Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Rajab dan Pembebasan Individu Seorang Muslim

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 April 2017 02:00 2:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 April 2017 16:56
Bagikan
amalan bulan rajab
Bagikan

SANGAT luar biasa hafal seputar bulan ini. Kita tahu benar jika ditanya tentang keistimewaan bulan ke-7 dalam kalender Islam ini.

Paling tidak, kita tahu bahwa bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban Bulan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, dan Ramadhan bulan kita semua. Sunah mu’akkad berpuasa di bulan ini, baik 1, 3, 7, atau 16 hari telah menandaskan bahwa bulan ini sangat luar biasa.

Dan yang terpenting, bulan ini adalah bulan pembebasan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dari kungkungan ketakutan karena intimidasi dan ancaman pembunuhan dari kaum kafir Quraisy. Pembebasan itu berupa peristiwa maha akbar, yakni Isra’ Mi’raj, dalam rangka menerima perintah shalat lima waktu.

Dalam sejarah kita ketahui bahwa peristiwa ini terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, peristiwa ini terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, antara tahun 620-621 M.

Menurut allamah al-Manshurfuri, Isra’ Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 dari kenabian. Namun, pendapat umum di atas dibantah oleh sejarawan Muslim India, Syeikh Shafiurrahman al-Mubarakfuri, dengan alasan bahwa Khadijah ra., istri nabi, meninggal pada bulan Ramadhan tahun ke-10 dari masa kenabian, yakni dua bulan setelah bulan Rajab, dan saat itu belum ada kewajiban shalat lima waktu.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Baca:  Hukum Puasa Rajab Menurut Empat Madzhab

Al-Mubarakfuri menyebutkan enam pendapat seputar peristiwa ini, tetapi semua tak ada satu pun yang pasti. Dengan demikian, tak diketahui secara jelas kapan kejadian Isra’ Mi’raj berlangsung. Hanya Allah Subhanahu Wata’ala yang Maha Tahu.

Paling tidak, disepakati secara pasti bahwa peristiwa inilah yang telah melahirkan perintah shalat lima waktu, demi pembebasan mutlak dari segala unsur keduniaan, sebab Rasulullah terpanggil ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala di Shidratul Muntaha, suatu tempat yang maha suci, di mana segala kefanaan hengkang dan lenyap.

Dengan demikian, pembebasan Allah Subhanahu Wata’ala pada manusia pilihannya itu merupakan pembebasan terpenting selama ada manusia di dunia ini, dari Adam hingga kini. Rasulullah Subhanahu Wata’ala-lah bertemu dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

Terlepas dari kontravensi (untuk tak menggunakan istilah ‘kontroversi’) yang ada sepanjang zaman, apakah Rasulullah Mi’raj dengan jazad atau sebaliknya, peristiwa itu memang yang maha akbar sepanjang hidup beliau.

Moment Pembebasan Hakiki

Peristiwa maha akbar itu berlalu lebih dari 1438 tahun. Sampai detik ini kita tetap mendirikan shalat lima waktu tepat waktu, dan meyakini dengan pasti akan peristiwa tersebut. Sebab mustahil kita mendirikan shalat tanpa menyakini akan peristiwa Isra’ Mi’raj-nya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam itu sendiri. Peristiwa itu dan perintah shalat merupakan sepaket.

Jika Rasulullah terbebaskan dari segala gundah-gulana karena peristiwa itu, maka umatnya terbebaskan dari segala sesutau dengan sebab adanya pendirian shalat lima waktu. Shalat inilah yang seharusnya membuat kita merdeka secara hakiki, dan tanpa takut kepada siapapun kecuali pada Allah Subhanahu Wata’ala semata. Dengan shalat kita berkomunikasi secara langsung kepada Allah Subhanahu Wata’ala , dan dengannya, kita senantiasa merasa terbebaskan dari segala bentuk tekanan, baik materi atau pun batin.

Baca: Memanfaatkan Rajab, Siapkan Ramadhan

Sebegitu hebatnya shalat, ia oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dijuluki sebagai ‘tiang agama’. Barang siapa yang pendirian shalatnya baik, maka baik pulalah tiang agamanya.

Merasa bahwa hidup ini ruwet, membebani, dan bikin stress, maka tengoklah sejenak bagaimana shalat kita. Penulis tak usahlah mengutip pendapat para ahli kesehatan terkait dengan shalat dan kesehatan raga, atau mengutip ahli ilmu psikologi terkait dengan shalat dan kesehatan batin. Telah jelas, bahwa hanya shalat yang tepat dan benarlah yang dapat membebaskan manusia muslim dari kungkungan atau perbudakan kefanaan dunia.

Derajat pembebasan hakiki insan muslim dari segala keterpurukan hidup ini hanya terletak bagaimana kita bershalat. Pendirian shalat yang tepat dan benar akan mempunyai efek aura positif pada langkah panjang kehidupan ini. Efek positif inilah yang akan berdampak lebih luas dalam bentuk kesalehan sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh baginda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam di depan para shahabat, atau ditunjukkan oleh para shahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam di depan para tabi’in, atau ditunjukkan oleh para tabi’in di depan tabittabi’in, dan begitu seterusnya dilanjutkan oleh ulama-ulama para sholafush sholeh lainnya hingga zaman kita.

Oleh karena itulah, baginda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berkata ‘shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku bershalat’. Tanpa terkurang atau bertambah.

Baca: “Sinar Ramadhan” di Pelupuk Mata

Shalat yang tepat dan benar selain berdampak untuk memupuk kesalehan sosial, ia juga sarana mencegah perbuatan keji dan mungkar. Perbuatan keji, misalnya penistaan atas prinsip-prinsip Islam, kriminalitas dengan pembunuhan, baik pembunuhan fisik atau karakter, tak akan dijumpai. Perbuatan mungkar, misalnya mengingkari adanya Tuhan (atheis), mendukung sesuatu yang jelas-jelas dilarang oleh Allah Subhanahu Wata’ala, atau membangkang kepada aturan Syariah secara luas, tak akan dijumpai pula.

Dengan shalat yang tepat dan benar kehidupan ini akan berjalan sesuai dengan kefitrahan hakiki kemanusiaan itu sendiri.

Kelastarian hidup manusia muslim untuk menuju harkat yang bermartabat, penuh bijak bestari hanya dapat ditempuh dengan shalat lima waktu, tanpa mengecilkan arti penting dari rukun-rukun Islam lainnya. Shalat bagi seorang muslim adalah standar ukuran kesalehan hidupnya. Memperbaiki shalat sesuai dengan aturan yang Rasulullah canangkan, sebenarnya memperbaiki standar hidup manusia muslim itu sendiri. Melalaikan shalat, atau bahkan menganggapnya perilaku sia-sia, sebenarnya telah menjerumuskan kita sendiri pada jurang kehancuran itu sendiri. Selamat memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Wallahu A’alam.*/Ahmad Muhli Junaidi

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bulan RajabPuasaRajabRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Myanmar Tutup Tiga Kamp di Rakhine
Tulisan selanjutnya Arab Saudi akan Bangun Kota Hiburan Ramah Syariah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?