Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Mesir Hari Ini Lebih Buruk dari Husni Mubarak

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Juli 2017 18:03 6:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Juli 2017 08:59
Bagikan
Anggota Ikhwanul Muslimin yang dipenjara Rezim Al Sisi di Mesir
Bagikan

Oleh: Zena Tahhan

 

EMPAT tahun lalu di tanggal ini, Mesir menyaksikan tergulingnya presiden pertama mereka yang terpilih secara demokratis, Mohammad Mursi, dalam kudeta militer.

Anggota Ikhwanul Muslimin itu hanya menjabat selama setahun ketika pemimpin militer, Jenderal Abdul Fattah al-Sisi, mengumumkan penggulingannya di televisi milik negara, bersama dengan penangguhan konstitusi dan pembentukan pemerintahan sementara.

Militer mengatakan mereka merespon rakyat, yang telah membanjiri jalanan dengan ribuan orang pada 30 Juni 2013, karena ditakutkan Mursi akan menjadi semakin otoriter.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Hanya dalam dua tahun, Mursi menjadi pemimpin Mesir kedua yang digulingkan. Dalam gelombang pemberontakan populer yang terjadi di seluruh dunia Arab pada 2011, rakyat Mesir juga menggulingkan kediktatoran-30 tahun pemimpin militer Husni Mubarak.

Pergolakan sosial dan politik selama tahun-tahun itu menjebak Mesir ke dalam sebuah krisis ekonomi dan secara mendalam memecah belah negara itu.

Tetapi kebangkitan Sisi pada Juni 2014 seharusnya menjadi tanda sebuah era stabilitas yang baru. Dia dengan cepat mengusulkan reformasi ekonomi, seperti memotong subsidi bensin dan meningkatkan pajak dalam upaya untuk mengurangi pengangguran dan menghasilkan pendapatan jangka panjang. Dia juga menginisiasi beberapa proyek infrastruktur baru, termasuk perluasan Kanal Suez dan wilayah pertanian Mesir, yang dia katakan akan membuat Mesir lebih mandiri dan menghasilkan pekerjaan. Ketika kekerasan menyusut, pemasukan pariwisata meningkat.

Baca: Rakyat Mesir Kecewa Diktator Mesir Husni Mubarak Bebas Hukum

Namun para pengamat mengatakan stabilitas sementara itu, yang telah mulai mengikis, terjadi dengan kebebasan publik sebagai harganya.

“Beberapa orang Mesir telah menerima kembalinya beberapa ‘penjaga lama’ karena mereka percaya bahwa, atas semua kesalahannya, rezim Mubarak  memberi mereka lebih banyak stabilitas daripada rezim Mursi,” Sarah Yerkes, rekan jurnalis di Carnegie Endowment for International Peace berbasis di Washington, mengatakan pada Aljazeera. “Dalam jangka panjang, tipe pemikiran seperti ini tidak rasional – Mubarak hanya dapat mengontrol Mesir untuk waktu yang lama – tetapi dalam jangka pendek, beberapa orang rela terjadinya lebih banyak represi [dan] sedikit kebebasan sebagai imbalan atas apa yang mereka anggap kestabilan yang lebih besar.”

Tidak lama setelah penggantian Mursi, pemerintahan sementara militer memulai langkah keras pada pendukung Ikhwanul Muslimin, banyak dari mereka yang terus melakukan demo balasan dan menyuarakan dukungan mereka pada Mursi.

Pada Agustus 2013, pasukan keamanan dan militer menyerang sebuah demonstrasi di Lapangan Rabaa al-Adawiya, membunuh sekitar 1.000 pendukung Mursi. Human Rights Watch menyebut itu sebagai “salah satu pembantaian demonstran terbesar dalam satu hari di sejarah modern.”

Baca: PPMI Mesir: 4 Mahasiswa Indonesia yang Ditahan Tak Terkait Organisasi Terlarang Manapun

Dan dalam pengadilan massa yang secara luas dikritik, Mesir mendakwa ribuan yang diduga pendukung Ikhwanul Muslim hukuman mati – “hukuman massa terbesar yang diberikan dalam sejarah Mesir modern”, menurut Amnesty Internasional. Gerakan itu, yang merupakan tertua di Mesir, kelompok Islam paling berpengaruh, juga dilarang dan aset-asetnya disita sebelum dinyatakan sebagai sebuah “organisasi teroris” oleh pemerintah.

“Penindasan keras pada pendukung Mursi mengirimkan sebuah pesan mencolok pada semua rakyat Mesir bahwa di bawah kebangkitan pemerintahan otoriter rezim Sisi: Perbedaan pendapat tidak akan ditoleransi. Seiring pemenjaraan massal lebih dari 50.000 orang, hal ini telah memastikan bahwa oposisi terhadap rezim tetap akan terbatas sejak bertahun-tahun sebelumnya,” Abdullah al-Arian, seorang profesor sejarah di Sekolah Layanan Luar Negeri Universitas Georgetown di Qatar, mengatakan pada Aljazeera.

Beberapa bulan setelah menjabat, Sisi meloloskan sebuah undang-undang yang melarang demonstrasi tanpa izin polisi, membuat gerakan demo secara praktis menghilang. Langkah opresif seperti itu, para ahli mengatakan, dilakukan untuk mengencangkan jerat atas negara itu dan membawa wajah stabilitas.

“Banyak rakyat Mesir hanya menginginkan kestabilan ekonomi dan politik; karena itu, mereka mendukung kudeta Sisi. Tidak lama setelah Sisi berkuasa, uang Saudi dan Teluk mulai mengalir ke Mesir, secara sementara menstabilkan ekonomi Mesir dan memenangkan Sisi dukungan yang Mursi telah sia-siakan,” James Gelvin, seorang profesor sejarah Timur Tengah di Universitas California, Los Angeles, mengatakan pada Aljazeera.

“Mesir hari ini jauh lebih otoriter dari pada di bawah pimpinan manapun sejak Gamal Abdul Nasser … Di bawah Sisi, semua aktivitas opoposional telah dilarang, Ikhwanul Muslimin dilarang, dan musuh-musuh politik – baik itu Islam maupun sekular – dibunuh, dipenjarakan dan disiksa.”

Para pembela HAM, kelompok masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah (NGO) telah menjadi target, secara sistematik dipanggil untuk ditanyai, dilarang bepergian dan aset-aset mereka dibekukan. Sebuah undang-undang baru, disetujui pada Mei, mengkriminalisasi banyak aktivitas NGO dan menempatkan mereka di bawah pengawasan langsung badan keamanan negara itu.

“Di bawah kepemimpinan Mubarak, tidak banyak terdapat ruang untuk perbedaan pendapat, tetapi ada garis merah yang jelas,” Yerkes mengatakan. “Rakyat kebanyakan bisa melakukan bisnis mereka, selama mereka tidak mengkritisi Mubarak, Islam atau pun pasukan keamanan. Hari ini, tidak seorangpun aman. Pemerintah pecah, jadi tidak ada garis kekuasaan yang jelas, dan siapapun dapat menjadi target rezim kapanpun.” (bersambung)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:arab springDaeshHusni MubarakIkhwanul MusliminIslamic State of IraqJenderal Abdul Fattah Al SisiKebijakan Timur Tengahkudeta militerMesirMohammad Mursi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Golden Age Challenge
Tulisan selanjutnya Permendikbud “Hari Sekolah”, MUI Berharap Pemerintah Tak Buru-buru Memberlakukannya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?