Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Roma dan Kekaisaran Romawi Kuno: Saksi Pergulatan Kekristenan dan Paganisme [1]

Ahmad
Terakhir diupdate: 19 Mei 2016 16:48 4:48 pm
Ahmad
Dipublikasikan 19 Mei 2016 17:00
Bagikan
Vatikan merupakan negara-Kota terkecil di dunia yang tak bisa dipisahkan dari sejarah Roma
Bagikan

SEJARAH Kota Roma memang dapat dikatakan sangat dramatis. Berada di kawasan Lazio dan menjadi Ibu Kota dari Italia, Kota Roma, yang saat ini ditinggali oleh 2,9 juta orang, menyimpan sejuta pergolakan sejarah antara paganisme Romawi kuno (agama penyembahan terhadap berhala) dan sebuah agama yang termasuk dalam lingkup agama samawi, yakni Kristen.

Negara Kota Vatikan dengan misa agung yang sering disiarkan beberapa stasiun televisi di Indonesia juga berada persis di pusat Kota Roma.

Dikelilingi oleh dinding setinggi ± 12 meter, dengan luas tidak lebih dari 0,44 kilometer persegi dan penduduk tidak lebih dari 900 orang, Vatikan merupakan negara-Kota terkecil di dunia. Sejarah Vatikan bisa dikatakan merupakan bagian dari sejarah Roma yang tidak terpisahkan.

Sejarah awal tersebarnya Kristen di Roma sendiri dimulai dari kegiatan misionaris Paulus. Paulus awal mulanya menyebarkan ajaran kristen di Asia Kecil (kawasan Turki dan sekitarnya di masa kini) dan Yunani yang masa itu berada dibawah Romawi, sebelum akhirnya menyebarkannya ke Kota Roma.

Di masa itu penganut Kristen awal, yang mayoritas kaum miskin dan budak, menghadapi banyak ancaman penyiksaan dan bahkan kematian oleh  Kaisar dan petinggi Romawi yang masih pagan. Hanya setelah Kaisar Romawi Konstantin Agung (272M-337M) berkuasa dari tahun 306-337M, agama Kristen memasuki masa keemasannya. Konstantin secara resmi melegalkan ritual Kristen di publik pada 313M namun ia tidak pula melarang paganisme dan sejak itu gereja-geraja dibangun diseluruh pelosok negeri Romawi.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Terlepas dari sejarawan yang meragukan kekristenan Konstantin dan alasan mengapa ia begitu membela agama Kristen yang baru ini, diketahui bahwa Konstantin dibaptis sesaat sebelum meninggalnya dan ibunya Helena merupakan seorang Kristen.

Sejarawan pun tidak dapat memastikan apa model Kristen yang dianut oleh Konstantin dan ibunya. Sebagai catatan bahwa model agama Kristen pada masa awal berbeda dengan Kristen setelah zaman Konsili Nicaea.

Konsili Nicaea sendiri dilangsungkan pada tahun 325M untuk memutuskan kepercayaan orthodox Kristen bagi semua gereja. Pada masa itu terjadi perselisihan didalam Gereja Kristen Alexandria antara Pendeta Arian (250-336M) dari Alexandria Mesir yang anti-trinitas (ia meyakini bahwa Yesus adalah anak Tuhan, diciptakan tidak dilahirkan dari Tuhan Bapa, namun terpisah dari Bapa dan juga tunduk pada Bapa, dan ia menolak gagasan Yesus sebagai Tuhan Anak) dan Uskup Alexandre I (wafat 326/328M) dan Pendeta Athanasius (296-373M) juga dari Alexandria Mesir (keduanya meyakini bahwa Yesus adalah dilahirkan tidak diciptakan, Anak Tuhan dari zat Bapa, menyatu dengan Bapa dan juga sebagai Tuhan).

Konsili Nicaea sendiri akhirnya mengokohkan pandangan yang terakhir ini dan menegaskan juga bahwa Tuhan Anak dan Bapa selalu abadi bersama-sama dan tidak ada zaman ketika Anak tidak bersama bapa, dan menolak pandangan bahwa Anak dapat binasa atau berubah, melainkan selalu sempurna.

Konsili Nicea1
Jikalau ajaran Arian yang diunggulkan dalam sidang Konsili Nicaea tentulah wajah Kristen lebih mirip dengan ajaran Islam

Menjelang akhir masa kekuasaannya, Konstantin diketahui memerintahkan penghancuran beberapa kuil-kuil didalam wilayah kekuasaannya.

Adalah putranya Konstantius II yang membuat hukum anti-Pagan yang tidak hanya menutup seluruh kuil  paganisme bahkan melarang ritual Pagan dengan ancaman hukuman mati. Persekusi terhadap pagan sempat berkurang dari tahun 361-375M dibawah Kaisar Jovian, Valentinian I, dan Valens, namun mencuat kembali setelah itu dibawah kepemimpinan Uskup Ambrose dari Milan. Kaisar Theodosius bahkan menerbitkan “dekrit Theodosian” yang menyatakan perang terhadap paganisme, yang kembali melanjutkan persekusi dan pelarangan terhadap ibadah di kuil-kuil pagan.

Sekilas sejarah kekaisaran Romawi ini mengisahkan kepada kita pentingnya arti kekuasaan bagi penyebaran agama. Kristen yang datang dengan terinjak-injak di dalam kekaisaran Romawi akhirnya mencuat dan unggul sebagai agama kekaisaran dan bahkan berbalik melakukan persekusi yang lebih sistematis terhadap kaum pagan.  Relasi kekuasaan terhadap agama didalam gereja Kristen juga berpengaruh besar dalam membangun standar orthodoxy. Jikalau ajaran Arian yang diunggulkan dalam sidang Konsili Nicaea tentulah wajah Kristen sangatlah berbeda pada masa kini dan mungkin ajaran kristen akan lebih dekat dengan ajaran Islam yang berlandaskan Tauhid atau Keesaan Allah Subhanahu Wata’ala.

Namun sejarah konsili mencatat bahwa dari pekiraan sekitar 250 hingga 318 hadirin pada sidang konsili tersebut, hanya dua orang yang mendukung Arian. Dua orang ini bersama Arian akhirnya diasingkan ke Illyria yang terletak dikawasan Balkan sekarang.

Perkembangan Kristen yang kemudian menjelma menjadi sebuah agama kekaisaran dan mengawali persekusi terhadap kaum pagan tidak berarti bahwa unsur-unsur ajaran Kristen terlepas dari pengaruh pagan.*/Ady C. Effendy, kandidat doktor, pemerhati peradaban dan agama. Bahan diambil dari berbagai sumber

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ItaliaKonsili NiceakristenLaziopaganismPaulus Kaisar Konstantin AgungRomaRomawivatikan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid di Geelong Australia Dibakar Orang Tak Dikenal
Tulisan selanjutnya Jimly Desak Hakim Komitmen Berantas Pelaku Kejahatan Seksual

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?