Hidayatullah.com–Bagi banyak Muslim di negara-negara Teluk, Ramadhan dapat mempunyai banyak arti. Bagi generasi yang lebih muda, bulan ini berarti sebuah ujian bagi keyakinan mereka dengan mencoba berpuasa untuk pertama kalinya.
Sebagai hadiah bagi anak-anak itu, para orang dewasa melakukan perayaan – biasanya pada hari ke 13,14 atau ke 15 di bulan Ramadhan – yang dinamakan Gergaoun. Sebuah perayaan seperti Halloween, tanpa kostum menakutkan, gadis-gadis menggenakan jalabiya (pakaian tradisional berwarna-warni) terbaik mereka sementara anak laki-laki menggenakan gamis dan pergi dari pintu ke pintu meminta jajanan manis dari tetangga mereka.
Atau setidaknya dulunya berjalan seperti itu.
Bagi yang tinggal di Timur Tengah, bukanlah hal yang biasa untuk keluar malam setelah sholat isya mengunjungi rumah ke rumah mencari kacang terbaik dan mengumpulkan jajanan manis. Seiring berjalannya waktu, tradisi itu telah lebih kurang memudar, karena para keluarga takut akan orang asing yang tidak dikenal.
Kini, para keluarga menyelenggarakan perayaan mereka sendiri, dengan berkumpul di rumah ataupun di mall untuk merayakan tradisi itu.
“Kota-kota semakin besar dan banyak orang yang tidak kita kenal saat ini tinggal diantara kita. Kami percaya bahwa itu tidaklah lagi aman bagi anak-anak kami untuk berkeliling di jalanan dan mengetuk pintu-pintu,” seorang ibu berkebangsaan Bahrain, Alya Isa mengatakan pada Al Arabiya English.
Orang-orang kembali ke zaman Rasulullah, di mana ketika cucu Nabi Hasan Bin Ali lahir. Anak Nabi, Fatimah membagikan gula batu yang berwarna-warni pada orang-orang untuk merayakan kelahiran anaknya pada 15 Ramadhan.
Pada masa modern, perayaan itu memberi perusahaan besar dari supermarket hingga perusahaan telekomunikasi sebuah kesempatan untuk menggunakan Gergaoun sebagai alasan untuk iklan, event dan diskon untuk menarik pelanggan lama dan baru selama bulan suci.
Sementara waktu terus berganti, tradisi secara alami berevolusi, tetapi penting menyampaikan makna dari hari itu pada generasi muda Muslim, kata salah satu orang tua.
“Sementara pula saat ini terlalu berbahaya membiarkan anak-anak kita keluar, kami memastikan untuk mengadakan perayaan itu di rumah nenek kami dan memberi anak-anak kami yang dengan sabar telah berpuasa selama 15 hari dengan hadiah atas usaha baik mereka,” kata Noora Marzooq, salah satu orang tua.*/Nashirul Haq AR