Hidayatullah.com– Kualitas suatu peradaban sangat ditentukan oleh kemajuan atau kemunduran ilmu pengetahuan. Bila sebuah bangsa itu peduli terhadap ilmu pengetahuan, maka peradaban bangsa itu akan makin maju.
Sebaliknya, bila bangsa itu kurang memerhatikan ilmu pengetahuan, maka peradaban bangsa itu akan mundur.
Hal itu disampaikan oleh Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta, Hikmat Kurnia, dalam pembukaan Islamic Book Fair (IBF) di JCC Senayan Jakarta, Rabu (18/04/2018) yang acaranya berlangsung hingga Ahad (22/04/2018).
Baca: Ustadz Abdul Somad: Beli Buku, Baca, Renungkan, lalu Menulislah
Ketika kekhalifahan Abbasiyah berjaya, tuturnya, banyak lahir cendekiawan Muslim, seperti pakar matematika Al-Khawarizmi, filsuf kenamaan Imam Ghazali dan Ibnu Rusyd, atau ahli kedokteran, Ibnu Sina. Kekhalifahan itu mampu membangun peradaban hingga ke puncak kejayaannya karena kedisiplinannya pada ilmu pengetahuan.
“Perlu dicatat,” kata Hikmat, “dasar dari ilmu pengetahuan adalah literasi. Tanpa literasi yang baik, tak ada ilmu pengetahuan.”
Hikmat menjelaskan, akar dari literasi adalah membaca. Tanpa membaca, umat akan tergagap-gagap memahami dunia. “Sayangnya -ini data yang berkembang- hanya ada satu dari seribu orang Indonesia yang membaca buku secara rutin,” ungkapnya.
Masalah ini adalah pekerjaan rumah yang cukup besar bagi Indonesia sebagai negeri mayoritas Muslim terbesar di dunia.
“Hebohnya hoax adalah bukti nyata umat tidak punya kemampuan saring sebelum sharing dan bukti pendeknya pikiran, dangkalnya pemahaman,” katanya.
Baca: Ribuan Pengunjung Padati Tabligh Akbar Ustadz Abdul Somad di IBF 2018
Di era informasi yang melimpah ini, dibutuhkan kecerdasan literasi untuk memilah mana informasi yang mencerahkan dan mana yang sekadar sampah.
Untuk tidak sekadar menjadi follower (pengikut), tapi menjadi leader (pemimpin), umat Islam menurut Hikmat, perlu menjadikan kedangkalan kemampuan literasi sebagai musuh bersama.
“Sebab kedangkalan kemampuan literasi adalah akar dari kebodohan, akar dari kemunduran peradaban,” terangnya. Karena itu UNESCO menegaskan literasi adalah hak setiap orang dan dasar untuk belajar sepanjang hayat.
Hikmat melanjutkan, literasi bisa memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat.
“Dalam konteks ini, jika Islam hendak meraih kejayaannya, maka suka tidak suka kita memperkuat literasi setiap individu dan umat Islam Indonesia. Tanpa literasi yang baik, tidak akan lahir individu-individu hebat,” katanya.
Perhelatan IBF 2018 ia harapkan akan mampu memantik lahirnya calon pemimpin umat Indonesia di masa depan.* Andi