Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

“Terasa Ukhuwah Islamiyahnya Walaupun Berbeda Ormasnya”

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 6 Mei 2017 19:35 7:35 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 6 Mei 2017 15:00
Bagikan
Bendera tauhid raksasa dibentangkan pada Aksi 55 di Makassar, Sulsel, Jumat (05/05/2017).
Bagikan

KISAH-kisah seputar kesan mendalam dari Aksi Simpatik 55 atau Aksi 55 kemarin banyak berserakan dan dirasakan para pelaku aksi tersebut. Termasuk yang diungkapkan oleh mahasiswa di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini.

Wanuzulan, 24 tahun, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar ini menceritakan pengalaman pribadinya mengikuti Aksi 55 di Kota Daeng itu.

Awalnya, setelah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI secara resmi mengumumkan akan menggelar Aksi Simpatik 55 di Jakarta, maka Makassar pasti tidak ketinggalan, pikirnya saat itu.

Rupanya prediksinya benar. Malam Jumat kemarin, di suatu tempat seperti biasa digelar taklim rutin oleh salah satu ustadz senior sekaligus Ketua STIBA Makassar.

Baca: Bu Haji Traktir Massa Aksi 55, Penjual Gratiskan Es Krim

Pada taklim itu, hadir berbagai aktivis Islam tingkat Makassar, serta dari luar kota, seperti Gowa, Maros, bahkan dari Bulukumba dan Bantaeng. Di sinilah komando untuk turun Aksi 55 disampaikan setelah taklim tersebut.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

“Dan alhamdulillah, ketika komando dari atas sudah turun, maka kita hanya menjalankan perintah tersebut dengan semangat,” ungkap Nuzulan, pria berdarah Bugis asal Sebatik, Kalimantan Utara ini.

Ia pun sudah bersiap-siap. Dengan semangat yang masih terpatri dalam hati, dari Spirit 212 yang terus dipekikkan para ulama dan dai seantero Indonesia. Pagi itu, Jumat (05/05/2017) kemarin, seluruh mahasiswa yang telah diamanahkan untuk turun dalam Aksi 55 mendapat instruksi oleh korlap internal.

“Sudah selesai pelajaran di kelas, semua langsung ke lapangan untuk kumpul dan langsung berangkat ke Masjid Raya Makassar,” ungkapnya dalam obrolan ringan dengan hidayatullah.com. Masjid tersebut merupakan titik kumpul massa Aksi 55 Makassar.

Bersama teman-temannya, Wanuzulan pun berangkat. Awalnya berjalan lancar. Namun, dalam perjalanan ke Masjid Raya, ada sedikit hambatan.

“Mobil pete-pete kami sempat ada masalah kebocoran ban,” ungkapnya. Pete-pete adalah sebutan untuk angkutan kota (angkot) di Makassar.

Beruntung sang supir sigap, langsung mengambil peralatan dan dengan cekatan mengganti ban bocor dengan serepnya. “Kira-kira 10 menitan, ban pun selesai diganti,” ungkapnya. Perjalanan dilanjutkan.

Baca: Aksi 55 di Makassar, Ribuan Massa Tuntut Ahok Dihukum secara Adil

Dalam aksi yang berlangsung dari Masjid Raya hingga ke depan gedung Pengadilan Negeri Makassar itu, Wanuzulan menyaksikan pemandangan menyejukkan.

Aksi menuntut keadilan hukum atas kasus penistaan agama oleh terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini dirasa bukan sebatas aksi unjuk rasa.

Aksi 55 seakan terasa sebagai ajang “reunian”, ajang berbagi, dan ajang kepedulian. Banyak ia saksikan orang-orang dermawan membagi-bagikan makanan dan minuman kepada massa.

“Makanan datang dari para donatur yang tidak dikenal, perorangan, bahkan kelompok ibu-ibu memakai niqab, dan membagi-bagikan minuman juga makanan,” ungkap mahasiswa semester 2 Program Kaderisasi Ulama (PKU) STIBA Makassar atau setara dengan semester 6 syariah ini.

Setahu Wanuzulan, setiap ormas pasti ada yang bertugas membawa makanan untuk jamaahnya. Namun rupanya untuk semua kalangan.

“Saya dapati ibu-ibu sama bapak-bapak memakai (sepeda) motor membawa dua kantong kresek besar, membagi-bagikan nasi bungkus, dan ana (saya) dapat bagian juga, jadi ke pojokan makan,” ujarnya lantas tertawa.

Sebagian orang juga membagi-bagikan pesan soal inti tuntutan dari aksi itu, lewat kertas-kertas bertuliskan, “Tangkap Ahok penista agama!”, “Tegakkan keadilan!”.

Untuk pelepas dahaga, jangan ditanya lagi, ungkapnya. Setiap sudut lokasi aksi ia dapati air minum gratis ditaruh di jalan-jalan dan di tempat-tempat banyak orang berada.

Asyiknya lagi, mereka yang tampaknya tulus berbagi itu tak melihat latar belakang peserta aksi yang berlangsung di bawah komando Forum Persatuan Umat Islam Bersatu (FUIB) Sulsel itu.

Wanuzulan dan peserta Aksi 55 lainnya di Makassar. [Foto: IST]
Saat longmarch pun, Wanuzulan mengaku di samping kanan-kirinya sudah bukan teman dekatnya lagi, tapi bercampur baur dengan “kawan-kawan baru” sesama umat Islam dari berbagai kelompok. “Kita berjalan bersama dengan damai,” ungkapnya.

Suasana itu ia rasa menyejukkan sanubarinya. “Adem pastinya,” aku pria ramah senyum ini.

Dalam aksi ini, ungkapnya, massa datang dari berbagai elemen masyarakat dan ormas-ormas Islam. Seperti Muhammadiyah, Front Pembela Islam (FPI), Laskar Pemburu Aliran Sesat, Wahdah Islamiyah, Hidayatullah, HTI, dan lain sebagainya.

Semua itu berbaur dalam satu komando. Wanuzulan pun menggambarkan suasana Aksi 55 itu dalam sebuah kalimat panjang:

“(Ini suatu) keadaan dimana manusia tidak melihat ke atribut orang lain, tapi lebih mengedepankan persatuan umat Islam dan tujuan untuk menegakkan keadilan. Inilah sebenarnya kedamaian.”

Kesimpulannya, Wanuzulan merasakan betul, Aksi Simpatik 55 mampu menyatukan berbagai kelompok umat Islam di bawah satu komando.

“Terasa ukhuwah Islamiyahnya walaupun berbeda ormas,” tutur bujang  yang dikenal supel ini mencurahkan kebahagiaannya.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:#AksiSimpatik55 #Aksi55ahokAhok menghina al-QuranAhok penista agamaAksi 55Aksi 55 Makassaraksi bela IslamAksi Simpatik 55Basuki Tjahaja PurnamaForum Persatuan Umat Islam Bersatu SulselFUIB SulselGNPF-MUIkasus AhokmahasiswaMakassarMasjid Raya Makassarormas Islampenistaan agamapersatuan umatproses hukumSTIBA Makassarsulawesi Selatanukhuwah Islamiyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Didin Hafidhuddin Seru Massa Aksi 55 Awasi Peradilan Ahok
Tulisan selanjutnya Kepolisian Apresiasi Aksi Simpatik 55

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?