Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Dari Masjid Darurat Pengungsi Lombok Bergeliat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Agustus 2018 08:54 8:54 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Agustus 2018 08:45
Bagikan
Warga Dusun Jorong, Sembalun, Lombok Timur, menggelar shalat Jumat pertama di Masjid Istimewa Ramah Gempa, Jumat (10/08/2018). Sebelum masjid darurat itu didirikan, masyarakat shalat Jumat di petak sawah yang dibabat menjadi lapangan.
Bagikan

“SAYA sungguh bahagia!” Ada rasa yang bergemuruh dalam dada Aji Wira, pengungsi asal Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Apa gerangan yang membuat pengungsi korban gempa NTB ini begitu bahagia?

“Saya bahagia karena bisa berbagi,” kata pria paruh baya itu. Matanya berkaca-kaca ketika membopong sekarung wortel hasil panennya untuk dibagikan kepada para pengungsi -juga- di daerah Gangga, Kabupaten Lombok Utara.

Sudah beberapa hari ini -seminggu pasca gempa 7 SR melanda Lombok, 5 Agustus 2018- para pengungsi di Desa Sembalun Bumbung justru tergerak hatinya turut membantu para pengungsi korban gempa lainnya di Lombok Utara.

“Rumah saya rata dengan tanah, Pak,” Aji Wira mengenangkan. Para pengungsi di hadapan Pak Aji, sapaan karibnya, tak kuasa mengucapkan apa pun.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Baca: Kesaksian Kakek Selamat dari Reruntuhan Masjid Saat Gempa

Mereka berdecak kagum, bagaimana mungkin seorang yang rumahnya luluh lantak malah turut membantu para korban lainnya?

Para pengungsi ini saling berpelukan dan saling berbisik untuk saling mendoakan. “Terima kasih, kami terharu,” kata pria bersarung datang memeluk Aji Wira.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari empat jam, seakan ‘penderitaan’ Pak Aji sirna setelah melihat wajah saudaranya yang juga senasib.

Senyum sumringah tak hanya merekah dari wajah Pak Aji. Masih ada ribuan pengungsi di Desa Sembalun, yang justru kini merasakan kebahagiaan yang dirasakan Pak Aji.

Baca: Kisah Ibu Selamatkan Bayi Berusia Sehari dari Reruntuhan Gempa

Padahal, seluruh penduduk Sembalun Bumbung kini mengungsi. Pak Oza, tokoh masyarakat Sembalun mengatakan, gerakan berbagi ini berawal dari masjid. Masjid sederhana yang dibangun seminggu usai gempa besar kedua melanda Lombok.

“Kami sempat shalat Jumat di sawah,” katanya. Tepatnya di tengah sawah yang dibabat menjadi lapangan. Warga Jorong, Sembalun Bumbung, tidak berani kembali ke masjid-masjid mereka yang retak dan separuh doyong.

Waktu itu, hanya langit yang menaungi mereka.

Jangan tanya panasnya terik yang langsung menyengat kulit. Lebih dari cukup bagi mereka shalat berjamaah dengan nyaman.

“Alhamdulillah, berkisar dua minggu setelah mereka mengungsi karena gempa (pertama), datang kawan-kawan lembaga Sinergi Foundation bersama warga mendirikan masjid,” kata Oza.

Baca: Kisah Heroik Nenek Selamatkan Cucu dari Reruntuhan Saat Gempa

Masjid Darurat Jorong Sembalun, warga menyebutnya. Bangunan sederhana beratap terpal berwarna jingga itu sekilas tampak seperti tenda – tenda pengungsian lainnya. Tiang penyangganya berbahan bambu, diikat dengan bambu pula.

Siapa sangka, di bawah terpal itu, kalam suci mengalun merdu. Di kaki Gunung Rinjani, suara adzan itu mengalun merdu. Di bangunan sederhana itu, para pengungsi berdiri, rukuk, dan sujud. Bangunan sederhana ini lebih dari cukup bagi mereka untuk shalat berjamaah dengan nyaman.

Masjid ini berdiri tegak; tanpa menara; tanpa pelantang; tanpa beton bertulang yang justru luluh lantak menantang gempa. Dari bawah bungkusan terpal ini, warga memupuk harapan.

Baca: BMH dan Laznas Lain Bersinergi Bantu Korban Gempa NTB

Adalah relawan yayasan Sinergi saat itu, Maftuh Supriadi, yang disebut Oza menginspirasi warga agar optimistis dan bangkit.

“Gerakan berbagi ini diinisiasi bersama dari masjid sederhana ramah gempa ini,” kata Oza.

Ia mengatakan, masjid ini dibuat bersama-sama dan ‘dikebut’ hanya setengah hari, sehingga shalat Jumat kini bisa digelar di masjid.

Pada shalat Jumat pertama -setelah ada masjid alias Jumat kedua pasca gempa 7 SR- ini pula, Maftuh didaulat warga menjadi khatib. Kesempatan ini dimanfaatkan sang ustadz untuk terus menguatkan tauhid, bahwa semua yang terjadi merupakan rencana Allah, Sang Maha Pengasih.

Baca: Tanda Cinta Keluarga Palestina, Bangun Masjid Darurat untuk Korban Gempa NTB

“Saya ingin warga Sembalun Lombok Timur, bangkit dan tidak terus menerus berkabung dengan musibah gempa,” kenang Maftuh.

“Makanya saat ceramah, beberapa kali saya sampaikan kisah Abdurrahman bin Auf yang saat hijrah dalam keadaan miskin dan kelaparan. Kendati demikian, ia tetap bersemangat kerja dan bersedekah meski dalam kondisi sulit,” tambahnya.

Ceramah Maftuh ini, kata Oza, justru tak disangka membuat warga begitu terharu. Esok harinya, warga berdatangan ke masjid darurat membawa hasil bumi; sayur, bawang, tomat, selada, strawberi, dan sebagainya.

“Mereka semangat memberikan bantuan untuk saudara kita di Lombok Utara, yang terdampak gempa lebih parah. Mereka mendermakan 45 ton sayuran hasil tani mereka,” kenang Oza.

Baca: Jumatan Pertama Pengungsi Korban Gempa di Masjid Darurat

Tak ada yang menyangka, dari bawah masjid sederhana berlapis terpal ini, ruang solidaritas terus mengalir. Satu per satu warga kembali tersenyum ceria. “Bahwa memang kami sedang susah, tapi masih banyak warga yang rupanya masih membutuhkan bantuan kita,” kata Aji Wira.

Di Sembalun Bumbung, hingga Sabtu (18/08/2018), lebih dari 50 ton sayuran hasil bumi dari desa Sembalun disumbangkan untuk korban gempa di Lombok Utara, termasuk oleh Pak Aji Wira.

Koordinator Lapangan relawan yayasan tersebut, Eggie Ginanjar mengatakan, ia bersama warga Sembalun kini akan membangun masjid yang lebih layak sebagai pusat aktivitas warga: belajar, musyawarah, trauma healing, tausiyah, dan lain sebagianya.

“Insya Allah dari masjid, Lombok bangkit, Sembalun telah mengajarkan kita,” pungkas Eggie.* Rizki Lesus/INA

Baca: Masjid Darurat untuk Korban Gempa NTB

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Desa Sembalun BumbungDusun Joronggempa bumigempa Lombokgempa NTBkorban gempakorban gempa Lombokkorban gempa NTBLombokLombok bangkitLombok Timurmasjidmasjid di Lombokmasjid di NTBNTBpengungsipengungsi korban gempaSinergi FoundationYayasan Sinergi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya AS Jatuhkan Sanksi 4 Tentara Myanmar karena Pelanggaran HAM Berat
Tulisan selanjutnya Pengadilan HAM PBB: Lula da Silva Berhak Maju Capres Brazil

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?