِنَّهُ لَا يَنْفَعُ تَكَلُّمٌ بِحَقٍّ لَا نَفَاذَ لَهُ
“Sesungguhnya tidak bermanfaat ucapan kebenaran yang tidak memiliki kekuatan untuk dilaksanakan.” Kebenaran bukan sekadar diucapkan, tetapi harus memiliki daya untuk diwujudkan. Sebuah perkataan benar yang tidak diiringi dengan keberanian, keteguhan, atau kemampuan untuk menegakkannya akan kehilangan pengaruh. Kebenaran yang hanya berhenti pada lisan tanpa tindakan nyata tidak akan mampu mengubah keadaan.
Secara esensial, Imam Ahmad dan Kasman Singodimedjo menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan menjaga integritas diri. Imam Ahmad menolak air dingin di puncak dahaga demi menjaga kemuliaan prinsipnya, sementara Kasman menolak “istirahat” dan “tidur” demi menjaga kebenaran dari fitnah. Keduanya membuktikan bahwa ruh yang dipenuhi dengan keyakinan agama tidak akan bisa dipatahkan oleh rasa sakit fisik atau ancaman duniawi, sekalipun raga mereka hancur.
Keteguhan di bulan Ramadhan adalah warisan para pejuang. Buya Hamka menyimpulkan sosok Kasman sebagai seorang “Muballigh Islam yang bersikap terus terang dan keras teguh mempertahankan pendirian.” Sama seperti dunia yang hingga kini mengenang Imam Ahmad sebagai singa tauhid, sejarah Indonesia akan selalu mencatat Kasman Singodimedjo sebagai karang yang tak goyah di tengah badai fitnah. Kisah ini memberikan teladan menakjubkan tentang bagaimana seorang mukmin berdiri tegak di bulan Ramadhan dalam membela kebenaran. (MBS)




