Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Kisah Heroik Nelayan Hadapi Tsunami di Tengah Laut

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Desember 2018 14:12 2:12 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Desember 2018 14:07
Bagikan
`
Kasmin, nelayan asal Sumur, Pandeglang, Banten.
Bagikan

KASMIN, 45 tahun, sedang melaut di Selat Sunda pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. Hari itu dimana tsunami menerjang desanya, Sumberjaya di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, dan sejumlah kabupaten lain termasuk di Provinsi Lampung.

Kisahnya menyelamatkan diri dan kawan-kawannya dari tsunami begitu heroik. Kala itu, nelayan ini bersama dua tamunya dari Cibaliung, Desa Kampung Sawah. Mereka melaut berbekal kapal berukuran kecil dengan panjang delapan meter, lebar setengah meter.

Ketiga orang ini berangkat menuju laut pada siang hari sekitar pukul 14.00 WIB. Tujuan pertama mereka ialah rumpon (tempat pemancingan). Perjalanan ke sana ditempuh sekitar satu setengah jam.

“Cuaca siang itu bagus (langit) berawan,” kata Kasmin ditemui hidayatullah.com di kampungnya, Jumat (28/12/2018).

Mereka memancing di sana hingga pukul 17.00 WIB, sore. Selanjutnya, Kasmin dan kedua tamunya memilih spot di tempat lain. Mereka tidak hanya memancing, tapi juga memasang jangkar. Mereka memilih sekitar Pulau Umang dan Pulau Oar. Dua pulau ini ‘bersebelahan’.

Baca Juga

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi
Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam
Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’
Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

Baca: Kisah Para Penghafal Al-Qur’an Selamat dari Tsunami

Malamnya, pukul 19.00 WIB, mereka tiba di tempat pemancingan yang baru, lalu menurunkan jangkar. “Kira-kira seratus meter lah dari kedua Pulau, Umang dan Oar,” jelas Kasmin. Di sana mereka menetap sampai bencana itu tiba.

Sekitar pukul 21.30 WIB, mereka dikagetkan dengan adanya suara gemuruh yang tak biasa mereka dengar. Tidak lama mereka melihat gelombang yang cukup tinggi, jarak dari mereka diperkirakan hanya sekitar tujuh meter.

“Waktu itu kami asyik mancing, tiba-tiba ada suara aneh. Tak lama saya lihat ombak tinggi sekali, ya mungkin 8 meter, saya yang pertama lihat. ‘Itu naon (apa)?’ tanya saya pada dua tamu saya.”

Tak pakai waktu lama, ia sudah paham itu gelombang besar tsunami yang sedang menerjang mereka. Keputusan cepat diambilnya. “Saya langsung putusin jangkar, terus melaju melawan arah ombak ke tengah,” kisahnya.

Loh, kok malah ke tengah bukan ke pinggir?

“Kalau ada ombak besar memang harus ke tengah,” kata tokoh masyarakat di RT 01 RW 01 Sumberjaya ini seraya tersenyum berbagi pengalamannya.

Apa tidak hancur kapalnya diterjang gelombang?

“Enggak! Kalau di tengah laut, ombak itu masih padat, tidak pecah, dan lautnya masih dalam. Tapi ada tekniknya, tidak sembarang hajar ombak.”

Caranya, terang dia, “Jadi posisi kapal tidak lurus ketika berhadapan dengan ombak, tapi menyamping. Kayak mengiris cabe gitu. Jadi kita mengiris ombak,” jelasnya dengan sesungging senyum di wajah.

Salah satu perahu nelayan di Sumur, Pandeglang, Banten, Desember 2018. Seperti ini lah kapal yang digunakan Kasmin saat berjuang menghadapi tsunami di tengah laut. [Foto: Azim Arrasyid/hidayatullah.com]
Ia lanjut bertutur.

“Jarak (waktu) ombak pertama dengan ombak kedua kurang lebih lima menit. Ombak kedua tidak sebesar ombak pertama. Tapi kata orang di darat ombak kedua yang besar. Sebetulnya besarnya ombak (kedua) karena ada ombak pertama yang mulai turun ke laut tapi dihantam lagi dengan ombak kedua, jadi tambah besar. Kalau di laut enggak begitu,” ujar pria yang telah menghabiskan waktu sebagai nelayan tidak kurang dari 25 tahun ini.

“Pokoknya tujuan saya itu ke tengah laut. Sampai ombak yang ketiga lewat, Alhamdulillah tidak ada lagi ombak sebesar itu. Akhirnya kami ke bagang yang ada di tengah laut,” ungkapnya.

Baca: Sekeluarga Selamat dari Tsunami setelah Batalkan Nonton Band

“Sampai di bagang, kami bertemu dengan dua orang. Lalu kedua orang ini minta diantarkan ke darat karena khawatir dengan motornya. Akhirnya kami antarkan. Jadi di kapal itu ada lima orang. Kurang dari 50 meter dari bibir pantai, kami putuskan kembali ke tengah lagi karena takut mesin rusak. (Karena) waktu itu sampah di laut udah banyak sekali. Khawatir ada yang nyangkut di baling-baling, nanti bisa mati mesinnya,” ceritanya.

“Kami kembali lagi ke bagang. Sebelum kembali, kami melihat ada dua orang di atas pohon Pulau Oar mereka minta ditolong. Tapi keadaannya tidak memungkinkan, akhirnya kami biarkan aja, kami lanjut menuju bagang,” jelasnya.

“Kami sampai lagi di bagang jam sebelas (malam) mungkin. Kami menginap di bagang malam itu. Paginya, sekitar jam enam, baru kami menuju darat. Tiba di darat jam setengah delapan mungkin. Tapi kami mampir dulu selamatin orang yang tadi malam di pohon. Mereka masih di pulau itu. Untungnya, dua orang yang di bagang tidak ikut kami. Jadi kami hanya berlima di kapal,” tutupnya.* Azim Arrasyid

Baca: Pengalaman Spiritual Relawan Tsunami Banten

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BantenlautmaritimnelayanPandeglangSelat Sundatsunami Bantentsunami Selat Sunda
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bandara Gatwick London Dikuasai Perusahaan Prancis
Tulisan selanjutnya Hoax Syeikh Ali Jaber dan UAS Dukung Jokowi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Feature

South Lakes Islamic Centre Sambut Ramadhan dengan Buka Pintu bagi Jamaah dan Warga Non-Muslim

27 Februari 2026 07:00
Cermin

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta

3 Januari 2026 19:57
Feature

Mas Jazir: Dari Romo Mangun Sampai Masjidil Aqsha (bagian kedua)

26 Desember 2025 17:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?