Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Petinggi Frank Paling Jahat Memusuhi Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Januari 2014 08:19 8:19 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Januari 2014 07:22
Bagikan
Bagikan

Oleh: Alwi Alatas

NAMANYA  Reynald of Chatillon. Para penulis Muslim abad pertengahan seperti Baha’uddin Ibn Shaddad menyebutnya al-Brins Arnat atau Pangeran Arnat.

Bersama Raja Yerusalem, Guy of Lusignan, Reynald termasuk petinggi Frank yang tertangkap oleh pasukan Muslim selepas Pertempuran Hattin pada pertengahan tahun 1187.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Bangsawan-bangsawan Frank yang tertangkap biasanya diperlakukan dengan baik oleh Shalahuddin al-Ayyubi.Tapi tidak untuk Reynald. Shalahuddin mengeksekusi mati Reynald dengan tangannya sendiri, di depan Guy dan beberapa petinggi Frank lainnya.

“Tidak biasanya seorang pangeran membunuh pangeran lainnya,” kata Shalahuddin pada Guy yang terkejut menyaksikan eksekusi berdarah itu, “tapi orang ini telah melampaui batasnya, maka ia mengalami apa yang telah ia alami.”

Siapakah Pangeran Arnat atau Reynald of Chatillon, dan apa yang telah dilakukannya sehingga Shalahuddin sendiri yang mengeksekusinya hingga mati?

Dari Penguasa Antioch hingga al-Karak

Seperti kebanyakan bangsawan Prancis kelas bawah pada masa Perang Salib yang nasibnya kurang begitu cerah di negeri asalnya, Reynald of Chatillon mencari peruntungan dengan berangkat dan menetap di Levant (Syam). Pemuda berusia sekitar dua puluh tiga tahun itu ikut sertadalam Perang Salib II (1147-1148) dan tidak kembali ke Eropa setelah kegagalan orang-orang Frank pada perang tersebut. Pria ini digambarkan oleh William of Tyre sebagai seorang yang tampan, tetapi nekad dan tak bertanggung jawab.

Amin Maalouf dalam The Crusades through Arab Eyes menyifati Reynald secara lebih terang-terangan:“seorang pria yang brutal, arogan, sinis, dan keji”.

Pemuda itu tidak memerlukan waktu lama untuk meraih posisi penting di Levant. Secara diam-diam ia berhasil memikat Constance, wali pemerintahan Antioch yang suami pertamanya mati terbunuh dalam Pertempuran Inab tahun 1149. Percintaan keduanya berujung dengan pernikahan pada tahun 1153.

Berkat pernikahan itu Reynald tampil sebagai pemimpin Antioch, salah satu dari tiga propinsi Frank di Suriah-Palestina, tapi pada saat yang sama juga diklaim oleh Kekaisaran Byzantium. Seolah merefleksikan arus Sungai al-‘Ashi – bermakna Sungai ‘Durhaka’ atau Sungai ‘Pemberontak’ – yang melintas di depan tembok Antioch, kota itu kini dikendalikan oleh seorang pangeran dengan karakter yang kurang lebih sama.

Ambisius dan penuh kontroversi, Reynald segera membuat gusar Kerajaan Yerusalem dan juga Byzantium. Hanya setahun setelah menikah dan menjadi penguasa Antioch, Reynald membuat ulah terhadap pemimpin Gereja Antioch, Aimery. Ia meminta Aimery menyerahkan harta kekayaan Gereja Antioch. Ketika permintaannya ditolak, Reynald menangkap uskup Antioch itu dan menyiksanya.

Tak cukup sampai di situ, sang uskup kemudian ditelanjangi, dilumuri madu seluruh tubuhnya, dan dijemur dalam keadaan dirantai di tengah terik matahari di atas citadel Antioch. Aimery menyerah. Ia memberikan kunci perbendaharaan gereja Antioch pada Reynald dan langsungmeninggalkan kota itu menuju Yerusalem.

Dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1156, ia dan pasukannya melakukan serangan dan penjarahan ke Pulau Cyprus. Reynald ‘menginvestasikan’ uang hasil jarahan dari Gereja Antioch untuk mendanai penjarahan yang lebih besar lagi di pulau milik Byzantium itu. Sama-sama Kristen tetapi berbeda doktrin keyakinan, orang-orang Katholik Frank yang dipimpin Reynald merampok, memperkosa, dan membunuh penduduk Yunani di Cyprus yang menganut Kristen Othodoks. Pesta kejahatan itu berlangsung selama tiga minggu lamanya.

Menurut Steven Runciman, seorang sejarawan yang mendalami Perang Salib, pembunuhan dan penjarahan itu “sampai ke tingkat yang mungkin membuat orang-orang Huns dan Mongols merasa iri karenanya.”

Bagaimanapun, belakangan Reynald terpaksa membayar tingkah polahnya itu. Kaisar Byzantium, Manuel Comnenus, datang dengan tentaranya ke Suriah pada tahun 1159. Di tengah rasa takutnya terhadap pembalasan Kaisar Byzantium, Reynald menghinakan dirinya dengan merangkak seperti seekor anjing dan memohon ampun pada sang Kaisar. Kaisar Byzantium pun memaafkannya.

Walaupun berulangkali membuat kesal dan malu rekan-rekan Kristennya, permusuhan Reynald yang sesungguhnya adalah dengan kaum Muslimin. Bangsawan yang satu ini, menurut Ibn al-Athir, penulis al-Kamilfi-l-Ta’rikh, merupakan “salah satu dari orang-orang Frank yang paling jahat dan paling keras kepala, serta paling memusuhi umat Islam.”

Ia berkali-kali melakukan penjarahan di desa-desa Muslim serta terlibat pertempuran dengan pasukan Muslim Suriah yang dipimpin oleh Nuruddin Mahmud Zanki. Bagaimanapun, pada tahun 1161 seorang jenderal Nuruddin berhasil mengalahkan pasukan Antioch dan menangkap Reynald.

Pemimpin kontroversial ini kemudian mendekam di penjara Aleppo hingga lima belas tahun berikutnya.

Reynald diuntungkan oleh ketidakstabilan politik Suriah selepas kematian Nuruddin pada tahun 1174 serta terjadinya proses peralihan kekuasaan dari keluarga Zanki pada keluarga Ayyub yang dipimpin oleh Shalahuddin.

Reynald dibebaskan dengan tebusan yang sangat besar oleh emir yang menguasai Aleppo pada tahun 1176, ketika Shalahuddin masih berusaha menyatukan wilayah-wilayah Muslim yang terpecah-pecah.

Tak lama keluar penjara, Reynald yang istri pertamanya wafat pada tahun 1163 menikah lagi dengan Stephanie. Pernikahan itu menjadikannya pemimpin benteng al-Karak dan sekitarnya. Benteng strategis yang menjulang seperti mahkota di puncak sebuah bukit itu berada di tenggara Laut Mati dan terletak di jalur yang menghubungkan Mesir dan Suriah.

Reynald segera menemukan kegemaran baru di wilayah kekuasaannya ini, yaitu menjarah rombongan pedagang Muslim yang melintas di antara Mesir dan Suriah.Keberadaan Reynald di al-Karak menyebabkan lalu lintas perdagangan Muslim yang melewati kawasan itu menjadi sangat beresiko. */Kuala Lumpur, 29 safar 1435 (1 Januari 2014). Bersambung tulisan “Berharap Hancurkan Makam Rasulullah”

Penulis adalah penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib” kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Perang SalibShalahuddin al Ayubi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rebutan Makanan Haul Kematian Muslim di Ningxia Tewas
Tulisan selanjutnya Haruskah Dilakukan dengan Pembantaian dan Penyitaan Al Qur’an?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?