Hidayatullah.com-Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan pada tengah malam di Baghdad yang membunuh jenderal tinggi Iran, Qassem Soleimani pada 3 Januari. Soleimani adalah orang terkuat kedua di Iran, setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dia juga berperan dalam penyebaran pengaruh Iran di wilayah Timur Tengah.
Serangan itu terjadi menyusul milisi Kataib Hizbullah dukungan Iran menyerang Kedutaan AS di Iraq pada 31 Desember. Kataib Hizbullah didirikan oleh Abu Mahdi al-Muhandis, penasihat Soleimani yang juga terbunuh dalam serangan AS.
Trump memerintahkan serangan tanpa persetujuan Kongres atau tanpa otorisasi penggunaan kekuatan militer terhadap Iran dan banyak pakar mengatakan mereka khawatir pembunuhan ini dapat memicu kekerasan yang lebih luas dan eskalasi militer. Iran mengancam akan membalas keras, dan pada Jumat AS mengerahkan ribuan tentara tambahan ke wilayah sekitar Iran.
Meskipun ada beberapa periode kerja sama, AS dan Iran telah lama mengalami konflik. Memang, keadaan darurat nasional AS terpanjang saat ini menyangkut Iran dikeluarkan oleh mantan Presiden Jimmy Carter pada tahun 1979. Tetapi keterlibatan paling signifikan AS terjadi pada tahun 1953, ketika AS mendalangi kudeta untuk menggulingkan perdana menteri Iran.
Berikut lini masa peristiwa-peristiwa besar dalam hubungan AS-Iran.
Baca: Arab Saudi Khawatir akan Menjadi Target Selama Krisis AS-Iran
1953: Kudeta
Badan intelijen Inggris dan AS mengatur sebuah kudeta, menggulingkan Perdana Menteri yang terpilih secara demokratis Mohammed Mossadegh dan memberikan kekuasan kepada Shah Mohammed Reza Pahlevi. Sebagai perdana menteri, Mossadegh bekerja untuk menasionalisasikan minyak Iran terhadap kepentingan Inggris, yang telah mengeksploitasi sumber daya negara itu selama berdekade. Gagal mengubah keinginan Mossadegh, Inggris berupaya menyingkirkannya, meminta dukungan AS. Dengan bantuan beberapa orang penting Iran, mereka melancarkan kampanye propaganda melawan perdana menteri dan membujuk Shah untuk ikut serta dalam kudeta. Akhirnya, kudeta itu dinilai Washington sebagai sebuah kesuksesan – tetapi menabur kebencian yang kuat dan ketidakpercayaan terhadap AS, dan mengarahkan Iran dari demokrasi menuju kediktatoran.
1957: Kerja sama nuklir
AS dan Iran menandatangani Kerja Sama Mengenai Penggunaan Sipil Atom, sebuah kesepakatan kerja sama nuklir sipil, melalui program Atom untuk Perdamaian. Inisiatif Presiden AS Dwight Eisenhower itu, program ini berbagi teknologi nuklir dan pendidikan dengan negara-negara di seluruh dunia – termasuk Israel, Pakistan dan Iran. Program ini memberi Iran landasan untuk program nuklirnya saat ini, yang dianggap kontroversial.
1959: Penelitian nuklir
Reza Shah Pahlavi membuka Pusat Penelitian Nuklir Teheran di Universitas Teheran dan mulai mencari material dan teknologi dari AS.
1967: Bahan-bahan nuklir
AS menyediakan Iran dengan sebuah reaktor nuklir lima-megawatt dan bahan bakar uranium yang diperkaya.
1968: Non-proliferasi nuklir
Iran termasuk negara yang menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir, disahkan pada tahun 1970. Sebagai imbalan atas komitmen untuk tidak memperoleh senjata nuklir, Iran diijinkan untuk mempertahankan program nuklir sipilnya.
1963-1973: Pertumbuhan selama sedekade
Setelah kudeta, AS menggelontorkan sumber dayanya ke dalam Iran, menopang kekuatan militer dan politiknya. Selama satu dekade, Iran menikmati pertumbuhan ekonomi yang mengesankan pada tahun 1960an dan 70an. Namun otokrasi Shah juga ikut bertumbuh, didukung oleh polisi rahasianya yang terkenal, SAVAK, yang dilahirkan dari pelatihan CIA.
Pada tahun 1972, Presiden AS Richard Nixon mengunjungi Shah untuk memintanya menjamin kepentingan keamanan AS di wilayah, memungkinkan Iran untuk membeli sistem persenjataan apapun yang diinginkannya sebagai imbalan. Perang Arab-Israel 1973 membuat harga minyak melonjakl, Shah membeli persenjataan berteknologi tinggi dalam jumlah besar. Para pejabat AS merasa gelisah namun tidak mempunyai rencana alternatif.
Di latar belakang, kebencian terhadap Shah – dan AS – sedang dibangun melalui khutbah. Ayatollah Ruhollah Khoemeni adalah kunci dari oposisi relijius ini dan dikirim ke pengasingan paksa pada tahun 1964, dan akhirnya menetap di Iraq. Tetapi dia terus berkhutbah menentang Shah dan AS; khutbahnya diselundupkan ke dalam Iran. Pemerintah AS saat itu tidak menganggap serius oposisi relijius ini – yang terbukti merupakan kesalahan serius.
1977-1978: Kunjungan Carter
Carter mengunjungi Iran pada Malam Tahun Baru, bersulang dengan Shah dan memperlihatkan bagaimana tidak tersentuhnya Amerika dengan kenyataan di lapangan. “Iran, karena kepemimpinan hebat Shah, adalah sebuah pulau keseimbangan di salah satu wilayah bermasalah di dunia,” kata Carter. “Ini adalah penghargaan besar untuk anda, Yang Mulia, dan untuk kepemimpinan anda, dan untuk rasa hormat dan kekaguman dan cinta yang rakyat anda berikan kepada anda.”
Dalam beberapa hari, demonstrasi pertama yang akan memuncak menjadi revolusi dimulai. Sebuah gerakan rakyat dengan daya tarik yang luas muncul dengan Khomenei sebagai pemimpinnya.
September 8, 1978: Jumat Hitam
Tentara pemerintah melepaskan tembakan kepada para demonstran di Lapangan Jaleh di pusat kota Teheran. Ratusan orang terbunuh. Amerika dialihkan oleh Pertemuan Camp David terkait Perang Arab-Israel dan tidak dapat berbuat banyak untuk membendung momentum revolusi ini.
1979: Revolusi Iran
Pada 16 Januari, 1979, Shah mengumumkan dia meninggalkan Iran untuk berlibur. Rakyat Iran bereaksi seolah-olah itu adalah akhir masa pemerintahannya. Sebelum pergi, dia menunjuk Shapour Bakhtiar dari oposisi sebagai perdana menteri. Tetapi rakyat Iran terus melakukan demonstrasi massal mereka.
Dari Prancis, Khomeini berbicara tentang rencananya untuk sebuah republic Islam. Pada 1 Februari, 1979, hanya beberapa minggu setelah kepergian Shah, Khomeini kembali ke Iran untuk bergabung dengan jutaan pendemo di jalan. Dalam beberapa hari, kaum revolusioner mengendalikan militer, kementrian dan media. Republik Islam Iran menjadi resmi pada 1 April, setelah referendum yang sangat populer.
1979-1981: Krisis penyanderaan Iran
Setelah revolusi brutal, AS dan Khomeini memilih perdana menteri, Medhi Bazargan yang relatif moderat, untuk memperbaiki hubungan. Tetapi pada musim gugur 1979, Carter mengijinkan Shah – yang sedang sekarat karena kanker – untuk mendapatkan perawatan medis di AS. Meskipun meyakinkan itu adalah gestur kemanusiaan – bukan politik – orang Iran yang mendukung revolusi takut akan konspirasi baru antara AS dan Shah.
Pada 4 November, 1979, segerombolan mahasiswa menyerbu kedutaan AS di Teheran, menyandera 66 diplomat dan marinir Amerika. Khoemeini mendukung para penyandera, tetapi 13 diantaranya dibebaskan tidak lama setelah itu, kebanyakan wanita dan Afrika-Amerika – mereka yang Khomeini katakan sudah menghadapi “penindasan masyarakat Amerika.” Seorang lainnya dibebaskan karena alasan kesehatan. Para mahasiswa menuntut AS menyerahkan Shah untuk diadili dan mengancam mengadili para sandera. Mengkhawatirkan kudeta lain, salah satu tujuan mereka adalah untuk mensabotase hubungan antara Teheran dan Washington.
Carter menjatuhkan sanksi atas Iran dan membekukan $12 miliar aset Iran. Dia mengajukan banding ke PBB, tetapi kecaman internasional tidak banyak mempengaruhi situasi. Pada April, lima bulan setelan kedutaan diduduki, Carter mengakhiri langkah diplomati. Sebuah misi penyelamatan yang dilakukan AS gagal, menewaskan delapan Amerika.
Pada Januari 1981, Carter mengumumkan bahwa AS dan Iran telah sepakat untuk penyelesaian. Tetapi krisis penyanderaan telah merusak kepresidenan Carter. Sandera Amerika terakhir dibebaskan pada hari pelantikan Presiden AS Ronald Reagan setelah 444 hari dalam penahanan. Iran menjadi sebuah negara pariah.
Baca: Pejabat Tinggi Iran: Pembalasan Iran akan Menarget Situs Militer
1980-1988: Perang Iran-Iraq
Iraq, yang berharap memanfaatkan kekacauan di Iran, memulai perang pada tahun 1980. Sedangkan AS yang khawatir Iran akan mengalahkan Iraq dan terus mengendalikan wilayah, kemudian menyediakan Baghdad dengan intelejen dan sumber daya. Ketika Iraq menggunakan senjata kimia melawan Iran, AS mengecam tindakan itu, namun terus mendukung Saddam Hussein.
1984: Pendukung terorisme
Pemerintah AS mengidentifikasi Iran sebagai negara pendukung terorisme dan menjatuhkan sanksi berat. Dinas intelejen CIA mencatat lebih dari 60 serangan dukungan Iran terhadap AS, Prancis, dan Arab moderat pada tahun 1984, termasuk serangan terhadap Kedutaan AS di Libanon.
1985-1986: Skandal Iran-Contra
Meskipun embargo senjata, pemerintahan Reagan terus menjual senjata kepada Iran, diduga untuk memastikan pembebasan sandera di Libanon. Hasil dari penjualan itu, tanpa diketahui Kongres AS, digunakan untuk mendanai gerilyawan Contra berperang melawan pemerintah sayap kiri Sandinista di Nikaragua dalam upaya AS untuk menghentikan penyebaran sosialisme di Amerika Latin. Skandal itu kemudian dikenal sebagai Skandal Iran-Contra dan pejabat pemerintah Reagan dituduh berbohong kepada Kongres tentang upaya rahasia untuk menjual senjata ke Iran.
July 3, 1988: Pesawat penumpang ditembak jatuh
Di tengah pertempuran dengan kapal-kapal Iran di Teluk Persia, kapal perang USS Vincennes menembak jatuh Penerbangan Iran Air 655. Airbus A300 itu adalah pesawat penumpang yang mengangkut banyak peziarah dalam perjalanan mereka ke Makkah. Total 290 orang terbunuh. Amerika mengatakan pesawat besar itu dikira jet tempur F-14.
1992-1997: Diberondong sanksi
Pada tahun 1992, Kongres mensahkan Undang-Undang nonproliferasi Senjata Iran-Irak, menjatuhkan sanksi atas barang atau teknologi yang dapat digunakan pada persenjataan canggih. Pada 1996, Kongres meloloskan Undang-Undang Sanksi Iran-Libya, nantinya dikenal sebagai UU Sanksi Iran, menghukum investasi di industry perminyakan Iran. Pada pertengahan 1990an, Presiden AS Bill Clinton mengeluarkan perintah eksekutif yang semakin memperlebar sanksi dan secara umum melarang pertukaran barang dan benda antara AS dan Iran.
1997-2000: Tanda perubahan?
Ulama reformis Syiah Mohammed Khatami terpilih menjadi presiden di Iran pada Mei 1997, peristiwa yang Clinton sebut “penuh harapan.” Para reformis Iran terus memperoleh suara dalam pemilu. Menteri Luar Negeri Madeline Albright dalam pidatonya tahun 2000, mengakui peran AS dalam kudeta 1953 dan kebijakan luar negeri “tidak bijaksana” di wilayah itu, serta mengumumkan langkah-langkah untuk memungkinkan sejumlah perdagangan. Tetapi kelompok garis keras di Teheran menolak tawaran Albright dan inisiatif Clinton yang gagal.
2001-2002: 9/11 dan ‘Poros Jahat’
Setelah serangan teroris di AS, pemerintahan Bush membangun jaringan belakang dengan Iran melawan musuh bersama: Taliban. Tetapi pada 2002, Presiden AS George W. Bush memasukkan Iran sebagai bagian dari “Poros Jahat” dalam pidato kenegaraan tahunannya. Nantinya, para penyelidik internasional memastikan Iran memiliki uranium yang diperkaya. Iran mengatakan itu digunakan untuk kemampuan energi, bukan persenjataan.
2000an: Negosiasi nuklir dan sanksi
Dekade berlanjut dengan negosiasi internasional dan sanksi terhadap Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Pada 2006, Washington mengatakan pihaknya bersedia untuk bergabung dengan perundingan nuklir multilateral dengan Iran jika negara itu menghentikan pengayaan nuklirnya.
2009: Obama menjabat
Presiden AS Barack Obama menjabat dan memberi tahu para pemimpin Iran bahwa dia akan mengulurkan tangan jika mereka akan “melepaskan kepalan tangan mereka” dan membujuk Barat bahwa mereka tidak akan berupaya membangun bom nuklir. Inggris, Prancis dan Amerika Serikat mengumumkan bahwa Iran sedang membangun situs pengayaan uranium rahasia di Fordow, dekat kota Qom. Iran mengatakan pihaknya membuka akses situs itu kepada pengawas nuklir PBB pada awal minggu.
2009-2012: Tertunda
Negosiasi nuklir antara negara-negara besar dan Iran sebagian besar macet.
2012-2013: Penurunan ekonomi dan peningkatan negosiasi
Undang-undang AS yang berlaku memberikan Obama kekuatan untuk menghukum bank-bank asing, termasuk bank sentral sekutu AS, jika mereka gagal mengurangi impor minyak Iran mereka. Hasilnya adalah pengurangan drastic dalam penjualan minyak Iran dan penurunan tajam ekonomi Iran.
Pejabat AS dan Iran mulai melakukan pembicaraan rahasia, yang semakin intensif pada 2013, terkait nuklir.
Hassan Rouhani yang pragmatis terpilih sebagai presiden Iran dengan platform peningkatan hubungan Iran dengan dunia dan ekonominya, sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan mengurangi sanksi. Pada 28 September, Obama dan Rouhani berbicara melalui telepon dalam hubungan level paling tinggi antara kedua negara dalam tiga dekade.
Pada 23 November, dengan landasan yang diletakkan oleh perundingan rahasianya dengan AS, Iran dan enam negara besar mencapai perjanjian sementara bernama Rencana Aksi Bersama (JPOA) di mana Iran setuju untuk membatasi pekerjaan nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi terbatas. Enam negara itu adalah Amerika Serikat, Inggris Raya, China, Prancis, Jerman dan Rusia.
2015: JCPOA
Pada 14 Juli, Iran dan keenam negara mengadakan perjanjian, di mana Iran setuju untuk mengambil serangkaian langkah, termasuk memangkas jumlah sentrifugalnya dan melucuti bagian penting dari reaktor nuklir Araknya – sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi AS, PBB dan Uni Eropa.
Kesepakatan itu disebut Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA).
2016: Sanksi dicabut
Pada 14 Januari, Iran melepaskan 10 pelaut AS, yang berakhir di wilayah perairan Iran dengan dua kapal kecil, kurang dari 24 jam setelah Iran menahan mereka. Pada 16 Januari, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan pertukaran tahanan. Empat tahanan WN Amerika yang ditahan di Iran dibebaskan dengan imbalan grasi untuk tujuh WN Iran, yang sebagian besar warga negara ganda AS-Iran, yang dihukum atau menunggu persidangan di Amerika Serikat. Warga negara Amerika kelima dibebaskan secara terpisah.
Kemudian, Badan Energi Atom Internasional mengonfirmasi Iran telah mengambil langkah-langkah untuk membatasi aktivitas nuklirnya seperti yang disyaratkan dalam JCPOA. Amerika Serikat mencabut sanksi Iran terkait nuklir.
2017: Pemerintahan Trump
Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya di Riyadh, Arab Saudi, mengatakan Iran bertanggungjawab terhadap ekstremisme global. Itu adalah kunjungan luar negeri pertamanya sejak menjabat.
2018: Trump berpaling dari kesepakatan Iran.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan dia akan meninggalkan kesepakatan nuklir Iran dan kembali menjatuhkan sanksi yang melumpuhkan. Trump mengatakan kesepakatan itu tidak membatasi program rudal balistik Iran atau agresi regionalnya.
2019: Agresi Iran tidak terkendali
Pada April, AS menunjuk Korps Garda Revolusi Iran sebagai “organisasi teroris.”
Pada Mei, tepat satu tahun setelah Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran, Iran mengumumkan pada hari Rabu bahwa mereka akan melonggarkan pembatasan yang dijatuhkan pada program nuklirnya.
Di sepanjang musim semi dan musim panas, Iran melancarkan serangakaian serangan terhadap kapal tanker minyak di wilayah Teluk Persia. Negara itu juga diyakini berada di balik serangan instalasi minyak di Arab Saudi pada September.
Pada Desember, serangan di markas militer AS di Iraq membunuh seorang WN Amerika. AS menyalahkan milisi dukungan Iran di Iraq, dan menembak markas-markasnya sebagai pembalasan.
Milisi dukungan Iran melakukan demonstrasi di luar Kedutaan AS di Baghdad, menyerbu pos keamanannya.
3 Januari, 2020: Komandan terbunuh
Trump memerintahkan serangan udara yang membunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani tanpa persetujuan kongres.*
Jeb Sharp dan Shirin Jaafari berkontribusi dalam pelaporan. Reuters berkontribusi pada laporan ini
Catatan Editor: Versi sebelumnya mencatat 55 sandera yang dibebaskan setelah pembatalan Reagan; 52 sandera ditahan selama 444 hari dan dibebaskan ketika Reagan memasuki Gedung Putih. Lainnya dibebaskan sebelumnya.*