Hidayatullah.com–Di Rusia informasi kegiatan ibadah puasa dan Syawal 1433 H diinformasikan ke seluruh masyarakat oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Jadi, sebagian besar masyarakat nonmuslim Rusia sudah mengetahui kegiatan ibadah Ramadhan, hanya saja kegiatan ibadah ini aneh untuk mereka.
Demikian pengalaman Rachmandani Dian, mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S2 jurusan Analis dan Audit di Voronezh State University.
Berikut pengalamannya untuk Hidayatullah.com:
Suasana menjelang akhir bulan Ramadhan, muslim Voronezh selalu mengadakan itikaf bersama di sepuluh hari terakhir. Benar-benar tidak keluar dari mushalla kecuali kepentingan yang sangat urgen. Kamar mandi dan tempat wudhu sudah ada di dalam flat apartemen yang dijadikan mushalla.
Pada akhir bulan Ramadhan yang di Indonesia ditandai dengan takbiran yang ramai, tak dijumpai di sana. Takbiran tidak dianjurkan oleh imam setempat karena sudah ada perjanjian dengan pihak gubernur untuk tidak membuat rusuh atau pun kegiatan-kegiatan yang mengganggu masyarakat Rusia non-Islam. Untuk penyaluran zakat, muslim Voronezh menyerahkan pada organisasi penyaluran zakat, infakm dan sedekah namanya “Местная религиозная организация мусульман” (MPOM), terjemahan bahasa Indonesianya “ Organisasi Muslim Setempat”.
Tahun lalu untuk acara silahturahmi atau halalbihalal dilakukan setelah melakukan shalat Idul Fitri berjamaah yang diadakan di masjid dan di ruang makan/restoran Asrama Mahasiswa Asing Voronezh. Pengurus Organisasi MPOM biasanya mengadakan acara makan bersama di Restoran Halal, namanya Restoran Uzbekski.
Warga muslim Indonesia di Voronezh hanya berenam, semuanya pelajar. “Mahasiswa muslim Indonesia hanya ikut halalbihalal dengan muslim Rusia di Voronezh, setelah itu kita melakukan acara sendiri, seperti makan bersama di salah satu kamar asrama mahasiswa muslim Indonesia,” kata Dian.
Berpuasa 20 jam
Ramadhan tahun ini kedua kalinya Dian menjalankan puasa di kota Voronezh, Rusia. Tahun ini agak berat. Pasalnya, puasa tahun ini cukup panjang waktunya, karena bertepatan dengan musim panas. Untuk itu menahan lapar dan haus selama 20 jam.
Sekitar 500 orang muslim di Voronezh mulai puasa pukul 03.00 pagi dan berbuka pukul 21.30, atau hampir 19 jam puasa. “Hmm… lumayanlah dibanding di tanah air yang hanya puasa 14 jam,” katanya.
Sulitnya puasa di tempat yang mayoritas nonmuslim adalah menghadapi tempat hiburan dan penjual makanan yang buka di siang hari. Pemandangan lebih “mengerikan” yang sering terlihat di emperan jalan di kota, tak sedikit sepasang kekasih di pinggiran sungai terlihat saling asyik bergumul, saling peluk, dan berciuman. Belum lagi orang-orang yang menenggak vodka di sembarangan tempat. Hal ini karena mengkonsumsi alkohol hal biasa di Rusia.
Belum lagi gaya berpakaian wanitanya. Rata-rata berpakaian amat mini, apalagi di waktu musim panas seperti sekarang ini. “Dengan kondisi itulah otomatis godaan kami lebih banyak,” tutur Dian.
Dengan alasan kondisi itu, demi terjaganya pahala puasa, kaum Muslimin di Voronezh memilih lebih banyak berdiam diri di rumah. Sedangkan bagi pelajar muslim, mereka lebih senang tinggal di asrama dengan berbagai kegiatan positif penunjang puasa. Keperluan ke luar rumah hanya dilakukan jika mendesak dan benar-benar penting.
Di Voronezh, menjelang berbuka tidak ada lantunan ayat-ayat Al Qur’an di masjid. Ketika tiba waktu buka, juga tidak terdengar suara adzan dari masjid. Maklum, jumlah masjid di kota yang berpenduduk tidak lebih dari 1 juta jiwa ini bisa terhitung dengan jari.
Ketatnya peraturan pemerintah yang berhubungan dengan kegiatan agama, khususnya Islam, juga mempengaruhi hal ini. Masjid yang ada juga tidak menyediakan takjil, seperti halnya di Indonesia. “Jika sudah begitu, kerinduan akan suasana puasa di Indonesia selalu saya nantikan.”
Karena jumlah muslim minoritas dan belum disahkan peraturan kegiatan Islam oleh gubernur, mahasiswa muslim meramaikan bulan Ramadhan dengan kegiatan pengajian tiap hari Selasa sore ba’da Ashar dan shalat taraweh berjamaah.
Waktu sholat Isya di Voronezh hampir jatuh pukul 12 malam, sehingga shalat taraweh baru berakhir pukul satu dini hari. Masih ada sisa waktu 2 jam sampai menjelang waktu Subuh jam 3.00 untuk sahur. Sang imam biasanya membaca 1 halaman Al Qur’an tiap rakaatnya.
Jamaah shalat taraweh di kota Voronezh Rusia tidak sebanyak jamaah shalat Jumat. Jumlah jamaah taraweh hanya sekitar 30 orang tanpa muslimah, karena dianggap sudah malam dan bahaya untuk kaum muslimah.
“Di sana kami pun tidak bisa membaca ayat Quran dan ucapan “Amiin” setelah bacaan al Fatihah dengan keras, karena hal itu dianggap mengganggu tetangga dan masyarakat sekitar. Dan kita berusaha tidak menimbulkan suara gaduh, dan mewujudkan suasana tenang dan sunyi,” jelas Dian.
Mushola di Voronezh tidak terbuka tiap jam. Hanya dibuka ketika waktu shalat Jumat, pengajian tiap hari Selasa ba’da Ashar, dan waktu shalat Isya plus taraweh.
“Semoga dengan cobaan dari Allah ini makin memantapkan langkah kaum muslim di Voronezh ke depannya. Selain itu, bukan menjadi penghalang umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa,” katanya. Amiin…*