Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Derita Uighur: Diintai, Ditahan Massal, Disiksa, Keluarga Diceraiberaikan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Oktober 2018 11:46 11:46 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Oktober 2018 11:46
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Amnesty Internasional memaparkan penderitaan orang-orang yang telah kehilangan kontak dengan keluarga ataupun teman mereka yang ditahan di Uighur Xinjiang (XUAR).

Telah diwawancarai lebih dari 100 orang di luar China yang telah kehilangan anggota keluarga mereka di XUAR dan orang-orang yang disiksa di kamp-kamp penahanan di sana.

Amnesty Internasional mengungkap, penahanan orang-orang dari kelompok etnis mayoritas Muslim di XUAR meningkat sejak Maret 2017, ketika aturan terkait “deradikalisasi” diadopsi di daerah tersebut.

“Secara terbuka atau pribadi menunjukkan afiliasi agama dan budaya termasuk menumbuhkan jengggot yang ‘tidak normal’, menggunakan hijab, melaksanakan ibadah, berpuasa atau tidak meminum alkohol, atau memiliki buku atau artikel terkait Islam ataupun budaya Uighur dapat dianggap sebagai ‘ekstremis’,” ungkap Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, dalam laporan Amnesty International tentang kondisi Muslim Uighur kepada hidayatullah.com, Sabtu (13/10/2018).

Baca: Saya Muslim Uighur yang Melarikan Diri dari Aksi Brutal China

Bepergian ke luar negeri untuk bekerja dan melanjutkan pendidikan khususnya ke negara-negara mayoritas Muslim atau melakukan komunikasi dengan orang-orang yang berada di luar China, kata Amnesty, bisa menjadi alasan utama seseorang menjadi target dari aktivitas pengintaian.
Laki-laki, perempuan, muda ataupun tua, mereka yang tinggal di kota atau di daerah perdesaan semuanya beresiko untuk ditahan.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Pemeriksaan keamanan yang hampir ada di setiap wilayah dan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari bagi mereka yang tinggal di XUAR.
“Sering petugas keamanan memerika telepon genggam untuk memeriksa konten-konten yang mencurigakan atau memeriksa identitas orang-orang menggunakan software pendeteksi wajah,” tutur Amnesty.

Orang-orang dengan mudah dicurigai melalui pemantuan pesan-pesan yang dikirimkan di aplikasi media sosial seperti WeChat yang tidak menggunakan sistem enkripsi. Menggunakan aplikasi alternatif berenkripsi seperti WhatsApp bisa berujung pada penahanan.

Baca: Kemana Keadilan bagi Muslim Uighur di China?

Amnesty menceritakan, otoritas setempat menyebut kamp-kamp itu sebagai pusat “transformasi-melalui-pendidikan”, tapi banyak juga yang menyebutnya “kamp-kamp pendidikan ulang”.
“Mereka yang dikirim ke kamp-kamp tidak akan menjalani pengadilan dan tidak memiliki akses pengacara dan tidak memiliki hak untuk menggugat penahanan tersebut. Orang-orang akan menderita berbulan-bulan di kamp-kamp penahanan karena hanya otoritas setempat yang berhak untuk menyatakan apakah seseorang telah ‘berubah’ atau belum,” ujarnya.

Seorang warga Uighur, Kairat Samarkan, dikirim ke kamp penahanan pada Oktober 2017 pada saat kembali ke XUAR setelah melakukan kunjungan singkat ke Kazakhstan. Polisi mengatakan kepada dia bahwa dia ditahan karena memiliki dua kewarganegaraan dan hal tersebut dianggap sebagai pengkhianatan terhadap negara. Ia dibebaskan pada Februari 2018.

Kairat menceritakan kepada Amnesty bahwa tangan dan kakinya dibelenggu dan dia dipaksa untuk berdiri tegap dan tidak boleh bergerak selama 12 jam ketika pertama ditahan.
Ada sekitar 6.000 orang di kamp yang sama, dimana mereka dipaksa untuk menyanyikan lagu-lagu politik dan mempelajari pidato-pidato Partai Komunis China. Mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara dan dipaksa menyanyikan “Hidup Xi Jinping” sebelum makan.
“Kiarat mengatakan kepada Amnesty International bahwa penyiksaan yang dideritanya mengakibatkan dia mencoba untuk bunuh diri sebelum akhirnya dibebaskan,” ujarnya.

Mereka yang menolak atau gagal menunjukkan perkembangan terancam hukuman mulai dari makian hingga tidak diberi makan, ditempatkan di ruang isolasi dan dipukuli. Banyak laporan terkait kematian di dalam tahanan termasuk bunuh diri oleh mereka yang tidak sanggup menjalani proses tersebut.

“Otoritas setempat menjustifikasi penggunaan tindakan ekstrem tersebut dengan dalih untuk melawan ‘terorisme’ dan menjamin ‘keamanan nasional’. Bagaimanapun juga, tindakan untuk melindungi warga negara dari ancaman harus proporsional,” tegas Amnesty.

Kamp-kamp penahanan massal tersebut, kata Amnesty, adalah tempat untuk mencuci otak dan menyiksa. Penahanan karena menghubungi keluarga di luar negeri, menurutnya, menunjukkan betapa tindakan otoritas China sangat tidak dapat dibenarkan.

Baca: Kisah Sedih Etnis Uighur yang Lari dari Kekejaman China

Mencerai-beraikan Keluarga

Selama berbulan-bulan, anggota keluarga dari korban yang ditahan di kamp penahanan hanya bisa menanggung penderitaan mereka sendirian. Mereka berharap kehilangan kontak dengan orang yang mereka cintai tersebut hanya sementara saja. Mereka khawatir akan memperkeruh situasi jika mencoba mencari pertolongan dari luar. Dikarenakan hingga saat ini belum ada kejelasan informasi, banyak dari mereka yang mulai secara publik berbicara.

Bota Kussaiyn, seorang mahasiswa yang berasal dari etnis Kazakh yang sedang belajar di Moscow State University, berbicara dengan ayahnya, Kussaiyn Sagymbai, melalui WeChat pada bulan November 2017. Berasal dari XUAR, keluarga mereka pindah dan menetap di Kazakhstan pada tahun 2013.

Ayah Bota kembali ke China pada akhir 2017 untuk bertemu seorang dokter tapi otoritas setempat menyita paspornya setelah sampai di XUAR. Bota mengetahui dari anggota keluarganya bahwa ayahnya dikirim ke “Kamp Pendidikan Ulang”.

Kerabatnya di XUAR sangat mengkhawatirkan bahwa komunikasi lebih jauh akan membuat mereka dalam ancamanan. Mereka akhirnya menghentikan komunikasi dengan Bota.

Baca: Home Stay: ‘Deradikalisasi dan Indoktrinasi’ ala Komunis China pada Keluarga Muslim

Bota mengatakan kepada Amnesty: “Ayah saya adalah seorang warga negara biasa. Kami adalah keluarga yang bahagia sebelum dia ditahan. Kami tertawa bersama. Sekarang kami tiak bisa tertawa lagi dan tidak bisa tidur di malam hari. Kami hidup dalam ketakutan setiap hari. Kejadian ini meninggalkan trauma mendalam pada ibu saya. Kami tidak tahu dimana ayah kami sekarang. Kami bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup. Aku ingin melihat ayahku lagi.”

Banyak anggota keluarga dan teman yang tinggal di luar negeri mengatakan mereka merasa bersalah karena komunikasi mereka membuat para kerabat di XUAR dalam bahaya.
“Otoritas setempat menuduh mereka memiliki hubungan dengan grup dari luar dan pemerintah China menuduh mereka mempromosikan ‘ekstremisme’ agama atau membuat rencana ‘teror’,” kata Amnesty.

Untuk menghindari kecurigaan dari otoritas, warga etnis Uighur dan Kazakhs dan lainnya di XUAR telah memutuskan hubungan dengan teman dan keluarga yang tinggal di luar China. Mereka memberitahu teman untuk tidak menghubungi atau meminta menghapus kontak di aplikasi media sosial. Karena para kerabat yang tinggal di luar negeri tidak mendapatkan informasi yang cukup maka mereka hanya bisa menduga hal terburuk telah terjadi.

Ketika orangtua ditahan, maka anak-anaklah yang menderita karena banyak keluarga yang akan mengalami kesulitan ekonomi. Anak-anak yang lebih tua dikirim ke pusat-pusat pelatihan milik negara, sementara adik-adik mereka dikirim ke “pusat-pusat kesejahteraan” yang dibangun sejak tahun 2017.

Baca: Muslim Uighur: “Situasi di Negara Kami Tidak Manusiawi”

Pengintaian

Untuk menambah tekanan kepada kerabat yang tinggal di luar negeri, petugas keamanan China secara agresif berupaya merekrut mata-mata yang berasal dari komunitas-komunitas yang ada di luar negeri. Mereka-mereka yang ditargetkan diancam bahwa keluarga mereka di XUAR akan ditahan jika mereka tidak kooperatif. Jika mereka koperatif, otoritas China menjanjikan anggota keluarga yang mereka cintai akan diperlakukan dengan tidak keras.

Ketidaktahuan mengenai komunitas-komunitas mana saja di luar negeri yang menjadi pelapor kepada otoritas keamanan China membuat kerabat hidup dalam kecurigaan, isolasi, dan ketakutan.

“Kampanye sistematis oleh otoritas China membawa konsekuensi yang buruk bagi kehidupan jutaan orang. Sekarang saatnya otoritas setempat untuk terbuka mengenai kamp-kamp tersebut dan menyatukan mereka kepada keluarga mereka kembali,” pungkas Amnesty.* Andi

Baca: Dunia Harus Desak China atas Kejahatan pada Uighur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amnesty internasionalchinaMuslim Uighurpenindasanrezim ChinauighurxinjiangXUAR
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Agar Trauma Tak Bertahan Lama di Donggala
Tulisan selanjutnya Pendeta AS Bebas, Trump Berharap Miliki Hubungan Baik dengan Turki

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?