Hidayatullah.com | PADA Jumat 29 Mei menandai peringatan 567 tahun peringatan Penaklukan Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium, oleh pasukan militer Kekhalifahan Utsmaniyyah (Ottoman) di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed II. Di Istanbul, 29 Mei lalu menjadi sebuah perayaan yang disponsori negara, dengan pertunjukan cahaya dan kembang api serta pertunjukan ulang sejarah menampilkan marching band militer tradisional (mehteran) dan para aktor yang mengenakan kostum.
Skala dan status peringatan tersebut telah semakin meningkat selama beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, acara peringatan dilangsungkan di dalam sebuah stadion atau, dalam beberapa tahun terakhir, di Yenikapı Meydanı, tempat luas, lahan berbentuk setengah lingkaran di sepanjang pantai Marmara, yang dibangun antara tahun 2012 dan 2014 di bawah kepemimpinan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dan dirancang untuk menjadi tuan rumah pertunjukan publik yang spektakuler semacam ini.
Tahun ini, untuk pertama kalinya, titik fokus peringatan dipindahkan ke Masjid Hagia Sophia (Ayasofya dalam bahasa Turki), bangunan yang awalnya dibangun sebagai katedral Bizantium pada tahun 537, diubah menjadi masjid setelah penaklukan Utsmaniyyah di Istanbul pada 29 Mei 1453. Kemudian Hagia Sophia menjadi museum sekuler pada 1935 di bawah pendiri sekulerisme Turki, Mustafa Kemal Ataturk.
Presiden Erdogan menyampaikan pidato – direkam dari suatu tempat namun disiarkan langsung dari layar yang dipasang di dalamnya – dan pembacaan ‘Surah Kemenangan’ (Surah al-Fath) disiarkan melalui menara kuno yang biasanya sunyi. Kantor-kantor berita di Yunani dan di negara Barat dengan cepat mencela acara tersebut sebagai provokasi. Pengamat di kedua sisi perdebatan melihatnya sebagai awal – langkah lain untuk mewujudkan janji Erdogan untuk mengembalikan struktur bangunan tersebut menjadi masjid yang berfungsi.
Arti penting 29 Mei 1453 dan bias implisit pengakuannya tercermin dalam istilah yang digunakan untuk menggambarkannya. Kebanyakan bahasa Eropa mencirikannya, hampir penuh kerinduan, sebagai sebuah kejatuhan pasif.
Dalam bahasa Turki, itu adalah Fetih (penaklukan) dan diingat seperti itu. Bagaimanapun juga, itu adalah Fetih yang membuat Sultan Mehmed mendapat julukan Al-Fatih (Sang Penakluk), setelah memenuhi ramalah Nabi Muhammad ﷺ: “Sungguh, Konstantinopel akan dibebaskan,; sebaik-baik penakluk adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.”
Bagi sejarawan Ottoman, seperti penulis sejarah abad ke-15 Tursun Beg, penaklukan itu mencontohkan betapa shalehnya Sultan Mehmed. Namun tidak ada bukti bahwa peringatan itu diperingati dengan cara tertentu. Juga tidak dipromosikan secara luas pada dekade-dekade awal Republik Turki, yang reformasi sosialnya sekuler dan kebarat-baratan berusaha untuk menonjolkan pecahnya negara muda itu dengan Kekhalifahan Utsmaniyyah.
Memang, perayaan kontemporer 29 Mei dapat dilacak hingga pertengahan 1990-an, bersamaan dengan masa jabatan Erdogan sebagai wali kota Istanbul. Awalnya diselenggarakan oleh Partai Kesejahteraan (RP) sayap kanan, organisasi politik Islam yang sejak itu dilarang oleh pengadilan tinggi Turki karena melanggar pemisahan agama dan negara (prinsip sekuler). Partai tersebut mendorong ditentukannya tanggal 29 karena alasan agama polemik, dan dari asal-usul inilah perayaan telah berevolusi menjadi bentuk mereka saat ini.
Acara peringatan Penaklukan Konstantinopel ditutup dengan menyoroti bagaimana penaklukan mengubah kota itu dari ibukota kerajaan Kristen menjadi pusat kekhalifahan Islam. Satu gambar foto menunjukkan Hagia Sophia; sepotong demi sepotong, dalam hitungan detik, menara-menaranya secara ajaib dibangun.
Pembaruan kota, sebagai tindakan yang didasarkan kesalehan agama ditekankan Erdogan dalam pidatonya: “Penaklukan bukanlah simbol kehancuran tetapi pembangunan, bukan pemusnahan tetapi kebangkitan […] Kami tidak hanya menaklukkan kota ini tetapi juga menghabiskan waktu berabad-abad menambah keindahannya […] Kami menghiasi setiap lingkungannya dengan pola yang berbeda; dengan kubah, menara, air mancur, dan kebun kami. Kami menyalakan tujuh lilin di tujuh bukitnya, menghiasi tenggorokannya [Bosphorus] dengan kalung […].’
Erdogan menghubungkan proyek pembangunan relijius dengan yang direalisasikan di bawah pemerintahannya sendiri, seperti pemulihan sistematis utama masjid kota itu dan konstruksi kontroversial dari masjid baru di ruang yang dianggap tanah suci bagi Turki sekuler, Taksim Square.
Pemulihan monumen-monumen Islam kota ini bertepatan dengan menjelang seratus tahun berdirinya Republik Turki pada tahun 2023. Pemandangan Hagia Sophia hampir meledak di balik tembok yang berukuran sangat kecil itu seperti metafora yang kuat untuk permainan akhir dari kampanye restorasi – ada satu hal besar yang harus dilakukan dan sangat sedikit yang menghalangi. Erdogan mengakhiri pidatonya sebagai berikut: “Saya mengucapkan terima kasih kepada semua saudara saya yang tidak berpaling dari Hagia Sophia, kenang-kenangan penaklukan, pada hari yang penuh makna ini.”*/artikel ditulis John Lansdowne di laman apollo-magazine.com