Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Demam Politik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Oktober 2018 08:36 8:36 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Oktober 2018 08:36
Bagikan
Bagikan

Oleh: Andi Ryansyah

 

SEPERTI biasa, saat musim Pemilu tiba, orang-orang ramai membicarakan politik dan berkampanye. Bahkan sekarang, emak-emak sampai ikut-ikutan. Sebuah fenomena. Tabiat orang kita sepertinya suka melihat dan mengomentari dua pihak yang saling beradu. Beradu apa saja. Tinju, sepak bola, bulutangkis, cupang, termasuk calon presiden (capres). Kelihatan seru sekali kalau sudah bela jagoannya dan serang lawannya.

Benar, politik itu penting, karena darinya menetas kebijakan-kebijakan yang berdampak pada kehidupan sosial ekonomi kita. Tak ada yang salah sebenarnya bila ada di antara kita yang menaruh perhatian, dukung-mendukung capres, atau terjun ke dalamnya. Boleh-boleh saja.

Namun, jangan sampai antusias kita pada pemilihan presiden (Pilpres) menjadikan kita lemah dan pasif. Maksudnya, kalau yang menang nanti yang tidak kita dukung, jangan lantas umat merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kalau yang menang nanti jagoannya, jangan kemudian hanya menggantungkan nasib kepadanya. Karena sebagus atau sejelek apapun kebijakan presiden yang menetas nantinya, toh kita juga tetap harus membanting tulang sendiri untuk memperpanjang napas, bukan?

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Baca: Wantim: MUI Tidak Boleh Dipakai Kampanye Pilpres

Kita tahu sendiri, presiden sudah berganti-ganti, tapi tidak membawa kemajuan yang terlalu berarti bagi rakyat. Jadi rasanya tidak usah terlalu berharap kepada presiden. Jangan menjadi hamba presiden. Jadi hamba Allah saja.

Penulis setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bung Hatta (1953), “Saya mempunyai keyakinan, bahwa tidak pemimpin, berapa juga pintarnya dan mampunya, melainkan rakyat sendiri yang cakap memperbaiki nasibnya. …Sebab itu tidak layaknya, kalau rakyat hanya tahu membebek di belakang pemimpin.”  Itu kalau pemimpinnya pintar dan mampu, apalagi kalau pemimpinnya bodoh dan tidak becus. Sangat-sangat terlarang buat kita menjadi bebek!

Sejarawan Fernand Braudel dalam Kuntowijoyo (1993) mengatakan, perubahan politik itu tergolong sejarah jangka pendek yang waktunya sepuluh sampai lima belas tahun saja.  Sedangkan perubahan sosial, ekonomi, dan kultural digolongkannya ke dalam sejarah jangka menengah. Tiga ladang ini yang malah tampaknya kita kurang garap. Kita lebih asyik dan semangat dengan hajatan Pilpres tiap lima tahun yang dampaknya seperti dikatakan tadi, tidak membawa kemajuan yang terlalu berarti bagi masyarakat.

Baca: Pemilu, JK Berharap Umat Islam Berpartisipasi

Tapi, bukan berarti politik harus ditinggalkan sama sekali. Karena penggarapan tiga ladang tadi juga bisa terhambat kalau pejabat menelurkan kebijakan yang tidak bersahabat. Ini soal prioritas saja. Bahwa untuk saat ini, tiga ladang itu rasanya lebih perlu diprioritaskan ketimbang politik, karena lebih berdampak langsung kepada masyarakat. Kita tetap bisa berbuat untuk bangsa ini tanpa harus lewat politik.

Di saat politik (negara) kerap absen menyejahterakan rakyatnya, kita bisa menggarap bidang ekonomi. Masalah seperti kemiskinan, kesejahteraan buruh, petani, dan nelayan, ketidakadilan kepemilikan lahan, impor pangan, dan lain sebagainya banyak luput dari perhatian kita. Kita bisa melakukan advokasi, pembinaan, dan pemberian modal bagi masyarakat seperti buruh tani dan nelayan, yang dengannya membuat mereka jadi mandiri dan berdaya. Sehingga tidak lagi bergantung pada negara.

Kerja-kerja seperti ini memang tak sementereng bila dibandingkan dengan menjadi pejabat negara atau aktivis politik. Tak menjadikan mereka yang terjun di dalamnya sering masuk layar kaca, koran, majalah, dan media online, terpandang, terkenal, jadi buah bibir publik, dikerubungi wartawan, berduit tebal, mendapat tepuk tangan dan puja-puja massa. Namun, apalah arti itu semua kalau masyarakat tak makmur-makmur? Artinya memakmurkan diri sendiri?*

Penulis adalah wartawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:caprespemilupresiden
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sahabat Al-Aqsha Serahkan Genset dan Logistik untuk Korban Gempa Palu
Tulisan selanjutnya Milad III WPMI Dorong Muslimah Perkuat Ekonomi Keluarga-Bangsa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Berita
2 September 2026 21:40
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Terbaru

  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?