Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Pilih Capres Terpuji, Bukan Orang Serakah dan Curang

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Februari 2014 08:19 8:19 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Februari 2014 08:19
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Yang membuat Indonesia terpuruk dan miskin adalah perilaku para elitnya. Hal itu semakin diperparah karena rakyat cuma diam dan menyerahkan pengurusan bangsa ini kepada orang-orang yang perilakunya tidak benar. Kinilah saatnya rakyat ‘menguliti’ karakteristik, kapasitas, dan integritas setiap calon presiden yang akan memimpin Indonesia ke depan.

“Seharusnya kita sepakat, bahwa tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak maju, kuat, berdaulat, dan sejahtera. Kita harus cegah lahirnya kebijakan yang bias kepada kepentingan. Rakyat harus tolak kebijakan yang sifatnya pemburu rente. Selama ini sudah terlalu banyak para pemburu rente di negeri ini,” ujar guru besar psikologi UI, Hamdi Muluk, saat berbicara pada peresmian Rizal Ramli Strategic Centre (RRSC), di Jakarta, Kamis (13/02/2013).

Sehubungan dengan itu, dia berpendapat rakyat harus ‘menguliti’ tiap capres sampai ke personality-nya. Harus dilihat adakah kemungkinan menjadi orang serakah, curang, culas, dan rent seeking. Tidak mungkin memberi amanah kepada orang yang diragukan karakternya. Indonesia hanya membutuhkan sekitar 1.500 orang baik dari 250 juta penduduknya untuk mengurus negara ini menjadi lebih baik.

Menurut Hamdi, para pemburu rente itu adalah orang yang ongkang-ongkang kaki namun menikmat jauh banyak daripada orang-orang yang bekerja keras. Dalam bahasa agamanya ini adalah zalim. Kesalahan terbesar bangsa ini adalah karena rakyatnya hanya diam saja melihat kezaliman itu terus berlangsung.

“Kalau orang serakah bertemu dengan orang pintar akan sangat berbahaya. Mereka akan menyusun berbagai kebijakan yang seolah-olah membenarkan perampokan uang negara oleh para pejabat publik. Rakyat tidak boleh diam saja. Caranya ke depan kita hanya akan menyerahkan urusan bangsa ini kepada orang benar-benar berperilaku terpuji, berintegritas, punya kemampuan memecahkan masalah. Dengan begitu negara tidak lagi salah urus seperti selama ini terjadi,” tukas Hamdi.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Pendapat senada juga disampaikan Yenti Garnasih, pakar hukum tindak pidana pencucian uang (TPPU). Kalau negara mau maju, harus dipastikan tidak ada orang-orang yang serakah. Cita-cita berdaulat di bidang pangan, misalnya, hanya bisa terwujud bila para pejabat public di bidang pangan tidak melakukan korupsi dan melahirkan kebijakan yang bias dengan kepentingan diri dan kelompoknya.

“Kalau ada pejabat publik tapi masih menjadi Ketua Umum Parpol¸ pasti kebijakannya akan bisa. Bahkan tidak mustahil yang bersangkutan akan korupsi. Jika orang sudah jadi tersangka, terdakwa, apalagi terpidana dia tidak boleh lagi menjadi pejabat public. Orang ini jelas penjahat. Kita tidak perlu lagi menghalus-haluskan bahasa, bahwa dia adalah penjahat,” kata dia.

Yenti berpendapat, UU TPPU bisa efektif mencegah atau memberantas korupsi. Melalui UU ini, siapa saja yang turut menikmati dana hasil korupsi, maka bisa dihukum bahkan dimiskinkan. Itulah sebabnya dia mengajak rakyat menolak korupsi dengan cara menolak hasil korupsi.

Sebelumnya dalam sambutannya Dr Rizal Ramli menyatakan bangsa Indonesia berada pada titik yang kian lama kian rendah saja.  Demikian rendahnya marwah bangsa ini, hingga negara kecil seperti Singapura bisa sibuk menolak pemberian nama kapal perang Republik Indonesia (KRI) Usman Harun.

“Apa yang dilakukan Singapura sekali lagi menunjukkan betapa kita tidak berdaulat. Saya benar-benar sedih. Ini semua terjadi karena korupsi pejabat sangat luar biasa, massif dan terstruktur. Tapi kita lihat sisi positifnya. Terkuaknya banyak skandal korupsi kita anggap bahwa bangsa ini sedang diayak Tuhan Yang Maha Esa. Dari sini tersisa adalah orang-orang bagus, yang punya integritas dan kapasitas untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik di masa depan. Indonesia yang maju, kuat, dan rakyatnya sejahtera,” pungkasnya.

Sementara itu, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Tyasno Suduarto menyatakan, kemajuan sebuah bangsa ditentukan dua hal. Yaitu, pemimpinnya dan sistem yang diterapkan.

Sayangnya sistem yang ada sekarang masih mengharuskan capres diajukan oleh partai. Pergantian pemimpin terjadi karena dua hal, yaitu lewat Pemilu dan nonpemilu, ” ujar Tyasno.*/Kiriman Edy Mulyadi, Juru Bicara Rumah Perubahan 2.0

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:capres
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tunjukkan Kasih Sayang dengan Cara yang Benar dan Diridhoi
Tulisan selanjutnya Antara Tradisi-Kultur Sunni dan Adu Domba Syiah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?