Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Mamalik Bahriyah, “Pasukan Elit” yang Pelajari Al Qur`an dan Fiqih

Thoriq
Terakhir diupdate: 7 Juli 2019 05:27 5:27 am
Thoriq
Dipublikasikan 7 Juli 2019 05:27
Bagikan
Formasi berkuda: Salah satu isi halaman dari kitab Nihayatu As Sul wa Al Umniyyah fi Ta'allum wa Al 'Amal Al Furusiyah, yang ditulis di masa Mamalik.
Bagikan

SETELAH pasukan Salib berhasil menguasai Dimyath dan mengalahkan pasukan Muslim, Sulthan Shalih Najmuddin Al Ayyubi wafat. Sebelumnya, Sulthan datang dari Kairo dalam kondisi sakit keras untuk tinggal di istana Manshurah yang merupakan kota pertahanan umat Islam yang berdekatan dengan Dimyath. (As Suluk li Ma’rifah Duwal Al Muluk, 1/110, 111)

Meski wafatnya Sulthan Shalih dirahasiakan, namun akhirnya pihak Salib mengetahui akan hal itu. Mereka pun bergerak menuju Farskur, setelah itu menuju Manshurah. Pihak militer segera mengirim merpati ke Kairo untuk menyampaikan pesan, bahwasannya umat Islam harus mempersiapakan diri untuk berjihad. Pesan itu di sampaikan di mimbar-mimbar masjid Kairo. (As Suluk li Ma’rifah Duwal Al Muluk, 1/113)

Sampai akhirnya, pasukan Salib berhasil menyusup ke kamp militer Manshurah, mereka berhasil membunuh Amir Fakhruddin. Setelah berhasil membunuh salah satu pemimpin pasukan Muslim itu, pasukan salib dengan dipimpin oleh saudara Raja Louis IX, Ridafarns telah tiba di depan gerbang istana Manshurah. Kedatangan mereka disambut oleh pasukan berketurunan Turki, yang dikenal sebagai Mamalik Bahriyah, di antara mereka Ruknuddin Baibars Bundakdari. Pasukan yang jumlahnya terbatas ini berhasil menyelamatkan istana dan menghalau para penyerang, bahkan mereka berhasil membunuh sekitar 1500 dari pasukan penyerang. Pertempuran antara pasukan Muslim dan pasukan Salib pun terus berkecamuk di Manshurah, hingga terdengar kabar tentang kemenangan pasukan Muslim. (As Suluk li Ma’rifah Duwal Al Muluk, 1/114)

Sejak peristiwa Manshurah itu, kekuatan Mamalik Bahriyah tidak bisa dianggap remeh, dimana akhirnya merekalah yang mendominasi kekuatan dalam pemerintahan di Mesir pasca berakhirnya dinasti Al Ayyubiyah.

Sulthan Shalih Najmuddin Al Ayyubi sendiri mulai mengandalkan mamalik (para budak) sebagai pasukan setelah melihat kesetian mereka di saat ia berhadapan dengan rivalnya dalam kekuasaan yang tidak lain adalah pamannya sendiri Shalih Ismail ketika di Syam. Saat itu seluruh pasukan meninggalkannya, kecuali mamaliknya yang hanya berjumlah 70 orang. (Mufarrij Al Kurub, 5/234)

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Mengenai budak-budak itu, Al Maqrizi menyampaikan,”Ia (Sulthan Shalih) menjadikan mereka sebagai pejabat di negaranya, sebagai orang-orang khusus, pelindung, yang selalu berada di sekeliling keretanya ketika ia melakukan perjalanan, dan ia pun memberikan tempat tinggal bagi mereka bersamanya di benteng Raudhah, ia menjuluki mereka Mamalik Bahriyah.” (Al Khuthath, 2/236)

Disebut Mamalik Bahriyah, karena mereka tinggal di benteng besar yang di bangun di atas bahr (perairan) sungai Nil. (As Suluk, 1/111)

Sulthan Shalih Najmuddin Al Ayyubi membangun bentengnya di pulau Raudhah yang berada di tengah sungai Nil dengan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Benteng itu sendiri cukup besar hingga memiliki 60 menara. Di masa pemerintahan Sulthan Shalih di Kairo, benteng Raudhah merupakan pusat pemerintahan. Sulthan Shalih tinggal di benteng itu bersama sekitar seribu mamaliknya. (Muffarrij Al Kurub, 5/278)

Sulthan Shalih membeli banyak budak dan mendidik mereka sejak kecil. Di masa kanak-kanak para budak diajar untuk menghafal ayat-ayat Al Qur`an, tata-cara shalat, dzikir-dzikir. Setiap dari kelompok budak ada pengajar yang disebut sebagai faqih. Kebanyakan budak-budak itu bukan berasal dari wilayah Arab, hingga akhirnya perlu diajarkan kepada mereka baca tulis bahasa Arab. Ketika mereka beranjak remaja, maka diajarkan kepada mereka ilmu fiqih. (Al Ibar, 5/803)

Ketika mulai dewasa, mulai diajarkan pada para mamalik keterampilan bertempur, seperti melempar tombak, memanah dan menunggang kuda. Melalui kemampuan yang  mereka miliki, para mamalik akan menaiki tangga-tangga peringkat, hingga akhirnya mereka menjadi umara’. Para mamalik pun tinggal di tempat khusus, dan tidak hidup bersama masyarakat pada umumnya. Hal itu dilakukan demi menjaga kebiasaan yang ditetapkan kepada mereka hingga karakter mereka tidak berubah. Selama masa pendidikan, para mamalik diawasi secara ketat oleh para pendidiknya. Ketika ada dari para memalik itu melanggar peraturan yang ditetapkan, adab atau agama, maka mereka akan memperoleh hukuman. (Al Khuthath, 2/213, 214)

Para memalik disamping dididik, mereka juga mendapat perhatian khusus mengenai makanan mereka, dimana dibelanjakan harta cukup banyak untuk buah-buahan, daging, makanan serta pakaian, serta atribut-atribut yang terbuat dari emas dan perak untuk mereka. (Al Ibar, 5/803)

Daulah Al Ayyubiyah bukanlah pihak yang pertama menggunakan para mamalik Turki dalam militer. Di masa Khalifah Al Ma’mun dari Bani Abbas, penggunaan mamalik Turki sebagai pengawal khusus khalifah sudah dilakukan. (Husn Al Muhadharah, 1/594)

Tradisi itu berlanjut hingga Shalahuddin Al Ayyubi menguasai Mesir dan Syam, dimana ia membangun militernya dari mamalik Turki dan Kurdi, hingga ia memilki kekuatan militer yang sangat diperhitungkan. Hal itu dilakukan Shalahuddin dengan membelanjakan harta yang didapati dari jatuhnya Daulah Al Fathimiyah di Mesir. (Ar Raudhatain, 1/219)

Munculnya Daulah Mamalik dan Hancurnya Mongol di Ain Jalut

Di masa kritis, di saat pasukan Mongol hendak menyerang Mesir sedangkan saat itu kekuasaan berada di tangan Ali Al Manshur yang baru berumur 15 tahun, Mamalik Bahriyah lah yang mengambil tindakan cepat. Saifuddin Quthuz segera mengambil alih kepemipinan. Kemudian lahirlah pemerintahan baru yang dikenali sebagai Daulah Mamalik. Mereka inilah yang menghacurkan pasukan Mongol di Ain Jalut dan kelak mengakhiri kekuasaan Salib di Syam.

 

 

 

 

Redaktur: Thoriq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya kuota haji indonesia Kloter Pertama Jamaah Haji Indonesia Tiba di Madinah
Tulisan selanjutnya Sutopo Purwo Nugroho Humas BNPB Meninggal di China

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi

Berita
2 September 2026 20:16
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Terbaru

  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?