Hidayatullah.com–Seperti dikutip Reuters, peristiwa ini ditandatangani pada 1 Januari lalu, sehari selepas para ilmuwan, ulama dan tokoh terkenal Arab Saudi telah merancang pembaharuan pendidikan untuk merubah kurikulum.
Pemerintah Arab Saudi kini termasuk negara yang ikut-ikutan sibuk dengan kampanye terorisme seperti AS setelah pristiwa Mei 2003 lalu.
Oktober lalu, pejabat Kementerian Pendidikan Arab Saudi telah menghapuskan buku-buku rujukan yang dituduhkan ikut menggalakkan tindakan teror oleh kaum muslim di negara itu.
Arab Saudi bersama lima negara Teluk yang lain bulan lalu telah menyetujui mengganti buku-buku teks sekolah yang ada.
Dokumen penandatanganan oleh para tokoh berpengaruh Arab itu juga mengkritik rancangan untuk mengubah kurikulum seperti telah ditekankan pihak Amerika Serikat yang bertujuan “membawa negara itu ke jalan orang-orang kafir.”
“Segala penghapusan atau perubahan kepada apa yang ditulis oleh cendekiawan Islam adalah bertentangan dengan seruan supaya bersatu karena perpaduan adalah berdasar kepercayaan agama,” kata isi pernyataan itu.
Golongan yang menamakan diri kelompok pembaharu di negara itu mengkritik dokument yang dibuat oleh kelompok ilmuan dan kalangan profesional tersebut.
Mereka yang menandatangani dokumen itu termasuk Sheikh Safar al-Hawali, juga Nasir al-Umar, seorang profesor di sebuah universitas Islam dan Abd Allah bin Jibrin, seorang bekas pejabat keagamaan di negara itu.
Pemerintahan Arab Saudi adalah salah satu diantara negara Islam yang telah bersekutu dengan Amerika Serikat.
Beberapa tahun lalu, sesudah peristiwa 11 September, Amerika Serikat telah menyatakaan keinginannya terhadap pemerintahan Aran Saudi untuk segera merubah kurikulum pendidikan agama di beberapa sekolah.
Majalah Al-Mujtama’, bahkan pernah menulis, pihak Amerika Serikat bahkan turut terlibat dalam usahanya melakukan intervensi ke Universitas Al-Azhar, Mesir, guna meloloskan ambisinya merubah kurikulum univeritas Islam terkenal itu agar condong ke AS. (rtr/cha)