Oleh: Kholili Hasib
MESKI Jawa Timur mayoritas Muslimnya menganut tradisi Nadlatul Ulama (NU), namun juga menjadi salah satu basis utama daerah penyebaran aliran Syiah.
Gerakan dakwah Syiah mulai muncul sekitar tahun 80-an, sebagai pengaruh dari Revolusi Iran pada tahun 1979 di bawah Ayatullah Khomeini.
Umumnya, Syiah membangun basis di daerah Tapal Kuda dan sekitarnya. Karena itu, wilayah konflik antara Syiah dengan warga NU masih sering terjadi di sekitar daerah Tapal Kuda. Atau di daerah yang basis nadliyyinnya cukup kuat, seperti Madura.
Untuk mengatasi kasus itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menerbitkan Pergub No. 55 tahun 2012 tentang aliran sesat. Dalam pasal 4 ayat 1 ditulis: “Setiap kegiatan keagamaan dilarang berisi hasutan, penodaan, penghinaan dan/atau penafsiran yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama yang dianut di Indonesia, sehingga dapat menimbulkan gangguan ketentraman dan ketertiban masyarakat.
Pertikaian terjadi memang selalu dipicu oleh dakwah menghasut dan penodaan terhadap Sahabat Nabi. Sedangkan Sahabat Nabi di kalangan Sunni sangat dihormati. Meski begitu, adanya Pergub No. 55 tersebut tak begitu berdampak bagi Syiah sendiri. Ekspansi dakwah tetap berlangsung dengan beberapa pendekatan.
Pendekatan Dakwah
Setidaknya terdapat tiga tipe gerakan dakwah Syiah di Jawa Timur; yaitu melalui pendirian lembaga pendidikan, kelompok pengajian untuk kaum tradisional dan ekspansi ke kampus.
Daerah Bangil, Malang, Jember, Bondowoso, Probolinggo merupakan tempat-tempat yang banyak dihuni komunitas Syiah. Lembaga pendidikan yang paling maju terdapat di Malang dan Bangil. Di kota Malang, mereka mendirikan lembaga pendidikan unggul yaitu lembaga pendidikan al-Kautsar yang menyelenggarakan pendidikan mulai TK dan SD.
Di Bangil, mereka memiliki lembaga bernama YAPI (Yayasan Pendidikan Islam al-Ma’hadul Islami) didirikan oleh tokoh kharismatik Syiah, almarhum Habib Husein al-Habsyi. Habib Husein al-Habsyi merupakan tokoh Syiah yang sangat berpengaruh. Di tangan dia, lahir kader-kader intelektual yang dikirim ke Qum, Iran.
Bahkan, kabarnya, YAPI menjadi salah satu pusat kaderisasi Syiah, selain di Bandung. Habib Husein, yang mantan aktivis Masyumi, tertarik dengan Iran sejak meletus Revolusi. Kekaguman kepada Khomeini membelokkan pemikirannya kepada aliran Syiah.
Di wilayah inilah potensi gesekan dengan Sunni cukup besar. Ada beberapa sebab untuk melihat kasus ini.
Pertama, di antaranya, komunitas Syiah ini berada di tengah-tengah warga NU. Warga NU yang memiliki ghirah (semangat) di daerah ini tentu saja tidak melupakan sepak terjang Syiah pada medio antara tahun 80-an sampai 90-an. Dakwah Syiah pada tahun-tahun itu lebih terbuka. Sampai banyak pula anak-anak warga NU yang belajar di lembaga tersebut beralih menjadi Syiah.
Penyebab utamanya bukan sekedar banyaknya anak muda yang berkonversi ke Syiah, namun militansi Syiah justru dinilai kerap memancing warga.
Pada tahun 2007, dari laporan PCNU Jember, terdapat sekitar 30 orang warga Dusun Sumberlucu, Kecamatan Ledokombo Jember yang pindah ke Syiah.
Dalam edaran yang ditanda tangani Ketua Takmir Masjid Nurul Islam diceritakan bahwa sejak konversi 30 warag NU ke Syiah itu, warga Desa Sumberlucu resah.
Karena warga yang NU dihujat, dilecehkan, bahkan dikatakan ajaran NU sesat dan menyesatkan. Bahkan, salah seorang dai Syiah terang-terangan mencela Abu Bakar dan Umar bin Khattab dalam ceramah. Hal itu selalu memancing emosi dan konflik kecil.
Di daerah-daerah yang memiliki basis tradisional kuat, Syiah memakai pendekatan akhlak dan kajian ala tradisional. Seperti di Jember, dai Syiah mengadakan pengajian maupun kajian rutin dengan pendekatan bahasa daerah, atau ceramah yang bisa menyentuh hati masyarakat nadliyyin tradisional.
Dai Syiah cenderung mengikuti selera masyarakat, di mana pendekatan pengajiannya mirip dengan yang selama ini menjadi tradisi Kiai NU di pedesaan.
Pendekatan ini rupanya cukup efektif bagi Syiah. Gaya ini tidak mudah dikenali oleh kaum tradisional NU di daerah-daerah tertentu.
Pengelabuhan itu rupanya menghasilkan hasil yang efektif. Terbukti terdapat di daerah tertentu puluhan kepala keluarga eksodus ke Syiah. Pertama-tema, dikenalkan keutamaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibandingkan para Sahabat yang lain. Setelah, fanatisme kepada Ali bin Abi Thalib tertanam, pelan-pelan para jama’ah memiliki pemahaman, tiada kemulyaan bagi Sahabat-sahabat Nabi. Menariknya, pendekatan ala tradisional ini tidak diterapkan di kampus-kampus.
Sekitar tahun 90-an hingga tahun awal tahun 2000-an Syiah sudah masuk kampus-kampus di Jawa Timur. Di Unair Surabaya dan Unibraw Malang ditengarahi terdapat komunitas kajian mahasiswa Syiah. Mereka mendirikan IJABI Intelectual Community dan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia).
Di kampus-kampus yang terdapat komunitas IJABI, Syiah mendirikan kelompok-kelompok kajian dan diskusi. Tahun 2000-an mereka menolak kelompok kajiannya disebut halaqah.
Mungkin untuk membedakan dengan jamaah mahasiswa Muslim lainnya.Kajian mereka lebih terbuka, menggunakan pendekatan akademik. Dan tidak mau disebut Syiah. Saat ini, gerakan Syiah di kampus cenderung menurun. Syiah Jawa Timur lebih fokus membidik kaum tradisional dan pendirian lembaga pendidikan.*
Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya
Berlanjut ke ARTIKEL Kedua