Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Rooinga, dan Penindasan yang Berlarut-larut (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 November 2012 06:13 6:13 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 November 2012 06:13
Bagikan
Bagikan

oleh: Alwi Alatas

PADA pertengahan tahun 2012 lalu kita dikejutkan oleh berita-berita tentang kerusuhan sosial dan penganiayaan yang terjadi terhadap kaum Muslimin di Arakan, Myanmar (Burma), atau yang umumnya lebih dikenal sebagai Muslim Rohingya. Kerusuhan itu bermula dengan tersebarnya isu bahwa pada 28 Mei 2012 seorang perempuan Budha di Arakan telah diperkosa dan dibunuh oleh tiga orang pria Muslim. Isu itu menyebar dengan cepat dan berkembang menjadi kemarahan terhadap komunitas Muslim di Arakan. Enam hari kemudian, sekumpulan penduduk beragama Budha di Toungop, Arakan, menghentikan sebuah bus dan membunuh sepuluh Muslim yang ada di bus tersebut. Polisi dan tentara yang ada di sekitar tempat kejadian hanya mengamati tanpa berusaha untuk menghentikan tindak kekerasan itu (Human Rights Watch, 2012).

Lima hari setelahnya, tepatnya pada Jum’at 8 Juni 2012, terjadi kerusuhan antara komunitas Budha dan Muslim di Sittwe, ibu kota Arakan. Equal Rights Trust (2012) melaporkan bahwa menjelang shalat Jum’at ada empat orang imam shalat yang dibunuh saat berjalan menuju masjid. Hal ini menimbulkan kemarahan komunitas Muslim. Mereka langsung mengejar orang-orang (Budha) yang melakukan pembunuhan tersebut dan melakukan pembalasan. Setelah itu terjadilah kerusuhan besar di kota itu, dan juga beberapa tempat lainnya, yang menyebabkan banyak korban terbunuh dan terusir dari tempat tinggalnya, khususnya dari kalangan Muslim Rohingya. Sejak itu, penduduk Budha di Arakan yang merupakan etnis Rakhine, dan dalam banyak kasus dibantu oleh polisi dan tentara Myanmar, terus melakukan pengusiran dan pembunuhan terhadap Muslim Rohingya.

Laporan resmi menyebutkan korban terbunuh sebanyak 78 orang, yang tentu saja terlalu dikecil-kecilkan, sementara lebih seratus ribu orang kehilangan tempat tinggal. Sementara itu, sebuah lembaga kemanusiaan Turki, Insani Yardim Vakfi (2012), memperkirakan ada 1000 orang yang mati terbunuh dan lebih dari 90.000 kehilangan tempat tinggal. Angka ini hanya mengacu pada peristiwa yang terjadi pada bulan Juni-Juli, tidak mencakup korban pada gelombang kekerasan berikutnya di bulan Oktober 2012. Pada peristiwa yang terakhir, sekitar 2,800 rumah Muslim Rohingya dibakar. Sebuah gambar satelit memperlihatkan 14,5 hektar areal penduduk Muslim di kota Kyaukpyu, Arakan, telah hancur dan rata menjadi tanah hanya dalam waktu singkat (www.guardian.co.uk).

Kekerasan yang berulang-ulang di Arakan telah menjadi semacam pembantaian etnis terhadap Muslim Rohingya di wilayah itu.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Ada dua pihak yang bertanggung jawab atas berlakunya kekerasan terhadap Muslim di Arakan. Yang pertama adalah penduduk Rakhine yang beragama Budha dan yang kedua adalah pemerintah dan tentara Myanmar. Tokoh-tokoh Rakhine, media massa, para pendeta Budha, bahkan para akademisi memiliki peranan besar dalam menyebarluaskan kebencian serta melakukan provokasi kekerasan terhadap komunitas Rohingya yang jumlahnya antara 800.000 hingga 1.000.000 orang di Arakan. Sebagai contoh, Dr. Aye Maung, ketua Rakhine Nationalities Development Party (RNDP), pada bulan Juli 2012 membuat pernyataan dalam sebuah wawancara berkenaan dengan orang-orang Rohingya, “Kami telah meminta verifikasi yang … memastikan orang-orang yang masuk ke negara kita secara illegal agar tetap berada di tenda-tenda pengungsi. Sebagaimana para pengungsi di negara-negara lainnya, beri mereka makan dengan dukungan UNHCR dan akan ada negara-negara ketiga yang bersimpati kepada mereka dan mau memberikan kewarganegaraan kepada mereka” (www.dvb.no/news).

Pada masa yang hampir bersamaan, sebuah asosiasi biksu muda di Arakan menyebarluaskan selebaran berjudul “Pemisahan Komunitas” yang meminta penduduk Budha Rakhine untuk tidak melakukan bisnis serta hubungan dengan Muslim Rohingya. Hal ini dilakukan karena orang-orang Rohingya “yang tinggal di tanah Rakhine, minum air Rakhine, dan istirahat di bawah bayang-bayang Rakhine sekarang bekerja untuk memusnahkan orang-orang Rakhine” (Human Rights Watch, 2012).

Media-media massa populer di Arakan juga memiliki peranan besar dalam menyebarluaskan kebencian terhadap Rohingya dan Muslim di wilayah itu.

Media-media massa yang bermunculan dan tumbuh pesat bersamaan dengan mulai dibukanya pintu demokrasi di Myanmar ternyata tidak menggunakan keberadaan mereka secara bertanggung jawab. Mereka malah ikut melakukan provokasi dan menyebarkan permusuhan etnis terhadap Muslim Rohingya (http://asiasentinel.com).

Pemerintah dan tentara Myanmar sendiri telah melakukan pembiaran terhadap berlakunya kekerasan di Arakan. Bahkan sebenarnya dalam banyak kesempatan mereka telah terlibat langsung dalam tindak kekerasan terhadap Muslim Rohingya.

Beberapa saksi mata menyebutkan betapa tentara Myanmar ikut melakukan penembakan dan pembunuhan terhadap Muslim Rohingya pada pertengahan 2012 lalu (Human Rights Watch, 2012). Kalangan akademisi juga tidak lebih baik dalam menyikapi isu Rohingya, khususnya akademisi dari kalangan Rakhine. Beberapa dari mereka menyebut Muslim Rohingya dengan sebutan diskriminatif seperti “floating people”, “Illegal foreign Bengalis,” serta menyebut keberadaan mereka sebagai “influx of viruses in Arakan” (Alam, 2011). Ada juga akademisi yang menjadikan komunitas ini sebagai contoh “threats to community security” (Maung Than, 2007)

Banyak orang yang bertanya-tanya mengapa Aung San Suu Kyi tidak berkomentar dan memberikan pembelaan terhadap kedzaliman yang menimpa Muslim Rohingya.

Diamnya Suu Kyi sebenarnya tidak terlalu mengherankan. Karena dapat dikatakan tidak ada satupun aktivis demokrasi dan kemanusiaan di Myanmar, yang beragama Budha, yang mau memberikan pembelaan terhadap Muslim Rohingya. Mereka pada umumnya tidak memandang Muslim Rohingya sebagai korban, melainkan sebagai ancaman terhadap Myanmar.

Apa yang berlaku di Myanmar sekarang ini sebenarnya adalah sikap diskriminatif dan rasis dari komunitas Budha Myanmar terhadap Muslim Rohingya.

Sikap ini mirip dengan kebijakan Apartheid yang pernah berlaku di Afrika Selatan serta kebijakan Zionis Israel terhadap Muslim Palestina sekarang ini, walaupun dengan latar belakang yang berbeda. Adanya sikap rasis ini tidak mengada-ada.

Seorang konsul Myanmar di Hong Kong, Ye Myint Aung, misalnya, pada Februari 2009 pernah berkata kepada pers, “Kenyataannya, Rohingya bukanlah ‘Masyarakat Myanmar’ dan bukan pula kelompok etnis Myanmar. Anda akan melihat di dalam gambar bahwa warna kulit mereka ‘coklat kehitaman.’ Warna kulit orang-orang Myanmar terang dan lembut, juga sedap dipandang. (Warna kulit saya merupakan tipikal warna kulit seorang pria Myanmar yang asli dan Anda akan menerima betapa tampannya rekan Anda, Mr. Ye, ini). Hal ini berbeda dengan apa yang Anda lihat dan baca di surat-surat kabar. (Mereka itu sama jeleknya dengan ogre) (The Arakan Project, 2012; AFP, 2009).

Ada sebenarnya yang sedang berlaku di Arakan? Apa yang melatarbelakangi kebencian yang begitu besar serta penindasan terhadap Muslim Rohingya? (bersambung)

Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku-buku best seller

Rooinga, dan Penindasan yang Berlarut-larut (2)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 6 Paper Terpilih dalam Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah
Tulisan selanjutnya Rusia dan Prancis Dukung Peningkatan Status Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam

Berita
21 Juli 2026 14:37
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’

Terbaru

  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
  • Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?