Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

TK “Halima”, Salah Satu Pelopor Itegrasi Muslim di Jerman

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Januari 2014 14:21 2:21 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Januari 2014 14:21
Bagikan
Seyma Bozkurt mendapat pekerjaan karena jilbab
Bagikan

SALIH sedang bermain dengan teman-temannya. Ia menggunakan bahasa Turki dan Jerman secara bergantian. Anak-anak lain di TK Halima biasanya menguasai bahasa Arab dan Jerman. Ayah Salin, Mesut Palanci, adalah ketua perhimpunan pengelola taman kanak-kanak tersebut. Ia turut terlibat dalam upaya pendirian TK tersebut 15 tahun yang lalu. TK Halima termasuk salah satu taman kanak-kanak Islam pionir di Jerman. Sebelum Halima baru ada dua taman kanak-kanak serupa. Satu diantaranya, TK Islam di München, ditutup beberapa tahun yang lalu karena dicurigai berpaham Islam radikal.

Ide mendirikan taman kanak-kanak di kota Karlsruhe yang disesuaikan dengan kebutuhan orangtua beragama Islam muncul di tahun 1993. Motivasi utama saat itu adalah mengajarkan anak-anak tentang materi agama seperti berdoa, atau hari besar penting seperti Ramadhan dan Idul Fitri. Beberapa orangtua menjalani pengalaman negatif di taman kanak-kanak lain. Tidak ada empati bagi mereka yang beragama Islam. Seperti misalnya makanan tanpa daging babi. Demikian kisah Mesut Palanci.

Mesut Palanci, pionir pendiri TK Islam

Baru lima tahun kemudian, ijin mendirikan taman kanak-kanak Islam berhasil mereka dapatkan. Pihak yang berwenang ingin mengetahui secara rinci konsep pedagogik mereka. Khususnya di bagian agama. Karena tidak ada yang tahu apa yang seharusnya dituliskan, Palanci dan orangtua lainnya menyalin konsep TK Kristen. Kata “Yesus” mereka ganti dengan “Nabi Muhammad”.

Pada akhirnya, proposal tersebut mencapai 56 halaman ukuran A4. Palanci menegaskan, Islam hanya bagian kecil dari proses pendidikan anak. “Kami sangat terbuka”, jelasnya. “Tidak akan ada khotbah dan tidak ada yang harus menghafalkan ayat al-Quran di sini,”

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Ketakutan radikal

Marion Steck dari kantor urusan anak dan remaja di negara bagian Baden-Württemberg mengenal masalah ini. Kantornya yang bertugas memberikan ijin atau menolak pendirian sebuah taman kanak-kanak. Semua proposal akan diteliti secara seksama terlebih dahulu.

“Kami juga akan memeriksa latar belakang sang penanggung jawab”, jelas Steck. Mereka harus memastikan tidak ada hal negatif seperti kegiatan ekstrim sebuah agama yang bisa kontraproduktif. Pengurus perhimpunan di balik TK Halima lolos dengan nilai bagus.

Ini terbukti dengan tanggapan positif dari orangtua anak-anak di TK tersebut. Daftar tunggu untuk bisa diterima disana sangat panjang. Banyak yang langsung mendaftarkan anaknya setelah baru dilahirkan.

“Sayangnya masih terlalu sedikit anak beragama Kristen yang mendaftar,” ujar Mesut Palanci dengan kecewa. Ini bisa menjadi campuran yang baik dan mungkin bisa turut membantu untuk mengurangi rasa takut pada agama Islam.

Beberapa orangtua Jerman mungkin mengidentifikasi Islam dengan organisasi teror. Padahal mereka bisa menarik keuntungan dengan memasukkan anak mereka ke TK Halima. Karena dibandingkan dengan banyak TK Kristen, Halima punya dana lebih besar dan staf lebih banyak.

Bisa bicara bahasa Jerman

Şeyma Bozkurt dan Mirela Dedajic sudah bekerja di TK Halima sejak awal berdirinya.

Kedua pendidik ini keturunan Turki dan Bosnia dan menguasai bahasa Jerman dengan sempurna. Seyma Bozkurt mengenakan jilbab. Perempuan berusia 36 tahun ini mengatakan, anak-anak tidak peduli apa yang ia pakai. Lagipula Mesut Palanci mempekerjakannya justru karena jilbabnya.

Palanci mengakui hal tersebut. Ia menyebutnya “diskriminasi positif”. Di fasilitas pendidikan di perkotaan, perempuan berjilbab akan kesulitan mendapat pekerjaan. Ia sering melihat perempuan yang harus melepaskan jilbabnya sebelum berangkat bekerja dan baru mengenakannya setelah selesai jam kerja. “Ini seperti pemisahan manusia dan saya turut merasa terluka”, ujar Palanci.

Campuran sempurna

TK Halima turut berperan dalam integrasi kaum Muslim di Jerman. Biasanya ibu muslim yang berkarir akan mengambil cuti melahirkan dan membesarkan anak untuk waktu yang lama. Sejak ada TK Islam, semakin banyak ibu yang berani kembali bekerja lebih awal. Dalam 1,5 tahun lagi, TK Halima kedua akan dibuka di Karlsruhe. Anak-anak mulai umur 1 tahun sudah diterima disana. Para pengelola berharap, dengan demikian akan semakin banyak anak beragama Kristen yang didaftarkan.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Jerman
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Memahami dan Menyikapi Paham Sesat”
Tulisan selanjutnya Uskup Mbalelo, Benediktus XVI Memecat Ratusan Pendeta Pedofil

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?