Hidayatullah.com– Pada Sabtu (20/01/2018) dinihari, salah seorang kader Partai Gerindra tewas tertembus peluru dari senjata anggota Brimob Polri di Bogor, Jawa Barat.
Ketua Presidium Ind Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan, anggota Brimob yang melakukan aksi koboi di Bogor harus segera dipecat Polri.
“Sebab tindakannya yang menembak mati anggota Partai Gerindra sudah mencoreng citra Polri dan Korps Brimob,” ujar Neta dalam pernyataannya diterima hidayatullah.com, Senin (22/01/2018).
IPW menilai, tindakan Brimob koboi itu bisa mengganggu kepercayaan publik maupun ektabilitas 10 anggota Polri yang akan mengikuti Pilkada Serentak 2018, apalagi dalam pilkada itu mantan Dankor Brimob ikut dalam pilkada di Maluku.
Baca: Polisi Tembaki Massa, Diduga Ada Provokator Mau Adu Domba Aparat–Ulama
Untuk itu, Polri harus mengusut tuntas kasus Brimob koboi di Bogor ini. Pelaku harus dihukum berat dan dipecat dari kepolisian.
“Jika melihat kronologis kasus penembakan tersebut, jelas latar belakangnya adalah sikap arogansi aparatur keamanan,” ungapnya.
Menurut IPW, ada tiga pertanyaan di balik kasus penembakan ini. Pertama, dari mana anggota Brimob tersebut mendapat senjata api, karena senjata api yang digunakan untuk menembak korban sepertinya bukan senjata organik Korps Brimob.
“Kedua, dari mana anggota Brimob itu bisa mendapatkan motor gede sehingga dia bisa bersikap begitu arogan dan semena mena dengan anggota masyarakat,” ungkapnya.
Ketiga, tambahnya, kasus penembakan ini menunjukkan betapa lemahnya pengawasan terhadap anggota Korps Brimob oleh atasan dan institusinya, sehingga seorang anggotanya bisa bebas bergentayangan pada malam hari dengan membawa senjata api.
“Sikap semau gue anggota Brimob itu menunjukkan bahwa ada masalah serius di lembaga elit kepolisian tersebut. Antara lain atasannya tidak punya wibawa dan tidak mampu mengawasi sikap perilaku anak buahnya,” ungkapnya.
IPW menilai, kasus penembakan ini tentu sangat mencoreng Korps Brimob dan bisa berpengaruh serius pada mantan Dankor Brimob yang akan mengikuti pilkada di Maluku.
Bagaimana pun ini lanjutnya akan membuat masyarakat takut jika bertemu dan berurusan dengan anggota Brimob.
“Untuk itu Polri harus mengusut tuntas kasus ini dan menindak tegas atasannya yang ceroboh mengawasi anak buahnya. Gerindra harus terus mengawasi kasus ini agar diusut tuntas dan agar tidak terulang lagi. Selain itu, Korps Brimob perlu meminta maaf kepada publik atas kasus ini,” pungkasnya.
Seorang anggota kepolisian berinisial AR dari Satuan Brimob berpangkat Brigadir Satu (Briptu) terlibat penembakan atas salah seorang kader dari Partai Gerindra berinisial F. Sebelum insiden penembakan itu terjadi, Briptu AR sempat terlibat cekcok mulut dengan korban berinisial F di area parkir sebuah diskotek.*