AKSI para pelajar di berbagai daerah setelah Ujian Nasional (UN) sungguh memprihatinkan. Betapa tidak, Pasca UN para pelajar tidak lagi sekedar coret-coret baju dan konvoi kendaraan, namun kini bertambah menjadi zinah masal, telanjang di tengah jalan, tawuran dan perbuatan maksiat lainnya. Belakangan juga terkuak pesta bikini. Na’uzubilllah.
Berbagai kegiatan pelajar kita ini sesungguhnya hanya potret buram sebuah generasi , buah dari demokrasi yang menyuburkan liberalisasi.
Sebelum ini, belasan pasang pelajar di Semarang tertangkap basah sedang melakukan pesta seks bersama pacar mereka. Sekitar 30 pasang pelajar juga terjaring sedang berzina masal di Kendal, Jawa tengah dalam operasi Yustisia. [Baca: Kasus Pesta Seks Pelajar, MUI: Pendidikan Di Indonesia Kering Akhlak]
Sungguh, kebebasan berbuat, bertingkah laku serta berfikir sudah menyusupi para pelajar generasi penerus bangsa. Mereka hanyut dalam euphoria kebahagiaan setelah selesainya melaksanakan UN selama tiga hari. Seolah selesai sudah perjuangan mereka dan melepaskan dengan kebebasan berbuat, berzina dengan pacar mereka. Padahal lulus SMU itu justru awal mereka menapi dunia baru, dunia kedewasaan dan akan menghadapi makan banyak persoalan di depan mata, yang seharusnya mereka menyiapkan diri, fisik, pikiran dan hati yang kuat dan tahan banting.
Faktanya justru sebaliknya. Sungguh memprihatinkan dan selayaknya menjadi perhatian kita bersama. Sistem pendidikan, dan kurikulum sekolah kita tidak menyentuh kesadaran serta keimanan sama sekali. Penyadaran pentingnya belajar sebagai modal kehidupan,etika serta akhlak mulia ,budi pekerti mendapatkan porsi yang sangat kecil atau bisa dibilang tidak mendapatkan porsi sama sekali.
Kita harus jujur, standar kelulusan hanya dilihat dari capaian nilai saja, tanpa menghiraukan bagaimana cara mendapatkannya.Sehingga banyak yang menempuh dengan cara yang curang dengan membeli soal-soal bocoran,karena yang ada di benak mereka bagaimana bisa lulus dengan nilai besar.
Pelajaran agama yang sangat minim di sekolah yang hanya 2 jam mata pelajaran dalam satu minggu, jelas sangat kurang. Pelajaran agama pun hanya menyentuh aspek kognitifnya saja, tanpa menyentuh aspek emosional. Ditambah lagi dengan kondisi keluarga yang masa bodoh, selalu sibuk tidak peduli perkembangan anak mereka.
Demikian pula dengan sekolah dan lingkungan masyarakat yang tidak peduli, dan tidak berjalannya kontrol sosial menambah panjang pekerjaan rumah kita.
Selain itu rusaknya system ini bisa dikatakan dari hulu sampai hilir. Oke-lah pelajar kita rusak karena kesalagan kurikulum, sekolah dan orangtua.
Yang tak kalah pentingnya juga lingkungan harusnya ikut berperan.
Apakah petugas hotel tidak bisa membedakan mana pasangan suami-istri mana pelajar? Apakah mereka tidak melihat surat identitasnya pelajar dengan cermat, sehingga menerima tamu yang bukan suami istri?
Di sini kita melihat bahwa pesta seks setelah UN adalah tanggung jawab kita bersama. Pemerintah bertanggung jawab terhadap kurikulum yang diberlakukan. Orangtua bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya di rumah. Sekolah bertanggung jawab untuk memberikan lingkungan belajar yang kondusif. Masyarakat menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial. Sekularisme dan liberalisme adalah masalah pokoknya.
Bila pemerintah memberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dengan mudah dan murah, niscaya generasi kita akan terpacu untuk belajar, dibandingkan terpacu untuk melakukan kemaksiatan.
Bila saja Negara menindak tegas perzinahan dengan hukum Islam yang tegas, niscaya generasi muda kita akan berfikir seribu kali untuk melakukan perzinahan.
Dan insyaAllah generasi kita selamat dari bahaya sekularisme dan liberalism yang kini sedang menjerat generasi kita. Wallahu a’lam.*
Rina Nurawani, Pendidik Sekolah Madania, Parung Bogor