SIKAP memperlakukan tetangga dengan baik sangat mengakar pada hati (kesadaran) seorang Muslim dan merupakan salah satu dari wajah yang sangat membedakan dengan pihak lain. Seorang Muslim sejati yang tumbuh atau diasuh oleh Islam, melakukan penerapan ajaran-ajarannya. Ia tidak dapat menjadi apa-apa, selain menjadi sahabat dan tetangga terbaik.
Ia adalah salah satu dari yang digambarkan oleh Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam:
“Sahabat terbaik dalam pandangan Allah adalah orang yang menjadi yang terbaik bagi sahabat-sahabatnya, dan tetangga terbaik dalam pandangan Allah adalah orang yang menjadi yang terbaik bagi tetangga-tetangganya.”
Islam mencatat bahwa seorang tetangga yang baik adalah orang yang kehadirannya menjadi sumber kenyamanan, kedamaian, dan rasa aman, sebagai salah satu nikmat bagi kehidupan seorang Muslim. Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam menyebutkan, menjadi tetangga yang baik merupakan salah satu pilar (tiang) kebahagiaan sebuah kehidupan Muslim:
“Di antara hal-hal yang membawa kebahagiaan bagi seorang Muslim dalam kehidupan ini adalah seorang tetangga saleh, sebuah rumah yang lapang, dan sebuah perbuatan baik.”
Salaf mengungkapkan nilai kebaikan memiliki tetangga yang baik, sehingga begitu banyak di antara mereka menganggap bahwa memiliki seorang tetangga yang baik menjadi sebuah keberkahan tak terhingga.
Satu kisah dapat menggambarkan hal tersebut. Tetangga Said ibnu Al-Ash ingin menjual rumahnya seharga 10.000 dirham, dan meminta Said menjadi pembeli.
“Ini adalah harga rumahnya, namun apa yang hendak engkau berikan karena menjadi seorang tetangga Sa’id?” katanya. Ketika Sa’id mendengar hal ini, ia memberikan kepada tetangganya harga rumah dan berkata kepadanya untuk tetap tinggal di sana.* [Tulisan selanjutnya]
Dari buku It’s My Life-Hidup Saleh dengan Nilai-nilai Spiritual Islam karya Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi.