Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Benarkah Islam Bertentangan dengan Nasionalime Indonesia?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Juli 2019 13:02 1:02 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Juli 2019 13:05
Bagikan
Bagikan

ADA buku kecil yang menarik terkait Islam dan Nasionalisme; khususnya di Indonesia. Apakah keduanya bertentangan? Atau justru keberadaan Islam dan umatnya justru melahirkan nasionalisme yang berdampak pada kemerdekaan atau kebangkitan Indonesia?

Prof. Dr. H. M. Rasjidi dalam buku berjudul “Islam dan Nasionalisme Indonesia” menyampaikan poin-poin menarik mengenai hal itu. Buku ini adalah bantahan yang beliau tujukan kepada AMW Pranarka atas wawancaranya yang berjudul “Secara Kulturil Nasionalisme adalah dasar Sejarah Indonesia” yang dimuat Suara Karya pada hari Jumat 14 April 1978.

Pada wawancara itu, Islam –awalnya secara tersirat– disebut sebagai agama pendatang yang bertentangan dengan nasionalisme. Nasionalisme disebut sebagai dasar sejarah Indonesia. Sementara Islam diidentikkan sebagai agama asing yang bisa merong-rong nasionalisme. Untuk menguatkan asumsinya, digunakanlah teori filsafat Hegel tentang dialektika, negara dan lain sebagainya.

Karena itu, sebelum membantah pernyataan nyelenehnya, Pranarka, Prof. Rasjidi menguliti terlebih dahulu pandangan keliru Hegel.

Nasionalisme yang dikatakan oleh Pranarka dalam wawancaranya itu yang dikatakan sebagai dasar sejarah Indonesia jelas keliru. Sebab, menurut pemikir Muslim jebolan Al-Azhar dan Sorbon ini, nasionalisme dalam arti kata yang modern baru dikenal orang pada akhir abad ke-18.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Padahal, menurut ilmuan Barat, nasionalisme malah bisa menimbulkan konflik. Menurut Filsuf Inggris, John Stuart Mill misalnya –sebagaimana yang diterjemahkan oleh Prof Rasjidi, menyatakan, “Nasionalisme tidak selalu memperdulikan nasib kelompok manusia kecuali yang sebangsa dan sebahasa.” Jadi, kepada yang tidak sebangsa dan sebahasa bisa terjadi konflik.

Menyitir statement Hans Kohn, disebutkan bahwa di mana-mana nasionalisme berbeda dalam sifatnya menurut kondisi sejarah masing-masing negara dan stuktur sosialnya. “Selain itu,” tulis Rasjidi, “nasionalisme tidak memudahkan pembentukan masyarakat manusia yang rukun dan bekerja sama.” Artinya, konsep ini justru bisa menimbulkan konflik dengan nasionalis lain yang tidak sama.

Di akhir pembahasan mengenai nasioanalisme, Hans Kohn mengatakan bahwa walaupun nasionalisme merupakan suatu unsur yang umum di seluruh dunia, tetapi ia merupakan kekuatan yang memecah belah. Itu kalau tidak dikendalikan oleh jiwa toleransi, kompromis yang liberal, universalisme humaniter sesuatu agama.

Kalau yang dimaksud dengan nasionalisme adalah spirit perjuangan untuk membangkitkan umat agar bangkit dan merdeka, maka peran nasionalisme umat Islam tidak bisa diragukan.

Pranarka pun mengakui bahwa pendekar-pendekar nasionalisme banyak lahir dari penganut agama Islam. “Jadi,” kata Menteri Agama Pertama Indonesia ini, “tak ada distingsi assosiatif antara penghayatan ke-Islam-an dan penghayatan nasionalisme.”

Orang yang berpolitik atas dasar agama Islam, sama saja dengan pendekar-pendekar nasionalisme Islam.

Lebih jauh dari itu, Islam kata Rasjidi adalah satu unsur yang penting dalam nasionalisme Indonesia. Islamlah yang menyatukan orang di daerah-daerah. Maka tidak mengherankan ketika Cokroaminoto memimpin Sarikat Islam, mendapat respons dari seluruh kepulauan Indonesia.

Siapa yang meragukan –di samping Cokroaminoto– nasionalisme H. Agus Salim, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, A.R. Baswedan, Hamka, Natsir, KH. Wahid Hasyim, dan lain-lain? Bukankah mereka beragama Islam, dan agamanya malah menjadi spirit perjuangan menuju kemerdekaan dan kebangkitan nasional?* Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HegelHM RasjidiindonesiaislamIslam di IndonesiaNasionalimePranarka
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Komunitas Beta Hijrah Kupang Gelar Tabligh Akbar
Tulisan selanjutnya Petugas Haji Tiba di Tanah Suci, ‘Semoga Mabrur Bertugas & Beribadah’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Sejarah

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya

Sejarah
16 Oktober 2026 09:32
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?