Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Keluarga Sakinah

Jangan Terbiasa Berkata Bohong pada Anak

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Januari 2018 13:10 1:10 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Januari 2018 13:10
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

FENOMENA suka berbohong adalah fenomena terburuk menurut pandangan Islam. Oleh karena itu, para pendidik wajib mencurahkan perhatian dan upaya terhadap fenomena ini, sehingga anak-anak terhindar dari fenomena tersebut dan menjauhi sifat munafik.

Cukuplah kebohongan itu dikatakan sebagai sifat yang buruk, mengingat Islam telah memandang sebagai tanda-tanda kemunafikan. Bukhari, Muslim, dan lain-lainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Amr Al-Ash r.a. bahwa Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Ada empat hal yang apabila seluruhnya berada pada diri seseorang, maka dia termasuk seorang munafik. Dan apabila satu dari empat hal itu berada padanya, maka ia telah memiliki salah satu sifat kemunafikan sampai ia meninggalkannya. Yaitu, apabila ia dipercaya, ia khianat; apabila berbicara, ia dusta; apabila berjanji, ia ingkar; dan apabila berbantah-bantah, ia tidak terkendali.”

Dan kebohongan itu cukup untuk dapat disebut sebagai sifat yang buruk, mengingat Islam telah mengatakan bahwa orang yang melakukannya akan mendapatkan murka dan siksa Allah. Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Ada tiga macam manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan disucikan, dan tidak akan diperhatikan. Mereka akan mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu kakek-kakek yang berzina, raja pendusta dan orang miskin yang sombong.”

Baca Juga

Zakat dari Harta Haram, Apa Hukumnya?
Kedudukan Hukum Adik Ipar
 Bijaksana Saat Menolak Lamaran
Suami Merahasiakan Gajinya, Menurut Islam
Mengembalikan Indahnya ‘Kamar Tidur’

Bagi para pelakunya, kebohongan juga cukup untuk dikatakan sebagai perbuatan buruk, yang oleh Allah dikategorikannya sebagai pendusta. Asy-Syaikhani dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a bahwa Rasulullah bersabda:

“Jauhilah perbuatan dusta, sebab sesungguhnya dusta itu dapat mengakibatkan perbuatan lacur dan sesungguhnya perbuatan lacur itu akan menyeret kepada api neraka. Selama hamba itu berdusta dan terus-menerus berdusta, maka Allah akan mencatatnya sebagai pendusta.”

Kebohongan dapat dikatakan sebagai perbuatan yang sangat buruk karena Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam memandangnya sebagai pengkhianatan yang besar. Abu Dawud meriwayatkan dari Sufyan Usaid Al-Hadhrami r.a., ia mendengar Rasulullah bersabda:

“Suatu pengkhianatan akan menjadi besar, apabila engkau membicarakannya kepada saudaramu, dan ia membenarkan pembicaraanmu, padahal engkau mendustainya.”

Jika memang demikian keberadaan dusta dan para pelakunya, maka kewajiban para pendidik adalah menjauhkan anak-anak dari perbuatan itu, di samping menjelaskan akibat dan bahayanya, sehingga mereka tidak terjebak dalam perangkap dusta, terkena percikan, dan terjerumus dalam bahayanya.

Jika para pendidik berpendapat bahwa pendidikan utama itu tergantung kepada pemberian teladan yang baik, maka selayaknyalah setiap pendidik dan orang yang bertanggung jawab untuk tidak mendustai anak-anaknya dengan alasan agar mereka berhenti menangis, membujuk mereka agar menyukai sesuatu, atau menenangkan mereka dari kemarahan. Sebab jika hal itu dilakukan, berarti telah membiasakan anak-anak untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan paling buruk dan moral paling hina, yakni kebohongan. Hal ini dapat menyebabkan para pendidik kehilangan kepercayaan terhadap diri mereka dengan perkataan dustanya dan melemahkan pengaruh nasihatnya.

Untuk itu, kita lihat pendidik pertama, Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam telah memperingatkan para wali dan pendidik supaya tidak berdusta di hadapan anak-anak, meski hal itu hanya sebagai bujukan atau gurauan, agar ia tidak dicatat oleh Allah sebagai pendusta. Abu Dawud dan Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Amir r.a.:

“Pada suatu hari ibu memanggilku, sedangkan Rasulullah duduk di rumah kami. Ibuku berkata, “Kemarilah, aku akan memberimu.” Kemudian Rasulullah berkata kepadanya, “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?” Ibuku berkata, “Aku akan memberinya sebuah kurma.” Maka Rasulullah berkata kepadanya, “Kalau engkau tidak memberikan sesuatu kepadanya, maka engkau akan dicatat sebagai orang yang berdusta.”*/Sudirman STAIL

Sumber buku: Pendidikan Anak Dalam Islam (Jilid 1). Penulis: Dr. Abdullah Nashih Ulwan.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berkata bohongciri orang munafik
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Oprah Winfrey Tak Minat Jadi Capres Amerika Serikat?
Tulisan selanjutnya Menag Apresiasi Kongres Ulama Muda Muhammadiyah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Keluarga Sakinah

Batas Sederhana Berpakaian dan Berhias

17 Januari 2021 07:57
Keluarga Sakinah

Bijaksana Saat Menolak Lamaran

24 Oktober 2018 17:12
Keluarga Sakinah

Hilangnya Kecemburuan Pertanda Matinya Kejantanan

22 Maret 2018 17:04
Keluarga Sakinah

Begini Pandangan Islam terhadap Cemburu

15 Maret 2018 16:25
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?