Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ramadhan di Mancanegara

‘Rasa Puasa’ di Negeri Sakura [1]

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 16 Juni 2018 19:14 7:14 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 17 Juni 2018 08:00
Bagikan
Muhammad Yusri Romadhon Al-Zamy alias Azzam (kanan) menjadi imam di Masjid Hitachi, Jepang, Ramadhan 1438 H/2017.
Bagikan

RAMADHAN tahun 1438 H menjadi bulan puasa yang begitu menantang bagi bujang yang satu ini, Muhammad Yusri Romadhon Al-Zamy.

Azzam, sapaannya, yang sekarang baru berusia 20 tahun, pada bulan Ramadhan tahun lalu berkesempatan mencicipi ibadah Ramadhan di Jepang.

Ia diundang ke negeri Sakura itu untuk menjadi imam shalat selama Ramadhan atas sponsor Masjid Otsuka, Tokyo. Tapi ia ditempatkan di Masjid Hitachi.

“Yang paling berkesan di Jepang (saat) puasa… ‘Rasa puasa’ Indonesia dan ‘rasa puasa’ di Jepang, itu yang beda,” tutur pria asal Jember, Jawa  Timur, ini saat bercerita kepada hidayatullah.com di sela-sela beriktikaf Ramadhan 1439 H, Juni 2018, di Masjid Ar-Riyadh, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Baca: Tantangan Komplit Ramadhan di Mesir: Puasa, Panas, Ujian

Di Indonesia, suasana Ramadhan benar-benar hidup. “Di Jepang sepi,” imbuhnya membandingkan.

Baca Juga

Gadis Timor Leste Masuk Islam, Direstui Kedua Orang Tuanya yang Katolik
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Di Pasar Amal Kiswa Warga Saudi Dapat Baju Lebaran Gratis
Seluruh Sopir Taksi Dubai Diberi Uang Bonus Ramadhan

Namanya negara minoritas Muslim, ia memaklumi keadaan. Misalnya, betapa sedikitnya jamaah shalat wajib maupun shalat tarawih di tempatnya jadi imam. Sebenarnya banyak umat Islam di Jepang, khususnya di Tokyo. “Tapi (tinggalnya) jauh dari masjid.”

Shalat tarawih di Masjid Hitachi diikuti paling banyak 10-15 orang tiap malamnya. Sedangkan saat shalat wajib rawatib lima hari sekali, “(Ada) 5 orang sudah untung,” ucap Azzam yang datang ke Jepang beberapa waktu sebelum Ramadhan 1438 H.

Bahkan, kalau pada waktu subuh ada 1 orang saja yang menjadi makmumnya, “Sudah luar biasa,” tutur santri penghafal 30 juz al-Qur’an ini.

Baca: Tarawih di Sudan, Tiap Malam 1 Juz Qur’an

Menurut Azzam, kondisi “sepinya Ramadhan” di tempat tersebut disebabkan beberapa faktor. Antara lain, misalnya, karena mahasiswa atau pekerja Muslim di sana saat bulan Ramadhan masih bergelut dengan aktivitas atau pekerjaan mereka.

Sebenarnya di Indonesia juga seperti itu. Bedanya, di Indonesia umat Islam bebas melaksanakan ibadahnya, termasuk shalat. Bahkan aturan-aturan perkantoran kerap dibuat dengan atas pertimbangan bulan Ramadhan. Seperti jam kepulangan karyawan yang dipercepat agar bisa buka puasa bersama di rumah.

Sedangkan di Jepang, datangnya bulan Ramadhan menurutnya tiada pengaruhnya apa-apa. Para pekerja tetap harus bekerja selayaknya di luar bulan Ramadhan.

“Enggak ada keringanan dari negara Jepang (terhadap kaum Muslimin terkait Ramadhan),” tuturnya. Bahkan banyak umat Islam di sana yang tidak ikut shalat Idul Fitri karena bersamaan jam kerja atau kuliahnya.

Baca: Ramadhan di Pakistan: ‘Kehebohan’ Menyambut Hujan

Tantangan lain yang ia rasakan saat berpuasa di Jepang adalah rasa bosan. Puasa di sana berlangsung selama sekitar 17 jam. Hari-harinya pun banyak diisi oleh “kekosongan” kegiatan.

Selama sebulan itu, ia lebih banyak berada di masjid saja. Dari habis subuh sampai zuhur ia tidak “ngapa-ngapain”. Bahkan lebih banyak beristirahat atau melakukan kegiatan pribadi lain di dalam ruangan.

Sebenarnya, Azzam mengaku lebih senang jika waktu kosong tersebut diisi dengan kegiatan-kegiatan keislaman yang melibatkan banyak orang, seperti mengajar mengaji, dan sebagainya.

Itulah mengapa, ia pun meminta dipindahkan ke masjid lain dimana ia bisa melakukan kegiatan-kegiatan lebih banyak lagi.

Baca: Kursi Kosong di Meja Iftar: Duka Warga Gaza di Bulan Ramadhan [1]

Selain persoalan itu, puasanya pada Ramadhan tahun 2017 itu juga diuji oleh suasana tidak Islami di Jepang. Kondisi imannya pun, “Ibarat (sepeda) motor bensinnya nol terus,” tuturnya di depan jamaah Masjid Ar-Riyadh, 2 Syawal 1439 H, Sabtu (16/06/2018).

Di sisi lain, tuturnya, mayoritas masyarakat Jepang bersikap acuh terhadap kegiatan keagamaan. Kehidupan mereka cenderung bebas dibanding masyarakat Indonesia.

Di Jepang, ungkapnya, seseorang yang berusia di atas 17 tahun, “mau telanjang terserah. Ana (saya) pakai jubah ke supermarket mereka biasa aja, acuh,” aku bujang penghobi futsal ini.* Bersambung

Baca: Berburu Lailatul Qadar, 400 Ribu Muslim Serbu Masjid Al-Aqsha

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Imam ShalatIslam di JepangJepangnegeri Sakurapenghafal al-Quranpuasa di JepangRamadhanRamadhan 1439 HRamadhan di JepangRamadhan di MancanegarasantriWNI di Jepang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sandiaga Uno Ingin Umat Islam Semakin Bertakwa
Tulisan selanjutnya Piala Dunia 2018, 400-an WNI Shalat Id di KBRI Moskow

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Ramadhan di Mancanegara

70.000 Jamaah Berkumpul di Masjid Al-Aqsha untuk Shalat Jumat Terakhir di Bulan Ramadhan

9 Mei 2021 11:22
Ramadhan di Mancanegara

Hadapi Gelombong Kedua Covid-19, Mesir Melakukan Penguncian jelang Hari Raya Idul Fitri

6 Mei 2021 14:00
Ramadhan di Mancanegara

Usia 72 Tahun Tak Halangi Nenek Ini Khatam Al-Quran Meski Gunakan Kaca Pembesar

30 April 2021 10:59
Ramadhan di Mancanegara

Bek Leicester City Berterima Kasih pada Lawan Main setelah Diizinkannya Berbuka Puasa

28 April 2021 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?