Hidayatullah.com–Kasus-kasus terorisme yang terjadi di Indonesia belakangan ini mirip dengan Komando Jihad (KOMJI) yang mencuat pada tahun 80-an. Demikian dikatakan Busyro Muqaddas, salah satu pimpinan Muhammadiyah, pada hidayatullah.com beberapa waktu lalu di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta.
Modus-modusnya Komji, lanjut Busyro, juga ada pada isu terorisme sekarang.
“Ada baiat, ada perampokan untuk mengumpulkan dana, ada isu Negara Islam, ada keaatan dan loyalitas kepada pimpinan tertinggi atau imam,” jelas Busyro.
Menurut Busyro, KOMJI adalah rekayasa negara yang diotaki oleh Ali Moertopo. Tujuannya untuk melemahkan potensi politik umat Islam yang dianggap bisa mengganggu kekuasaan Soeharto. “Sayangnya, mereka (KOMJI) tak sadar telah terjebak pada skenario intelijen,” kata Busryo.
Ali Moertopo dikenal sebagai salah satu arsitek Orde Baru. Ia seorang pemikir, tokoh intelejen dan juga politikus. Sebagai pemikir ia mendirikan CSIS, lembaga think tank-nya Orde Baru yang hingga kini masih eksis.
Sebagai intelegen Ali pernah menjabat Wakil Kabakin (Badan Koordinasi Intelejen Negara). Jabatan terakhir pria kelahiran Blora ini adalah Menteri Penerangan.
Di KOMJI Ali banyak merekrut orang-orang yang dulu terlibat dalam kasus Daruul Islam (DI). Ali yang membentuk Komji, Ali pula yang membenturkan dengan Soeharto. Demikian kata Busyro. Waktu itu KOMJI dituding ingin menyungkil kekuasaan Soeharto.
Busyro yang waktu itu menjadi dosen hukum di UII terjun sebagai pembela para terdakwa KOMJI. “Saya mendampingi mereka sampai kasusnya selesai,” kata Busyro.
Busyro juga melakukan penelitian intensif kasus yang sempat memojokkan umat Islam ini. Dari penelitian ini ia kemudian menulis buku berjudul “Dominasi Rezim Intelejen.”
Dalam penelitian itu, Busyro mengaku sempat langsung mewawancarai mantan Kabakin Letjen Soetopo Yuwono. Busyro juga bertemu langsung dengan Sudomo tiga kali. Sudomo adalah tangan kanannya Soeharto, di antaranya ia pernah menjadi Pangkokamtib (Panglima Komando Pemulihan dan Ketertiban).
Berdasarkan data penelitiannya, Busyro dengan tegas menyatakan, “Komji itu kejahatan intelijen negara.” Bagaimana dengan kasus terorisme sekarang, apakah ini juga rekayasa?
Mantan Komisiner KPK ini curiga begitu. “Jangan-jangan begitu, untuk memperalat umat Islam lagi,” katanya.
Ada yang aneh di mata Busyro, Presiden sudah berganti 4 kali dan Kapolri berganti 5 kali, tapi masalah terorisme tak perna selesai. “Ada apa ini?” katanya curiga.
Belum lama ini mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini pernah meluncurkan sebuah buku berjudul “Hegemoni Rezim Intelijen” yang merupakan disertasi atau karya ilmiah Busyro untuk tugas akhir program doktor di Universitas Islam Indonesia (UII).
Kesimpulan buku itu menjelaskan bahwa isu “terorisme’ di Indonesia tidak akan pernah selesai. Semua ini karena para pelakunya itu sendiri sengaja dipelihara.
Baca lengkapnya dalam wawancara 7 halaman di Majalah Suara Hidayatullah edisi April 2016]