Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Allah Satukan Hati Kami di Monas [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Desember 2016 16:57 4:57 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Desember 2016 09:05
Bagikan
Monas, Stasiun Gambir, Cikini sampai Hotel Indonesia memutih oleh lautan umat Islam pada Aksi 212 di Jakarta Pusat.
Bagikan

Hidayatullah.com–HAJI Ahmad Djuwaeni menangis setelah menapaki perjalanan menembus lautan manusia. Di atas kursi rodanya, kakek berusia 82 tahun ini masih tepekur seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata berkaca-kaca. Beberapa kalinya dirinya memekikkan takbir, walau tak segagah dahulu kala.

Ada sesuatu, entah apa itu yang membuat matanya sembab, yang mengalir bak air di sungai melewati keriput di pipinya. Dengan tertatih-tatih, suara bergetar, ia membuka mulutnya seraya setengah berbisik,” saya nggak mau ketinggalan urusan begini,” katanya kepada Islamic News Agency (INA), (2/12/2016).

Berempat, bersama sang anak dan mantu, ia datang memenuhi panggilan jiwanya, walau tak lama pulang dari rawat inap. “Saya masuk ICU 4 hari, lalu 5 hari dirawat, sengaja baru bisa keluar langsung ke sini, selama fisik memungkinkan, masih bisa bergerak, meski dipaksa menggunakan kursi roda,” lirihnya.

Firmansyah sang mantu sambil mendorong kursi roda sang mertua mengisahkan bahwa justru anak-anaknya diminta untuk ikut aksi. “Sempat ada rasa khawatir, tapi tekad bapak mengalahkan rasa sakitnya, semangatnya bahkan melebihi kami,” katanya.

Kini, tak kuasa menahan haru, Haji Ahmad Djuwaeni nampak mematung berdoa khusyuk di punggung pelataran Monas. “Ya Rabb, Engkau sendiri yang memutarkan sejarah ini, kini umatMu bangkit untuk memenuhi seruanMu, Engkau perlihatkan doa yang terus hamba panjatkan tiap malam, agar umat Islam Indonesia bangkit,” lirihnya.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

“Terlihat ruhud din yang selama ini antara hidup dan mati mulai bangkit,” khusyuk. Tak terasa air mata tertumpah, bagi siapa yang melihatnya menangis berdoa. Di pengujung senjanya, ada rasa yang bercampur aduk: sedih, senang, haru, gembira: rasa yang tak tergambarkan.

Yang mengaduk-aduk rongga dada, naik perlahan ke atas, dengan nafas yang tak beratur, berkumpul di sudut mata hingga gerimis itu tak hanya dari atas langit, gerimis itu turun dari mata. Dan lihatlah, kini seorang kakek di pengujung usia senjanya, datang walau tak bisa berjalan kaki.

“Saya rela meninggal dalam keadaan berhijad, ya Allah, mudah-mudahan acara ini membangiktkan untuk izzul islam dan muslimin, ya Allah kabulkanlah,” terbata-bata karena tak kuasa menahan tangis.

“Tak kuasa manusia mengumpulkan massa sebanyak ini, kalau bukan karena panggilan iman, mereka tidak akan bersusah payah ke sini,” tutupnya sambil tersenyum simpul dengan bola mata yang berkaca-kaca kering sudah tangisnya keluar.

Aksi Bela Islam selalu memberikan kesan tersendiri bagi siapa pun yang pernah mengikutinya, meskipun mewujud dalam variasi yang kadang sulit diungkapkan dan dijelaskan dengan kasatkata. Tak pernah terbayang memang, bagaimana ribuan orang rela berpeluh, mengadu nyawa, berjalan kaki dari Ciamis hingga Jakarta. Sebagaimana dilakukan Haji Nonof bersama santrinya rela jalan kaki hingga tindakannya memberi inspirasi banyak orang di seluruh Indonesia.

”Pelarangan-pelarangan tidak akan menyurutkan langkah kami,” ujar Ketua Kafilah Ciamis, Haji Nonof Hanafi saat tiba di Bandung setelah menyusur 120 KM melewati malam-malam panjang.

Luar biasa. Perjalannya menuju Jakarta telah membuat ribuan orang di setiap perjalanan memberikan simpati dan applaus. Tak sedikit  tangisan warga tumpah ruah meluber sepanjang jalan yang menyambut bak pahlawan besar.

Pantauan INA dalam perjalanan, dari balik kaca jendela, di sudut sekolah, selama jalan mereka lalui dalam perjalanan menuju Jakarta disambut tangis haru seraya melambaikan tangan.

Warga menyambutnya degan tulus. Ada yang membawakan setandan pisang, sekarung bonteng (timun), hingga keresek berisi buah-buahan yang baru dipanen dari kebunnya.

Sambutan tumpah ruah, bak mengiringi pasukan perang. Hadiah bunga, air mineral, sendal, dan lainnya, ada yang bangga menenteng karton coretan tangan pesan sambutan mereka: “Selamat Berjuang Para Pembela al Quran”.

Berbondong masyarakat merindu. Tak usah tanya sebanyak apa makanan yang menggunung hingga puluhan truk, kekuatan hati telah menggerakkan mereka. ”Mereka adalah para pembela al Quran, apapun akan kita lakukan oleh mereka,” kata seorang warga Bandung sambil menangis.

Setiap kafilah melewati warga, selalu saja air mata tak bisa tertahan. Bak pahlawan – dan memang pahlawan-, sorak takbir mengiringi perjananan menuju Cianjur hingga akhirnya mereka bisa tiba di Jakarta tanggal 2 Desember 2016, sekira pukul 09.00. Sekarang, kita akan melihat pemandangan yang begitu dramatis.

Detik-detik ketika mereka melewati Thamrin hingga menembus lautan manusia di kolam Bundaran Bank Indonesia hingga masuk ke Monas. Satu per satu wajah coklat yang tersengat sinar mentari ini tiba. Wajah yang didominasi para belia.

Menyipit matanya, tetiba saja air mata tertumpah ruah.Tangis pecah bersedu-sedu.

“Huuuu….uuu…uu,” suara massa menangis sesenggukan tak bisa berhenti. Sebagian jurnalis, sambil menyorot mereka dengan kamera SLRnya tak kuasa menahan air mata  yang sudah mengucur deras melewati dagunya. ”Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar..saudara kita dari Ciamis telah tiba,” menggemuruh.

Hujan yang Mengagumkan pada Aksi Super Damai 212

Semua larut dalam haru. Semua tergugu. Kafilah Ciamis, hanyalah orang-orang biasa dari sudut kampung nun jauh di sana. Tapi, apa yang dilakukannya dapat menggetarkan jutaan manusia dari penjuru negeri. Sambil terus berjalan, tangis haru menemani mereka menembus lautan manusia.

Berdatangan massa, bersimpuh, segera memeluk saudara-saudara mereka: erat. Lama mematung, tangis itu kian menggedor-gedor emosi. Seorang kakek peserta jalan kaki dengan surban kumalnya menerima sekuntum bunga merah sambil mengusap sudut matanya walau ia tahu itu tak kan membuatnya berhenti menangis.

”Sunnguh! Perjuangan kalian tidak sia-sia,” histeris seorang penyambut sambil memeluk erat-keras pemuda-pemuda Ciamis yang tak seorang pun dikenalinya. Pekik takbir bercampur tangis terus berbaur mengiringi kafilah ini hingga ke panggung utama. Akhirnya, wajah yang selama ini hanya beredar di medsos, kini berbaur di antara jutaan massa aksi.

”Ciamis mengubah segalanya,” kata Riwa, seorang peserta aksi asal Riau yang rela menghabiskan sebulan gajinya agar bisa datang ke Aksi Damai Bela Islam di Jakarta.

”Kami benar-benar malu kepada mereka,” katanya. Tak hanya Riwa sendiri, mungkin kita sendiri merasakannya.”

Bola Salju Ciamis

Aksi jalan Kaki warga Ciamis telah dipilih Allah Subhanahu Wata’ala menjadi wasilah umat Islam Indonesia, apakah benar nilai-nilai Islam ada dalam hati mereka.

Alhamdulillah, tekanan, penggembosan, intimidasi dan serangkaian fitnah agar gerakan umat Islam tidak menyatu justru berbalik layaknya bola salju.

Aksi nekad sauda Muslim Ciamis berjalan kaki setelah aparat keamanan melakukan intimidasi agar mereka tidak sampai Jakarta, justru menjadi viral di media sosial (medsos).

Aksi jalan kaki mereka, melahirkan solidaritas dan simpati banyak orang sehingga mereka semakin ingin datang ke Jakarta.

”Ini adalah panggilan di sini (menunjuk dada), kami tak kan pernah rela al Quran kami dinista,” kata Irmansyah, yang datang jauh-jauh dari Balikpapan bersama kawannya yang bahkan menjual HP satu-satunya untuk bisa datang ke Jakarta.

Irmansyah dan ratusan temannya rela mencarter pesawat dan kucing-kucingan dengan aparat saat masuk ke bandara.

”Kami dari Balikpapan ingin menyuarakan agar Ahok segera ditangkap,” kata Abu Syamil.* (BERSAMBUNG)

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahokaksi bela IslamAksi Bela Islam IIIBasuki Tjahaja PurnamaMonasMonumen Nasionalpenistaan agamaUkhuwah Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketika Ahli Ilmu dan Ahli Dzikir Bertemu dan Berargumen
Tulisan selanjutnya FEBI UIN Ar-Raniry Gandeng BI Kupas Perjalanan Perbankan Syariah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?