Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Nyawa Anak dalam Keluarga Literasi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Desember 2016 10:16 10:16 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Desember 2016 10:16
Bagikan
[Foto: Syakur]
Bagikan

Oleh: Suci Ayu Latifah

 

SEMENJAK dikeluarkannya program gerakan literasi oleh mantan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, muncullah kelompok maupun aktivis pegiat literasi diberbagai kota. Tidak muluk-muluk, dua komunitas tersebut dibangun berlatarbelakang keprihatinan Indonesia yang semakin rawan itu. Kepekaan dan kesadaran masyarakat yang lemah terkait pentingnya berliterasi.

Istilah literasi, sering diartikan sebagai melek aksara atau kemampuan  membaca dan menulis. Kedua kemampuan yang menonjol itu, seakan-akan menjadi asupan sehari-hari oleh kelompok maupun aktivis literasi pada umumnya. Mereka gencar-gencarnya menyuarakan literasi sebagai bagian dari tonggak kehidupan. Tanpa literasi berarti mati—tidak berkembang, terpuruk dan terbelakang.

Literasi pada hakikatnya, pondasi proses belajar seseorang. Gerakan literasi yang telah digaung-gaungkan itu dapat mengasah rasa keingintahuan yang tinggi, mengasah kepekaan sosial, dan menambah wawasan serta keilmuan seseorang. Baik dalam bidang apapun, seperti: bidang agama, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan hukum.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Dewasa ini istilah literasi memiliki arti yang luas. Tidak hanya keaksaraan saja, melainkan bermakna ganda dan beragam. Seperti yang kita ketahui, literasi tidak cukup berdiri sendiri. Kata literasi bersanding dengan kata-kata lain, seperti: literasi informasi, literasi visual, literasi media, literasi ekonomi, literasi komputer, bahkan  ada pula literasi moral.

Bacaan Cerpen Anak Dinilai Masih Kurang

Gerakan literasi adalah  gerakan yang baik dan seharusnya digerakkan sejak dulu. Mengapa demikian? Karena berdasarkan pengamatan UNESCO 2012, tercatat indeks minat baca masyarakat Indonesia baru mencapai 0,001. Itu artinya, setiap 1.000 orang hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca. Masyarakat Indonesia rata-rata membaca buku 0-1 buku per tahunnya.

Coba perhatikan negara Jepang dan Amerika. Rata-rata masyarakat membaca 10-20 buku per tahun. Jika dibandingkan dengan negara di kawasan ASEAN yang membaca 2-3 buku per tahunnya, negara kita pun masih sangat ketinggalan (Kompas, 22/02/2016). Dengan begitu, munculnya komunitas penggerak literasi haruslah sebanding lurus dengan gerakan literasi di lingkungan keluarga.

Keluarga merupakan unit terkecil dari suatu kelompok sosial kemasyarakatan. Keluarga yang terdiri atas: ayah, ibu, anak, atau mungkin orang tua dari salah satu ayah atau ibu. Tidak perlu rumit-rumit, budaya literasi dalam keluarga cukuplah sederhana. Misalnya, seorang ibu membacakan dongeng sebelum tidur kepada anaknya. Atau, budaya membaca koran di pagi hari sambil menikmati secangkir teh atau kopi, dilengkapi dengan makanan kecil, betapa nikmatnya.

Tanpa kita sadari, aktivitas membaca yang semula terasa berat akan menjadi suatu kebiasaan yang sangat disesalkan jika tidak dilakukan. Semua anggota keluarga berebut informasi yang dikabarkan dalam media cetak, misalnya. Mereka berlomba-lomba menemukan berita atau topik yang sedang ramai diperbincangkan. Dengan begitu, terciptalah aktivitas membaca sebagai kompetisi untuk mendapatkan pemberitaan suatu bacaan lebih dulu, sebelum dibaca orang lain, atau mendapat bocoran dari orang lain. Akhirnya indikasi membaca menjadi suatu kebiasaan, sangatlah lumrah dilakukan. Seperti ungkapan Jawa “witing tresno jalaran songko kulino.”

 Kesadaran literasi dalam lingkungan keluarga, tidak  cukup berhenti pada faktor membaca saja, melainkan sikap atau tingkah laku juga bagian dari literasi. Literasi tingkah laku yang dimaksudkan adalah literasi moral. Pentingnya literasi moral keluarga memiliki kedudukan yang tinggi mengingat banyaknya kasus penyimpangan sosial di Indonesia.

Kecerdasan Literasi Ibunda Khadijah

Jangan dianggap remeh, kasus tersebut kini menjadi kasus terheboh beberapa pekan ini. Berbagai media massa memaparkan berita demikian. Dan sering kali yang menjadi korban adalah kaum perempuan. Di antaranya yang sering terjadi adalah kekerasan seksual, yakni pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan aborsi, pemerkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, penyiksaan seksual, dan perbudakan seksual (Rancangan Undang-Undang pengganti Komisi Nasional (KomNas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan).

Untuk itu, dalam rangka meminimalisir penyimpangan yang menimpal kaum perempuan (remaja) peran keluarga sangat dibutuhkan. Setiap anggota keluarga harus memiliki kesadaran untuk saling mengingatkan dan menjaga. Menghindari hal-hal yang sekiranya bersifat merugikan dirinya maupun orang lain.

Dalam hal ini, budaya literasi yang tengah buming itu sangatlah strategis sebagai sarana pembelajaran utama dalam keluarga, yaitu pembelajaran yang berkaitan tingkah laku, abad bergaul, dan lain sebagainya.  Namun yang perlu digaris bawahi, semua anggota keluarga harus bersama-sama untuk memberdayakan budaya tersebut. Jika salah satu di antara anggota keluarga tidak berliterasi, maka akan menghambat seseorang berkeinginan membangun budaya literasi.

Kesadaran berliterasi keluarga haruslah mendapatkan perhatian khusus. Tidak pun sadar, tapi terlebihlah dulu peka dan tanggap pentingnya berliterasi. Hakikatnya, literasi dalam lingkungan keluarga untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan seorang anak. Pendukung penciptaan gerakan literasi, seorang ibu yang jangkauannya paling dekat dengan anak harus berperan aktif.

Untuk itu, dalam mewujudkan keselarasan itu dibutuhan kesadaran diri, terutama dari unit terkecil kehidupan, yaitu keluarga.

Keluarga literasi adalah keluarga yang siap mengantarkan menuju perubahan besar bagi nyawa literasi anak —suatu energi masa depan yang cendekia.*

Penulis adalah mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Ponorogo

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Aliansi Cinta Keluargaibuliterasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menkopolhukam Bantah Halangi Penggunaan Media Sosial
Tulisan selanjutnya Idlib Dibanjiri Pengungsi dari Aleppo

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?