Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Soal Keberagaman, Kemanusiaan, dan Kita

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Juni 2017 12:46 12:46 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Juni 2017 12:46
Bagikan
Bagikan

Oleh: Aldy Istanzia Wiguna

 

HARI itu, linimasa saya mendadak riuh dengan obrolan-obrolan tanpa ujung. Mulai dari obrolan tentang Afi Nihaya Faradisa, Bu Saeni, sampai obrolan tentang guru kami, Dr Tiar Anwar Bachtiar.

Obrolan yang juga dilengkapi dengan kabar-kabar menggembirakan lainnya semisal seorang anak SD genius dari bumi Serambi Makkah yang membuat kita lagi-lagi ‘ditampar’ olehnya, sebab di tengah keterbatasan dirinya, ia mampu berbuat sesuatu demi mewujudkan prinsip dan nilai Pancasila yang teranggit dalam sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab.

Lalu, dengan sekonyong-konyong linimasa pun sibuk membandingkan anak tersebut dengan anak lain yang namanya tetap riuh diperbincangkan sebab ia terpanggil untuk diundang ke Istana Negara berjumpa dengan orang nomor satu di negeri ini yang hendak memberi apresiasi atas tulisan-tulisan ‘meneduh’kan dirinya yang dianggap menjadi jawaban atas setiap soalan bangsa yang tak kunjung mendapatkan solusi terbaiknya ketika keberagaman demi keberagaman ini justru mengerucut kepada sesuatu yang konon kapan saja bisa menimpa bangsa ini.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Lalu, ada sosok lain yang mencoba menjawab tanya anak muda itu. Sosok yang mencoba meluruskan setiap pandang dan bengkok yang ia temukan dari tulisan gadis yang kata seorang kawan saya ‘kalau engkau hendak terkenal, kencingi saja sumur zam-zam. niscaya dalam waktu sekejap kau akan mendapat apa yang kau inginkan’.

Saya teringat bagaimana jawaban teduh dari anak muda berpendidikan Jerman itu kepada sang gadis. Jawaban yang membuat saya luruh meski akhirnya ada sedikit kurang yang tetap saja tak langsung mendapat benderang untuk soalan-soalan keberagaman kita kali ini. Sebab, seperti yang pernah saya pahami dari buku Mata Air Keteladanan yang dianggit oleh Yudi Latief, ia mengabarkan bahwa teladan keberagaman bangsa ini ada pada para pendirinya yang tidak pernah usai ditimba keteladanannya. Tengok saja pak Natsir dan pak IJ Kasimo, pak Isa Anshary dan pak Aidit yang berteman tanpa ada jeda sedikit pun. Saling bertenggang rasa meski beda di dewan demikian nyata memisahkan jarak keduanya entah secara ideologis atau lain hal. Mereka semua tetap bisa beriringan dan berdamai di meja kantin kantor dewan hari itu sembari menikmati secangkir kopi panas lalu berbincang ringan tentang soal-soal pribadi yang terkadang mengundang tawa renyah seolah lupa bahwa tadi di ruang sidang mereka berdebat panas soal rumusan dasar negara yang hari ini kembali riuh dipertanyakan juga diperbincangkan oleh sebagian mereka yang konon mendadak ‘mualaf Pancasila’.

Baca: Jaga Kondusifitas Bangsa, Dahnil: Pemuda Harus Sadari Keberagaman

Hari ini, dalam sekat yang demikian tipis kita seperti melupakan soalan-soalan lain yang lebih penting dari tulisan seorang muda.

Soalan sederhana tentang uswah juga kebaikan-kebaikan lain yang dibutuhkan masyarakat. Kita lupa bahwa buta aksara latin maupun Arab di negeri ini demikian memprihatinkan. Sementara, kita yang baru belajar dari dua atau beberapa kabar tak jelas di linimasa lantas jumawa menjadi yang paling terang dalam memberi solusi atas soalan-soalan yang terjadi hari ini. Kita mendadak lupa tentang angka kemiskinan yang demikian memprihatinkan, sementara kita sibuk mencari alasan untuk menyalahkan pihak-pihak mana yang telah membuat kemiskinan di negeri ini demikian nyata mencekik. Padahal, kita tahu rumusan sederhana tentang soalan kemiskinan ini.

Ya, tentang memberi juga tentang mengingatkan bahwa tugas negara bukan melawan orang miskin, tapi melawan kemiskinan. Atau soalan pendidikan, kualitas pengajar, juga tatacara mengajar yang berganti-ganti. Lagi-lagi kita sibuk memikirkan siapa yang bersalah, mengapa harus diganti, atau alasan-alasan lainnya hingga soalan-soalan seperti kenyangnya perut para pengajar (kesejahteraan) tetap sibuk kita perbincangkan, meski kita tahu bahwa kecerdasan di negeri ini tidak akan mewujud nyata bilamana kita masih sibuk memikirkan soalan-soalan kekenyangan perut itu, sebab itu sesuatu yang tidak nyambung.

Baca:  Pluralisme, Klaim Kebenaran yang Berbahaya

Dan hari ini, dari tiga peristiwa sederhana di atas seperti sudah dibabarkan. Seharusnya kita belajar bahwa soalan-soalan keberagaman bukan sekedar soal mempersatukan, juga bukan soal siapa yang paling layak memberi solusi. Sebab hakikatnya keberagaman Indonesia ada pada simpul sederhana yang terkadang kita lupa atau mendadak amnesia untuk mewujudkannya.

Sebab, hal-hal sederhana yang sering dilakukan, terkadang menurut nurani masih terasa kurang dirasakan. Entah disadari atau tidak. Tapi, begitulah adanya. Seolah khairunnas anfauhum linnas hanya menjadi jargon belaka ketika ribut-ribut soal keberagaman dan solusi mengatasinya hanya menjadi ingatan utama kita sementara soalan-soalan lain yang lebih penting dari itu tiba-tiba kita buang dari ingatan kita untuk bisa ambil bagian dalam menyelesaikan setiap persoalan itu dengan kadar kemampuan kita. Sementara kita terus melambungkan harap untuk bisa menjadi sesosok pribadi yang nafi’un li ghairihi namun upaya kita seringkali kosong dan tidak ada apa-apanya dalam mewujudkan harapan itu.*

Pengajar di Pesantren Persis 20 Ciparay, penyuka sejarah, sajak dan hujan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Afi Nihaya FaradisakeberagamanKemanusiaanpancasilapluralismeSaeniSerambi Makkah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Qatar Buka Suara Pasca Pemutusan Hubungan Diplomatik Negara Teluk
Tulisan selanjutnya Termasuk Ambon dan Papua, Puluhan Pemuda Diterjunkan Berdakwah ke Pelosok Nusantara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?