Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Nak! Jangan Jadi Pemimpin Stuntman

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Agustus 2018 09:20 9:20 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Agustus 2018 09:20
Bagikan
Bagikan

JODI Setiadi saat hendak dilantik menjadi kepala daerah meminta nasihat kepada ayahnya yang bernama Cahyadi, “Assalamu’alaikum. Bapak….Sebentar lagi aku akan diangkat menjadi pemimpin. Jodi minta nasihatnya.” Mendengar permintaan anaknya, Cahyadi termenung cukup lama. Dengan mimik wajah serius, keluarlah nasihat emas, “Nak! Jangan jadi pemimpin stuntman!”

“Lho, apa maksudnya pak? Kok ga boleh jadi pemimpin peran pengganti.” tanyanya agak keheranan. “Maksudku, kalau jadi pemimpin jangan sampai menjadi pemimpin figuran atau boneka; yaitu pemimpin yang tindakannya bukan orisinil dari integritasnya sebagai pemimpin, tapi didikte oleh orang lain. Pemimpin semacam ini tak layak jadi pemimpin. Ia hanya mengejar keuntungan pribadi ketimbang memperjuangkan aspirasi rakyat. Tindakannya pun mengarah pada hal-hal remeh untuk mendongkrak citranya.”

“Nak! Kamu tahu kisah Ibnu Alqami?” tanya Cahyadi kepada anaknya yang pernah nyantri di pondok tradisional dan modern. “Iya pak! Tokoh syi’ah, sang pengkhianat yang menyebabkan kejatuhan Daulah Abbasiyah di Baghdad.” “Kalau bapak, tak sekadar melihat dari sisi itu. Figur Alqami adalah gambaran dari pemimpin boneka, figuran alias stuntman.”

“Demi kepentingan pribadi dan golongan, jabatan mentereng yang diberikan kepadanya oleh Khalifah al-Musta’shim disalahgunakan. Ia berambisi mendapat kekuasaan dengan cara-cara curang. Ketika kesempatan tiba, ia bersekongkol dengan Hulaghu Khan untuk memporak-porandakan daulah dari dalam. Baginya, biarlah rakyat terpecah-belah, sengsara dan negeri terjajah asal dirinya mendapat kekuasaan dan keuntungan.”

“Baghdad pun hancur. Konspirasinya dengan orang nomer satu Mongol berhasil. Kamu pasti tau apa yang dia dapat. Orang Mongol tak menepati janji. Ia hanya dijadikan pejabat rendahan dan hanya menjadi penguasa boneka di sana. Alih alih mendapat kuasa, justru nasibnya menjadi orang terhina. Bahkan dengan nada satire ada ibu-ibu yang mencibirnya dengan pertanyaan. Intinya: pernakah dulu kamu diperlakukan seperti ini oleh khalifah Abbasiyah?”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Baca: Delapan Bekal untuk Para Pemimpin

“Iya Pak! Nasihat bapak akan selalu saya pegang. Ada lagi pak nasihat yang lain?” “Masih ada,” tukas laki-laki berusia 65 itu dengan nada meyakinkan, “jadilah pemimpin seperti Shalahuddin Al-Ayyubi!” “Sisi mana pak yang perlu dijadikan teladan?” tanyanya penasaran.

“Nanti kalau ada waktu lenggang, baca buku “Uluwwu al-Himmah” (Hal: 316) karya Muhammad Ahmad Ismail Muqaddam. Di situ Al-Qadhi bin Syaddad menggambarkan kapasitas agung kepemimpinan Shalahuddin.”

Shalahuddin adalah tipe pemimpin berintregitas tinggi, tegas, berpikir dan bertindak besar dan yang jelas bukanlah seorang stuntman. “Kamu tahu cita-citi tinggi Shalahuddin? Ia ingin memerdekakan Aqsha dari tangan penjajah. Bagi  Shalahuddin, masalah Al-Aqsha adalah perkara amat besar yang tak kan mampu ditanggung gunung sekalipun.”

“Nak! Kehilangan Al-Aqsha bagi beliau laksana seorang ibu yang kehilangan anak yang berkeliling  sendiri untuk mencari anaknya. Beliau memotivasi umat Islam untuk berjihad (merebut kembali Al-Aqsha), seraya berkeliling melibatkan diri secara langsung untuk menemukannya, seraya berujar, ‘Wahai umat Islam!’ pada waktu bersamaan, kedua matanya basah dengan air mata.”

Dari diksi-diksi yang dipakai, terasa jelas betapa tingginya cita-cita Shalahuddin: gunung saja tak mampu menanggung beban problem Al-Aqsha, antusiasnya dalam membebaskannya bagai ibu yang kehilangan anaknya.

Sebagai pemimpin dia bukanlah pemimpin boneka yang gila citra dan suka mencari keuntungan pribadi. Beliau adalah pemimpin yang sangat peduli dengan nasib rakyatnya. Bagi kebanyakan umat Islam kala itu membebaskan Aqsha –dengan kondisi rill saat itu—hampir terbilang mustahil. Namun, tidak bagi Shalahuddin. Beliau bekerja keras tanpa lelah, menyatukan umat, menggalang persatuan, berpikir dan bertindak besar.

Baca: Bekal Diri agar Tak Jadi Pemimpin Dzalim 

“Berbeda dengan Alqami, nasib pemimpin sekaliber Shalahuddin berujung manis. Al-Aqsha menjadi merdeka kembali, persatuan umat bisa tergalang dan izzah Islam kembali ke pangukan umat.”

“Baik pak! Terimakasih atas nasihat sangat berharga ini. Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.”

Nasihat Pak Cahyadi ini hanyalah imaginer, namun sangat penting direnungkan di tengah pecintraan para pemimpin negeri yang begitu tinggi. Apalagi, mendekati tahun-tahun Pemilu, janji-janji manis pemimpin akan kembali diucapkan yang pada akhirnya sering dilanggar sendiri ketika menjadi penguasa. Karena pada hakikatnya, selain kepentingan pribadi, ia tak sungguh-sungguh berkuasa. Ada dalang-dalang besar yang berada di belakangnya.

Seorang pemimpin yang memburu keuntungan pribadi dan disibukkan dengan membesarkan citranya yang sebenarnya kecil dan tidak disertai dengan pikiran dan tindakan besar untuk rakyat, maka tidak layak dijadikan pemimpin.

“Barangsiapa ingin mengambil teladan yang baik, maka ambillah teladan orang yang sudah meninggal!” demikian sepenggal nasihat dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Di bumi pertiwa ini, ada banyak pahlawan-pahlawan besar yang bisa diteladani bagi orang yang menjadi pemimpin agar tidak menjadi figuran, boneka dan stuntman. Mereka adalah orang yang berjuang bukan untuk kepentingan pribadi dan hal-hal remeh, tapi untuk kemaslahatan yang lebih besar bagi bangsa dan negara.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bonekaDaulah AbbasiyahfiguranKhalifah al-Musta’shimpemimpinpemimpin teladanShalahuddin al-AyyubiStuntman
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Partai Swedia Pecat Anggota Keturunan Turki
Tulisan selanjutnya Mahathir Ingin ‘Tembok Besar Kuantan China’ Dihancurkan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?