Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Menjadi Orang yang Mendahulukan Kepentingan Orang Lain

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Juli 2017 09:27 9:27 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Juli 2017 09:27
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

MENDAHULUKAN kepentingan orang lain dari kepentingan pribadi dalam istilah agama disebut itsar. Perilaku ini merupakan ajaran Islam yang mulia. Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya menyampaikan,

“Tidaklah beriman seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi).

Para sahabat adalah contoh generasi awal Islam yang hidup dengan selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Hal ini mereka lakukan meski tantangannya adalah nyawa mereka sendiri, sebagaimana yang termaktub dalam sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Huzaifah al-`Adawiy berangkat menuju pertempuran Yarmuk. Dalam pertempuran itu ia ingin mencari saudara sepupunya (anak pamannya). Ia pergi dengan membawa air minum.

Ia menemukan sepupunya dalam keadaan terluka, lalu ia pun berkata, “Aku akan memberimu minum.” Sepupunya pun memberikan isyarat, “Ya.” Namun, sebelum Huzaifah memberinya minum ia mendengar suara laki-laki yang merintih kesakitan. Saudara sepupunya itu pun memberikan isyarat agar Huzaifah membawakan air minumnya kepada lelaki itu.

Lalu, dengan bergegas Huzaifah pun pergi menuju ke tempat suara rintihan itu. Ternyata di sana ia mendapatkan Hisyam bin ‘Ashi. Ketika ia ingin memberikannya minum, ia mendengar suara laki-laki lain yang juga merintih kesakitan. Hisyam pun memberikan isyarat agar Huzaifah berangkat mencari suara rintihan itu.

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Huzaifah pun berangkat mencari suara itu, tetapi ternyata ia mendapatkan lelaki itu telah wafat. Lalu, Huzaifah pun kembali kepada Hisyam, ternyata ia juga telah wafat. Dengan cepat ia pun bergegas pergi kepada sepupunya, lagi-lagi ia mendapatkannya saudara sepupunya itu juga telah wafat. Demikianlah kisah para sahabat Nabi yang selalu mengutamakan kepentingan sahabatnya yang lain meskipun itu harus ditebus dengan nyawa mereka sendiri.

Perilaku mengedepankan kepentingan orang lain ini juga disinggung dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menceritakan kasih sayang dan kepedulian kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin, “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9).

Allah begitu menyanjung perilaku mulia orang-orang Anshar terhadap orang-orang Muhajirin sehingga Allah pun menyebut orang-orang Anshar dengan muflihun, yaitu orang-orang yang beruntung. Sebaliknya, Islam sangat mengecam perilaku manusia yang mencintai dirinya sendiri (hubbu nafsi) dan selalu mengutamakan dirinya daripada orang lain.

Sifat ini sangat dibenci oleh Rasulullah karena merupakan cerminan sifat individualisme, yaitu sifat yang hanya memikirkan maslahat dan diri sendiri serta cenderung ingin menang sendiri. Na’uzu billah min dzalik.*/Andi Wahyudi, dikutip dari bukunya Materi Kultum Penyejuk Hati.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hubbu nafsiitsarmendahulukan orang laintolong-menolong
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Penghapusan Larangan Iklan Rokok, Koalisi Nasional Masyarakat Sipil untuk Pengendalian Tembakau Menolak
Tulisan selanjutnya Industri Rokok Diduga ‘Bermain’, KPK Didesak Investigasi Penyusunan RUU Penyiaran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?