Hidayatullah.com–Hari pertama 10 malam terakhir Ramadhan sudah dimulai. Kerinduan mengejar Lailatul Qadr seharusnya menjadi kompetisi keimanan setiap kaum Muslim. Sayang, hal-hal yang seharunya digunakan secara khusu’ dinodai dengan beberapa kegiatan tidak bermutu. Sebagaimana berlaku di Jalan Raya Taman Mini Pintu 1 Taman Mini Kelurahan Pinang Ranti, Makassar, Jakarta Timur.
Kamis (09/08/2012) dini hari, pantauan hidayatullah.com di gerbang masuk salah satu masjid besar di Jakarta itu dihiasi raungan motor memekakan telinga. Ratusan motor diparkir di pinggir trotoar. Banyak di antara mereka bahkan menggunakan motor tanpa plat nomor. Inilah arena balapan liar tetap didepan Masjid At Tin, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Pembalap liar yang kebanyakan adalah anak-anak remaja ini memacu motor mereka dalam kecepatan tinggi, tanpa helm bahkan ada yang beratraksi tanpa jaket, seolah membabi buta merajai jalanan dengan kecepatan tinggi.
Balapan liar ini dimulai dari lampu merah depan pintu TMII dan berhenti di lampu merah Mall TMII. Yang tak kalah menyedihkan, di sana sudah berjejal para gadis-gadis belia bercelana hotpans (celana setengah paha). Juga anak-anak remaja yang menonton sambil merokok. Di beberapa sisi, juga tercium aroma alkohol.
“Seru aja sih mas,” jawab seorang penonton kepada hidayatullah.com.
Menurut para saksi, biasanya sejak pukul 01.00 dini hari balapan liar itu sudah mulai.
Acara balapan liar ini mulai reda pada pukul 02.30 tatkala aparat kepolisian tiba. Sebanyak dua truk batalion polisi, dua sedan dinas dan 2 mobil panther sontak membuat panik para pengendara motor. Tak jarang, kalau ada yang tertangkap motornya langsung dinaikkan ke dalam truk kepolisian.
Beberapa informasi menyebutkan, baik warga maupun aparat sendiri sudah bosan membubarkan acara balapan liar ini. Biasanya walaupun ada polisi, setelah polisi pergi, para pembalap liar ini akan kembali lagi untuk melakukan balapan liar.
Akhirnya, benar juga dengan Ramadhan hanya untuk orang-orang pilihan. Buktinya, meskikenikmatan Ramadhan hanya benar-benar dinikmati oleh orang-orang yang terpilih. Dan para remaja ini, mungkin dalam bagian yang tak peduli dengan 10 Malam terakhir atau dikenal I’tikaf yang seharusnya beramai-ramai berada di masjid untuk mengharap pengampunan doa.*