TERKESAN tergesa-gesa, delegasi Israel akan segera berangkat ke Turki untuk membahas ganti rugi keluarga para korban kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang berusaha menerobos blokade menuju Gaza pada bulan Mei 2010. Bila tidak ada perkembangan lain, dijadwalkan delegasi tersebut berangkat pada 12 April ini, atau sekitar tiga pekan setelah permintaan maaf PM Benjamin Netanyahu kepada PM Turki, Recep Tayyip Erdogan.
Israel kelihatannya yang lebih proaktif untuk segera menormalisasikan hubungannya dengan Turki sebab apabila hanya untuk membahas ganti rugi, tidak mesti harus dengan kunjungan delegasi yang demikian cepat. Meskipun Erdogan menerima permintaan maaf tersebut, namun dengan sejumlah syarat termasuk menghentikan (sebagian sumber menyebutkan meringankan) embargo atas Gaza.
Belum ada kejelasan apabila syarat terakhir ini akan diterima pemerintah Israel karena tidak ada tanda-tanda negeri Zionis itu siap mencabut embargo atas Gaza yang menjadi basis terkuat perjuangan bersenjata faksi-faksi perlawanan Palestina saat ini. Pemerintahan Erdogan, juga kelihatannya akan tetap menunggu komitmen Netanyahu, agar permintaan maaf tidak hanya sebatas di mulut sebelum hubungan kedua negara kembali normal seperti sebelum insiden kapal kemanusiaan itu.
Paling tidak Erdogan sangat mengerti prilaku negeri Zionis itu yang sering melanggar kesepakatan yang telah tercapai terutama bila bercermin pada berbagai kesepakatan yang dicapai dengan Palestina. Mungkin contoh yang paling kini adalah pelanggaran atas kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang ditengahi Mesir pada bulan November tahun lalu.
Pada 2 April lalu, dilaporkan pesawat tempur negeri Zionis itu melakukan serangan dua kali atas Gaza dan mengancam akan melanjutkan serangannya sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian warga Palestina dan masyarakat internasional terhadap nasib para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel. Kondisi para tahanan sangat menyedihkan, dan kembali mencuat ke permukaan dengan meninggalnya tahanan wanita Palestina, Maisarah Abu Hamdiah Selasa (02/04/2013) di Tepi Barat.
Israel menganggap kemarahan warga Palestina atas kondisi tahanan sebagai eskalasi dan memperingatkan Palestina agar tidak menjadikan kematian tahanan tersebut sebagai alasan untuk meningkatkan eskalasi. Padahal yang melakukan eskalasi dengan memanfaatkan kasus kematian tahanan tersebut adalah Israel sendiri dengan menyerang Gaza dan dikhawatirkan kasus ini akan dimanfaatkannya untuk menggagalkan gencatan senjata yang disponsori Mesir itu.