Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Piala Hakiki Perempuan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Maret 2019 12:30 12:30 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Maret 2019 12:30
Bagikan
lgbt
International Women's Day (IWD) di 8 Maret 2019 di Jakarta/Foto: Suandri Ansah
Bagikan

Oleh: Dhelta Wilis

 

NERACA dunia berubah semenjak runtuhnya negara adidaya yang menguasi dunia dengan penerapan syariat Islam. Yaitu pada tanggal 3 Maret 1924. Neracanya kembali kepada tatanan pemikiran jahiliyah masa lampau sebelum datangnya Islam. Salah satu contohnya adalah penetapan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret disetiap tahunnya.

Sejak tahun 1909 perayaan ini dilaksanakan. Semangatnya adalah menuntut keadilan dan kebebasan untuk perempuan. Hari Perempuan Internasional ini digagas karena peristiwa kekerasan terhadap perempuan di Kota New York, Amerika Serikat pada tahun 1857 dan sejumlah peristiwa-peristiwa yang menyudutkan perempuan. Perayaan tersebut digagas oleh Feminis. Maka tidak heran jika gerakannya selalu ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan kaum Feminis yang menginginkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dengan mengubah peran perempuan seperti laki-laki. Karena keadilan yang mereka anut adalah sama rata atau yang sering mereka sebut kesetaraan.

Semangat Hari Perempuan Internasional ini sebenarnya sama dengan apa yang diperjuangkan oleh Perempuan-perempuan yang tidak menyukai perlakuan Yunani, India, Romawi, China, Eropa dan Arab jahiliyah terhadap perempuan. Yunani memperlakuan perempuan dari kalangan elit seperti tahanan sedangkan perempuan dari kalangan bawah dijadikan komoditi perdagangan. Begitu juga dengan perlakuan Arab jahiliyah yang mengubur hidup-hidup anak perempuan. Jika tidak dikubur perempuan tetap akan dipelihara dan diperlakukan secara tidak manusiawi

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Masalah kekerasan yang berbasis gender menjadi momok bagi perempuan kala itu. Kekerasan fisik seperti pemukulan dan penyiksaan, kekerasa emosional, kekerasaan ekonomi dan kekerasan seksual mereka rasakan sebagai bentuk ketidakadilan. Solusi yang mereka ambil adalah persamaan hak antara laki-laki dan perempuan sehingga perempuan tidak mau berada di bawah laki-laki. Piala tebaik menurut mereka adalah ketika kesetaraan itu terwujud dalam kehidupan. Dari perlakuan tersebut kaum feminis dengan bangga menggagas kebebasan perempuan dari ketertindasan. Gagasan tersebut dianggap sebagai solusi atas ketertindasan perempuan.

Baca: Ilusi Feminisme

Disisi lain, mereka menafikan keberhasilan Islam dalam memberikan piala kemuliaan bagi perempuan. Aktivis Gender menuduh Islam mendiskriminasi perempuan. Mereka membuat opini yang mendiskreditkan Islam yaitu tentang batasan aurat, peran perempuan dalam rumah tangga, poligami, Laki-laki yang berhak menalak istrinya, jumlah persaksian, menjadi pemimpin dan masalah warisan.

Batasan aurat, mereka (Feminis) anggap sebagai pemaksaan karena perempuan jadi tidak bebas beraktivitas. Masalah Poligami juga sering menjadi santapan lezat untuk menjatuhkan Islam. Di dalam Islam diatur poligami dengan batasan menikahi empat perempuan. Hal ini dipandang sebagai ketidakadilan menurut hawa nafsu mereka. Intinya gerakan feminis menuntut kebebasan perempuan untuk tampil di masyarakat dengan segala potensinya tanpa terikat dengan doktrin-doktrin agama.

Dengan berbagai upaya, mereka menyebarkan ide-ide kesetaraan gender. Kampanye, peringatan hari perempuan, pembentukan organisasi-organisasi perempuan, mengintervensi Undang-Undang dan lain sebagainya menjadi aktivitas yang selalu mereka lakukan. Akan tetapi sampai sekarang kemuliaan seorang perempuan tidak kunjung di dapat. Piala yang mereka inginkan sebagai kesetaraan perempuan dengan laki-laki juga menjadi piala yang semu belaka.

Berbagai kasus tetap saja terjadi. Kekerasan seksual, perempuan menjadi komoditi seks yang menjanjikan segunung keuntungan materi, kekerasan fisik, angka kematian perempuan yang semakin tinggi akibat aborsi, menjadi penyuka sesama jenis (lesbian), dan tingginya angka free sex karena bagi feminis menikah adalah suatu bentuk ketertindasan. Begitulah hasil dari kebebasan yang mereka inginkan. Dalam pandangan mereka, perempuan mempunyai hak atas tubuh mereka sendiri.

Baca: Menyikapi Feminisme dan Isu Gender (1) 

Pemikiran Feminis

Ketidakberhasilan feminis memperjuangkan kesetaraan karena asas pemikiran yang mereka ambil adalah sekuler. Sekuler yaitu pemisahan agama dengan kehidupan. Mereka percaya kepada Allah tetapi tidak mau diatur oleh aturan Allah. Pada akhirnya gerakan ini cenderung bebas tanpa batas. Kebebasan itu pula yang selalu mengatasnamakan Hak Asasi Manusia.

Pemikiran sekuler inilah yang mengajarkan bahwa materi menjadi sumber kebahagiaan. Perempuan sukses dipandang dari segi kekayaan materi, kedudukan yang tinggi, dan gaya hidup. Perempuan yang berkarir bagus menjadi kebanggaan tersendiri di masyarakat saat ini. Sehingga banyak perempuan yang terlena dengan kemandirian ekonominya dan menyampingkan peran suami.

Jargon balance for better (kesetaraan lebih baik) yang diusung dalam peringatan Hari Perempuan Internasional sebagai contoh bahwa penganutnya menstandarkan kebahagiaan hanya pada materi saja yang mereka anggap sebagai piala kemenangan atas perjuangan menuntut hak kesetaraan.

 Kemuliaan Perempuan dengan Islam

Islam memiliki cara yang telah terbukti keberhasilan dalam memberikan piala kemulian yang terbaik untuk perempuan berabad-abad lamanya. Islam datang untuk memberikan keadilan dengan memuliakan perempuan sesuai dengan fitrahnya. Islam pula mengajarkan bahwa sumber kebahagian perempuan adalah Ridho Allah bukan hanya sekedar materi saja.

Islam menyadari bahwa laki-laki dengan perempuan memiliki fitrah yang berbeda sehingga cara memperlakukan keduanyapun berbeda. Keduanya memang berlomba memperoleh kedudukan yang sama di mata Allah yaitu berlomba memperoleh kemuliaan dengan menjalankan perannya masing-masing sesuai dengan fitrahnya. Tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk dihadapan Allah.

Baca: Kemuliaan Wanita; Antara Pandangan Feminisme .

Hal tersebut tentu berbeda dengan ide yang diusung oleh Kaum Feminis. Mereka berusaha mengusung kebebasan pada perempuan tetapi mereka tidak menyadari justru hal tersebut yan menjauhkan peremuan dari kodratnya. Bagaimana bisa perempuan mulia ketika menjauhi kodratnya? Sedangkan untuk memperoleh piala yang hakiki hanya bisa dilakukan dengan melakukan segala sesuatu sesuai dengan kodrat yang diberikan oleh Allah, Yang Maha Pengatur.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Surah An Nisa ayat 32 :

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”

Dalam Tafsir Jalalayn disebutkan bahwa (Bagi laki-laki ada bagian) atau pahala (dari apa yang mereka usahakan) disebabkan perjuangan yang mereka lakukan dan lain-lain (dan bagi wanita ada bagian pula dari apa yang mereka usahakan) misalnya mematuhi suami dan memelihara kehormatan mereka. Ayat ini turun ketika Ummu Salamah mengatakan, “Wahai! Kenapa kita tidak menjadi laki-laki saja, hingga kita dapat berjihad dan beroleh pahala seperti pahala laki-laki”.

Oleh karena itu, baik laki-laki ataupun perempuan akan sama-sama mendapatkan piala hakiki dari Allah Subhanahu Wata’ala karena ketaqwaan yang diraih bukan karena kesetaraan menurut hawa nafsu. Wallahu a’lam bishowab.*

Penulis pemerhati sosial

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:feminismegenderkeseteraanperempuanwanitaWanita Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rasulullah Muhammad ﷺ Sosok Ayah Sejati
Tulisan selanjutnya ‘Khilafah Utsmani dan Perang Salib’, Pesan Teror Brenton Tarrant

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?