Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Hamid Fahmi: “Penggunaan Istilah ‘Moderat, ‘Radikal’ dan ‘Toleran’ Sarat Kepentingan Barat”

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 5 November 2017 10:08 10:08 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 5 November 2017 06:00
Bagikan
Dr Hamid Fahmy Zarkasyi MA.
Bagikan

Hidayatullah.com– Kasus penistaan agama yang dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok melahirkan aksi massa yang berujung gerakan Aksi Bela Qur’an 411 (4 November 2016) dan Aksi 212 (02 Desember 2016).

Pasca aksi yang kabarnya mampu menyatukan lebih dari dua juta umat Islam tanpa adanya kerusakan, istilah-istilah ‘intoleran’, ‘radikal’, dan ‘moderat’ makin sering digunakan kelompok-kelompok tertentu untuk memberi stigma kepada kelompok Islam. Belakangan, istilah ‘anti Pancasila’ ‘anti Bhinneka’ juga digunakan kelompok anti gerakan-gerakan Islam melakukan stigma-stigma buruk.

Redaksi mewawancarai Dr Hamid Fahmy Zarkasyi MA, cendekiawan yang intens memberi kajian Islamic worldview di berbagai seminar pemikiran baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2005 Direktur Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) yang serius mengkaji masalah-masalah ini. Salah satu hasilnya, sebuah buku pemikiran yang cukup renyah berjudul ‘Misykat: Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisasi’ (Penerbit: INSISTS).

“Istilah moderat ini sudah dibajak orang kemana-mana. Sebagian orang mendefinisikan dengan sesuka hatinya makna moderat itu,” ujar master bidang filsafat di University of Birmingham United Kingdom (1998) dan PhD bidang pemikiran Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) IIUM Malaysia (2006) ini.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Baca: Menolak LGBT Dianggap ‘Intoleran’, Sama Halnya Menuduh Al-Qur’an ‘Intoleran’

Apa maksudnya? Baca lebih lengkap wawancara berikut ini.

Beberapa pihak menggunakan definisi intoleran dan radikal, dengan ciri anti LGBT bahkan anti Ahok, bagaimana pendapat Anda?

Pertama, kriteria radikal dan ekstremis itu sangat sepihak. Dan itu juga terjadi dengan istilah moderat. Saya ikut mengkaji sejak tahun 2005 itu istilah moderat ini sudah dibajak orang kemana-mana. Sebagian orang mendefinisikan dengan sesuka hatinya makna moderat itu. Dan sudah tentu ini hasil dari definisi moderat itu pasti akan memunculkan makna radikal.

Seolah kalau tidak moderat dia pasti menjadi radikal. Nah, di antara ciri dari orang moderat (menurut orang-orang umumnya tidak suka dengan Islam itu), adalah, pertama, orang yang apabila agamanya dihina, dia tidak boleh marah. Kedua, orang taat menjalankan syariat (Islam, red) itu dianggap tidak moderat, karena syariat itu sendiri dianggap mengajarkan kekerasan. Dan banyak lagi definisi itu.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa orang yang menganggap orang lain kafir itu tidak moderat. Nah, gejala ini tentu harus kita respons dengan definisi juga. Jadi definisi yang selama ini dipakai LSM dan kelompok-kelompok HAM ini adalah definisi yang sangat tidak akademis dan tidak bertanggung jawab. Itu sangat sepihak.

Kalau kita ingin membuat definisi kita dengan standar kita, tentu definisi dia itu adalah definisi radikal. Jadi ada orang yang mendefinisikan makna moderat itu secara radikal, dan ada orang yang mendefinisikan radikal itu secara radikal juga.

Artinya?

Jadi, bagaimana orang harus bertoleransi terhadap sesuatu yang oleh agamanya dilarang; Islam diminta toleransi jika saudaranya melakukan perzinaan, misalnya. Ini jelas suatu yang tidak bisa diterima oleh HAM sekalipun. Ndak bisa diterima. Itu bertentangan dengan juga hak masing-masing orang, kan.

Haknya (umat Islam) adalah tidak setuju dengan perbuatan yang ada di dalam domain agamanya, karena perzinaan dalam Islam itu haram. Kalau saya mengharamkan perzinaan kemudian orang lain menghalalkan, dan saya dianggap radikal, itu salah menurut HAM.

Nah ini, makanya perlu menggunakan akal sehatlah. Orang mengatakan radikal dan ndak radikal ujungnya dia bisa kebablasan. Misalnya, yang disebut radikal adalah yang tidak toleran terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), ini definisi yang sangat-sangat western sekali, sangat Barat sekali.

Saya pernah bertemu orang Barat dan bertanya dengan nada heran. “Katanya di Indonesia orang LGBT enggak diterima ya?” Saya jawab, “Di negara Islam manapun, LGBT tidak diterima.”

Nah, definisi yang seperti ini perlu kita sesuaikan dengan Pancasila. Pancasila ini, kan, asasnya adalah Ketuhanan. Orang yang paling dekat pada Tuhan di Indonesia ini justru yang Pancasilais. Di sini kita sebenarnya tidak bisa mentolerir orang-orang yang jauh dari Tuhan. Dan tidak ada hak orang yang tidak ber-Ketuhanan Yang Maha Esa dan tidak menjalankan kepercayaannya itu dalam kehidupan sehari-hari untuk hidup di Indonesia [penuh penegasan, red].

Ini interpretasi paling logis terhadap ideologi Pancasila. Sama misalnya, orang yang anti komunis dianggap tidak toleran. Padahal jika kita toleran terhadap komunisme, berarti kita tidak Pancasilais. Jadi sangat logis sekali itu.

Baca: Gus Solah: Menolak Komunisme Masa Radikal

Singkatnya, definisi radikal, intoleran, moderat itu sarat masalah ya?

Sarat masalah dan sangat bermasalah. Dari perspektif Islam sangat bermasalah, dari perspektif HAM juga bermasalah, dari perspektif Pancasila apalagi, bermasalah.

Apakah ada kesamaan pendapat terkait definisi dalam istilah-istilah itu di selusuh dunia?

Ya kesamaan tadi, kesamaannya dengan orang-orang Barat yang islamphobia, banyak itu. Saya bisa menyebutkan siapa orangnya di Barat yang memahami moderat dalam pengertian yang sangat radikal itu.

Menurut Anda, apakah penggunaan istilah-istilah yang dibahas tadi ada kepentingan pendonor (asing)?

Saya rasa memang ada karena bunyinya. Maknanya sih sama dengan apa yang diucapkan oleh orang-orang di Barat. Saya curiga bahwa itu sejalan dengan orang di luar Indonesia dan di luar Islam, bisa jadi dia jadi ke sana. Saya tidak bisa melacak. Yang pasti, itu ada kepentingan asingnya.

Baca juga: MUI: Tidak Ada Kata Toleransi pada LGBT dan Aliran Sesat

Jika ciri radikal dan intoleran itu sebagaimana digambarkan kelompok-kelompok anti Islam itu, berarti isi kandungan al-Qur’an itu intoleran?

Oh iya, itu indikasinya luas sekali. Pertama kali ajaran Islam itu sendiri ‘tidak toleran’. Misalnya, kita melarang orang Muslimah menikah dengan non-Muslim. Itu Qur’an itu. Dan itu ndak bisa ditawar. Tapi kemudian orang-orang ini mengatakan, ‘ah itu ndak ada masalah’, lho, berarti dia tidak toleran terhadap Islam.

Tidak ada dalam Islam yang namanya pria menikah dengan pria atau perempuan dengan perempuan. Bahkan dalam Islam itu dikutuk, dan dilaknat oleh Allah. Kita dilarang itu. Artinya Islam tidak toleran dengan hal itu. Tapi yang begini ini dianggap radikal dan intoleran. Jelas, lagi-lagi, mereka memusuhi Islam.

Artinya mereka secara tidak langsung menganggap isi al-Qur’an intoleran gitu ya?

Ya betul! Mereka ini secara definitif menurut saya adalah orang-orang yang sebenarnya anti Islam. Jadi tidak suka dengan ajaran Islam. Nah, kalau Islam ini dibenturkan dengan HAM, hal ini akan membenturkan sebuah peradaban yang besar. Dan itu tidak produktif, sama halnya, mereka sedang mencari gara-gara.

Kalau kita mau berbicara seperti begitu, banyak sekali peradaban sikap, konsep, dan perilaku masyarakat modern ini yang bertentangan dengan Islam.

Dalam pengertian Islam, mereka itu melanggar kemanusiaan secara radikal. Ini kemanusiaan lho, kita tidak bicara Islam. Sebab Islam itu agama yang paling manusiawi.*   

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahokaksi 212Aksi 411aksi bela IslamAl Qur’ananti BhinnekaBasuki Tjahaja PurnamaCenter for Islamic and Occidental Studiesdefinisi moderatDirektur CIOSHAMHamid Fahmy ZarkasyiINSISTSintoleranislamic worldviewkasus Ahoklgbtliberalisasimakna radikalmoderatPancasilaispenistaan agamaradikalstigma anti Pancasilatoleranwesternisasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Felix Siauw Doakan Penolak Acaranya Dilapangkan Hatinya
Tulisan selanjutnya Burung Kakatua Mengunyah Kabel Internet Bernilai Miliaran Dolar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Berita
4 Juni 2026 14:01
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?