Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Menyoal “Fatwa” Syeikh Mahmud Syaltut Tentang Syiah [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Juli 2018 08:27 8:27 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Juli 2018 08:11
Bagikan
Dr. Syamsuddin Arif dalam Saturday Forum yang diadakan INSISTS di Jakarta, Sabtu (14/07/2018), mengangkat judul “Al-Azhar dan Syiah: Menyetujui atau Menolak?”
Bagikan

Hidayatullah.com– Dalam Saturday Forum yang diadakan Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization atau INSISTS, Sabtu (14/07/2018) di Jakarta, Dr. Syamsuddin Arif mengangkat judul: “Al-Azhar dan Syi’ah: Menyetujui atau Menolak?”.

Ia antara lain menyampaikan persoalan terkait “fatwa” Syeikh Mahmud Syaltut (Shaltout) pada 1959 yang mengatakan bahwa Syiah adalah madzhab di antara madzhab-madzhab yang ada dalam Islam”.

Tema ini merupakan hasil dari keikutsertaan Syamsuddin dalam konferensi internasional di Islamic College London pada 5-6 Mei 2018.

Ada beberapa hal yang melatari penelitian yang sangat penting ini, di antaranya: adanya konflik antara Sunni-Syiah yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia maupun luar negeri; fatwa Syeikh Mahmud Syaltut pada 1959 yang mengatakan bahwa Syiah adalah madzhab di antara madzhab-madzhab yang ada dalam Islam; dan pernyataan Grand Syeikh Ahmad Thayyib yang menyebutkan bahwa Syiah dan Sunni bersaudara.

Pada kajian yang cukup dipadati peserta itu, intelektual muda Muslim yang akrab dipanggil Dr. Syams ini berfokus pada fatwa Syeikh Mahmud Syaltut tentang Syiah yang seringkali dijadikan tameng oleh orang-orang Syiah atau simpatisannya pada umumnya guna menepis perbedaan antara Sunni dan Syiah dan diseret-seret sesuai kepentingan mereka.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Setidaknya ada lima pertanyaan yang mendasari kajian ini: Pertama, benarkah itu adalah fatwa Syeikh Mahmud Syaltut? Kalau iya, apakah itu dikeluarkan oleh beliau sendiri atau orang lain? Kedua, kalau iya, kenapa beliau mengeluarkannya? Ketiga, kalau iya, apakah itu pendapat pribadi alias sikap beliau sendiri atau mewakili Al-Azhar yang saat itu diketuai oleh beliau sebagai Grand Syeikh? Keempat, kalau itu hanya pendapat pribadi beliau, lalu bagaimana sikap resmi Al-Azhar sendiri? Kelima, terlepas dari itu semua, dengan beredarnya dokumen yang diklaim fatwa itu, bagaimana sikap para ulama dalam Al-Azhar dan di luarnya?

Pada tahun 1947, Syeikh Mahmud Syaltut mengikuti organisasi Jama’ah Taqrib (Taqrib Society) yang didirikan oleh tokoh Syiah Muhammad Taqi Al-Qummi. Organisasi ini menerbitkan jurnal Risalatul Islam.

Menurut penelitian Dr. Syams –yang belum final- kemungkinan besar lembagai ini didanai dari Iran. Lembaga ini memiliki beberapa tujuan besar di antaranya: menyatukan dan mendekatkan suara umat yang tak menyentuh masalah akidah; menebarkan prinsip-prinsip Islam dengan berbagai bahasa; dan menjadi penengah atau upaya rekonsiliasi konflik antar negara yang di dalamnya ada Sunni dan Syiah.

Sebelum ada fatwa ini, doktor jebolan ISTAC ini mengungkapkan beberapa fakta yang cukup penting terkait hubungan politik Iran dan Mesir.

Di antaranya: pada tahun 1939 Muhammad Reza Pahlevi dinikahkan dengan adik Raja Mesir Farouq yaitu Fawziyah (Fawzia of Egypt). Nah, dalam rombongan ini Ada Muhammad Al-Qummi (yang kemungkinan besar melakukan lobi-lobi hingga terbentuknya Jama’ah Taqrib).

Pada 1954 Presiden Gamal Abdul Nasher (yang nikah dengan wanita Syiah bernama Tahiyyah Al-Kazim) menjadi presiden Mesir; pada 1961 Gamal mengubah undang-undang pemilihan Grand Syeikh Al-Azhar bahwa yang memilihnya adalah presiden, hal ini berimplikasi pada independensi Grand Syeikh Al-Azhar.

Dari latar belakang tersebut, sampai timbulnya dokumen yang dikatakan kebanyakan orang sebagai fatwa Syeikh Mahmud Syaltut, terlihat bahwa ada upaya-upaya diplomatik-politik yang sebelumnya diusahakan untuk mewujudkan hal ini.

Setelah memaparkan dengan singkat latar belakang sejarah, dosen tetap Universitas Darussalam Gontor ini mencoba menjawab satu persatu terkait fatwa yang seringkali dinisbahkan kepada Syeikh Syaltut mengenai Syiah.

Benarkah itu adalah fatwa Syeikh Mahmud Syaltut? Menurut penelitian Dr. Syams, itu adalah transkrip obrolan antara Syeikh Mahmud Syaltut dan wartawan (Mahmud Salimah Mandub), 17 Januari dan 5 Februari 1959, yang kemudian dimuat dalam majalah Al-Azhar pada rubrik “Aaraa wa Ahaadits” bukan pada rubrik “Fatwa”, padahal dalam majalah ini ada rubrik khusus mengenai fatwa.

Lebih dari itu, dalam majalah Al-Azhar yang terkait omongan Syeikh Syaltut mengenai Syiah tidak ada ungkapan fatwa; yang ada justru ‘tashrihaat’ (keterangan, penjelasan), ‘taushiyaat’ (tausiah atau nasihat), ‘hadits’ (omongan), ‘aaraa’ (pendapat), dan ‘qaraar’ (ketetapan).

Jadi, tidak ada kata-kata tegas bahwa itu fatwa. “Fatwa” yang beredar –tentang Syiah dari Syeikh Syaltut- justru tidak ada keterangan tanggal. Bahkan. Perkataan wartawan “qultu li-fadhilatihi” (aku berkata/bertanya kepada Syeikh) pada “fatwa” yang beredar itu diganti ‘qiila li-fadhilatihi’ (ditanyakan kepada Syeikh).

Dengan demikian, maka kemudian mengarah, kepada ontentisitas (keaslian) fatwa yang sering dinisbahkan kepada Syeikh Mahmud Syaltut. Benarkah itu ditulis oleh Syeikh? Atau justru direkayasa oleh Muhammad Al-Qummi? Fakta –dari peneliti- yang ada, itu merupakan transkrip jurnalis Mahmud Salimah; ditulis dalam Risalat Islam (jurnal Jama‘ah Taqrib) dan majalah Al-Azhar. Namun, anehnya dalam buku Syeikh Mahmud Syaltut “Fatāwā Muhimmah” tidak ada fatwa yang menyinggung soal ini.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al AzharGrand Syeikh Ahmad ThayyibGrand Syeikh Al AzharINSISTSInstitute for the Study of Islamic Thought and CivilizationIslamic College Londonkonflik Sunni-SyiahMesirSaturday ForumsunniSunni-SyiahSyamsuddin ArifSyeikh Mahmud SyaltutsyiahSyiah di MesirUnversitas Al-Azhar Kairo
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah Pusat Bantah Ambilalih Proyek 6 Ruas Tol Jakarta
Tulisan selanjutnya Rombongan Dakwah FPI Dipersekusi Preman di Bandara Tarakan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?