Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Sejarah Baru Pemikiran Islam di Alam Melayu – Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Juli 2019 23:04 11:04 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Juli 2019 23:00
Bagikan
Pakar peradaban dari Malaysia, Prof Wan Mohd Nor Wan Daud
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

 

SATU bab baru dalam sejarah pemikiran Islam telah tercatat, pada 15 Juni 2019 lalu. Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud dilantik sebagai pemegang pertama Kursi Pemikiran Islam Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas di RZS-CASIS UTM. Alhamdulillah, saya sempat hadir dan menyaksikan langsung peristiwa bersejarah itu.

Yang terakhir itu – RZS-CASIS UTM – singkatan dari Raja Zarith Sofiah-Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilization – Universiti Teknologi Malaysia. Yakni, satu institusi pendidikan tinggi setingkat S2 dan S3 di bawah naungan Universiti Teknologi Malaysia. Prof. Wan Mohd Nor sendiri adalah pendiri CASIS pada tahun 2011.

Pada 15 Juni malam itu, secara resmi nama CASIS berubah menjadi RZS-CASIS. Perubahan itu menandakan perhatian besar dari pemimpin tertinggi kampus UTM (Permaisuri Johor Raja Zarith Sofiah binti Almarhum Sultan Idris Shah) terhadap dunia pendidikan dan pemikiran Islam. Tidak banyak penguasa yang memiliki perhatian besar terhadap dunia pemikiran Islam yang tinggi, seperti pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Malam itu saya menyaksikan suatu peristiwa yang tidak biasa. Ruangan berkapasitas 500 orang nyaris penuh dengan hadirin yang berasal dari berbagai negara. Sejumlah duta besar hadir, seperti duta besar Bosnia, Yaman, Irak, dan Palestina. Cendekiawan dari sejumlah negara pun tampak hadir.

Prof. al-Attas telah menyetujui pembentukan “Kursi Pemikiran Islam Syed Naquib al-Attas”. Semula ide ini datang dari Syaykh Hamza Yusuf, seorang muslim berpengaruh di USA. Prof. al-Attas menyetujui Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud sebagai orang pertama pemegang kursi pemikiran Islam tersebut.

Prof. SMN al-Attas menyebut Prof. Wan Mohd Nor sebagai ilmuwan sejati yang ikhlas, jujur, dan setia kepada guru serta memiliki akhlak yang terpuji. Selama berpuluh tahun, Prof. Wan Mohd Nor telah menemaninya sebagai sahabat dan mengembara ke lembaga-lembaga keilmuan di berbagai pelosok dunia.

Saat saya tiba di kampus UTM Kuala Lumpur, Permaisuri Johor yang juga Canselor UTM, Raja Zarith Sofiah, sedang menyampaikan pidato ilmiahnya. Ia menekankan peranan penting Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam membina kemajuan suatu bangsa dengan tetap memegang asas pemikiran Islam yang kokoh. Peranan itulah yang kini diamanahkan kepada Prof. Wan Mohd Nor, yang telah belajar dan mendampingi Prof al-Attas dalam lapangan ilmiah dan pribadi selama lebih dari 30 tahun.

Baca: Prof Wan Mohd Nor Wan Daud: “Islamisasi Ilmu Tidak Berarti Anti Barat”

Wan Mohd Nor

Perjalanan intelektual dan ruhani Prof. Wan Mohd Nor memang sangat menarik. Sempat mendalami Ilmu Biologi dan Kurikulum Pendidikan di AS, kemudian belajar pemikiran Islam kepada Prof. Fazlur Rahman di University of Chicago. Di Kampus inilah ia bersahabat karib dengan Amien Rais dan Syafii Maarif. Mereka bertiga dikenal sebagai ‘Trio Chicago’.

Tahun 1994, Amien Rais pernah menulis sebuah artikel di Harian Republika, berjudul “Kecemerlangan”. Artikel itu berkisah tentang pengalamannya menghadiri seminar di Malaysia awal September 1994. Di situ ia berjumpa dengan sahabat dekatnya, yakni Wan Mohd Nor, yang ditulisnya sebagai “sahabat akrab saya”.

Menurut Amien Rais, saat masih kuliah di Chicago, Wan Mohd Nor “masih belum apa-apa”. Bahkan, dibandingkan dengan Syafii Maarif dan Nurcholish Madjid, ilmu agamanya masih jauh ketinggalan. “Tapi, sekarang?” tulis Amien, “Jangan Tanya. Saya sangat bangga ketika ia menunjukkan beberapa bukunya yang diterbitkan oleh beberapa penerbit prestisius, antara lain dari London. Ia telah menjadi seorang intelektual yang andal, berilmu luas, dan sangat matang. Dari beberapa kali berbincangan dengan dia, saya merasakan keluasan ilmu dan kematangannya. Ia sekarang menjadi tangan kanan Prof. Naquib al-Attas, seorang pendekar Islam yang sangat terkemuka di Malaysia.”

Itulah penilaian dan kesan Amien Rais terhadap Wan Mohd Nor, 25 tahun lalu (1994). Padangan Amien terhadap sahabatnya itu bisa dibaca dalam buku berjudul “Rihlah Ilmiah Wan Mohd Nor Wan Daud: Dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer”. (CASIS-UTM dan INSISTS, 2012).

Wan Mohd Nor mengakui, dua guru yang sangat berarti dalam perjalanan intelektualnya, adalah Prof. Dr. Fazlur Rahman dan Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Uniknya, kedua ilmuwan ini merupakan tokoh dari dua arus besar pemikiran dan studi Islam yang berkembang di Indonesia saat ini: yaitu neomodernisme dan Islamisasi Ilmu. Meskipun mengakui jasa-jasa besar Fazlur Rahman dalam pengembangan intelektual Islam, Wan Mohd Nor tak segan-segan memberikan kritik tajam kepada gurunya tersebut. Katanya, sikap kritis itu ditanamkan oleh Rahman sendiri.

Ia mengkritik secara tajam dan santun, metodologi Fazlur Rahman dalam memahami al-Qur’an yang menekankan aspek sosio-historis dengan pendekatan hermeneutika. Dalam bukunya The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998), Wan Mohd Nor menulis satu judul sub bab, “Tafsir is not Hermeneutics”.

Kisah hijrah Wan Mohd Nor dari neo-modernisme ke Islamisasi ilmu itu menjadi sangat bermakna, sebab, hanya dialah satu-satunya ilmuwan Muslim di muka bumi ini yang sempat berguru secara intensif kepada Fazlur Rahman di tahap doktoral dan Naquib al-Attas di tahap pasca-doktoral. Perjalanan intelektual dan perjuangan Wan Mohd Nor kemudian memang berlabuh pada gagasan Islamisasi Ilmu. Bisa dikatakan, Wan Mohd Nor sekarang berada pada posisi garda depan dalam perjuangan Islamisasi Ilmu di dunia Islam. Banyak karyanya sudah diterjemahkan dalam pelbagai bahasa. Di antara karyanya yang terkenal ialah, “The Concept of Knowledge in Islam: Its Implications for Education in a Developing Country” (New York and London, 1989); “The Beacon on the Crest of a Hill” (ISTAC, 1991); “Penjelasan Budaya Ilmu” (Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990); edisi keduanya diterbitkan Pustaka Nasional Singapura, 2003; “The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas : An Exposition of the Original Concept of Islamization” (ISTAC, 1998).

Mengomentari buku The Educational Philosophy…, Syafii Maarif menulis surat kepada Wan Mohd Nor: “This great and important work was only possible because its author is a very serious and prolific scholar. I am proud of you. Good luck and please never stop writing.” (Surat Syafii Maarif kepada Wan Mohd Nor, 6 Oktober 2001).

Baca: Dituduh Mengkultuskan al-Attas

Syed Muhammad Naquib al-Attas

Situs ‘Berita Harian’ Malaysia, 25 Juni 2019, menurunkan artikel Latifah Arifin berjudul “Konsep adab mampu selesai masalah dunia Islam sejagat”.

Mengutip pernyataan Prof. Wan Mohd Nor, penulis mencatat bahwa, Prof. Naquib al-Attas adalah salah satu tokoh yang layak disebut sebagai ‘pembaru’ dalam Islam. Tokoh seperti ini bukanlah yang mengubah-ubah hukum dan prinsip Islam, tetapi justru melakukan rekonstruksi pemahaman terhadap ajaran Islam yang memperkuat ajaran Islam, sejalan dengan kandungan al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad ﷺ.

“Ia antara lain bagi membantu umat Islam menghadapi pelbagai isu termasuk salah faham, manipulasi, kekeliruan dan gejala ekstremisme yang berlaku dengan melihat kesesuaiannya mengikut konteks serta keadaan semasa,” tulisnya.

Prof Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas (88 tahun) selama ini dikenal dengan sumbangannya dalam pelbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti metafisika, falsafah sains dan pendidikan, perbandingan agama, sastra, sejarah dan kebudayaan.

Tokoh muslim berpengaruh di AS, Syaykh Hamza Yusuf menulis dalam akun media sosialnya, bahwa Prof. Naquib al-Attas adalah pemikir besar yang memberikan pengaruh terbesar pada pemikirannya, dalam hal memahami krisis yang menimpa umat Islam dan cara untuk mengatasinya: “I have been Muslim now for 42 years, I can say with a great deal of conviction that Syed Naquib al-Attas is probably the greatest influence on my understanding on the crisis in the Muslim world and also, of what needs to be done in order to heal that crisis.”

Dalam pidato pengukuhannya sebagai pemegang Kursi Pemikiran Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prof. Wan Mohd Nor menyebutkan bahwa di antara gagasan utama dan terpenting yang disampaikan Prof al-Attas adalah konsep adab melalui pelbagai dimensi yang ditawarkannya kepada pemikiran modern dalam Islam.

Adab ialah konsep tradisi Islam yang diperkenalkan semula dan diuraikan secara sistematik oleh Prof. al-Attas. Adab juga dikaitkan dengan terma serta konsep Islam dalam ontologi, epistomologi, pendidikan, etika, maupun ekologi.

Baca: Prof Wan Mohd Nor: “Istri Taat Suami” itu Konsep Beradab

Menurut Prof. Wan Mohd Nor, definisi adab menurut Prof al-Attas ialah pengiktirafan (pengakuan) terhadap realitas bahwa ilmu dan makhluk disusun secara hirarkis berdasarkan tahap dan kedudukan masing-masing. “Ia juga tempat paling sempurna bagi seseorang dalam perhubungan dengan realiti sama ada secara fizikal, intelektual, kapasiti kerohanian dan potensi seseorang,” katanya.

Setelah bertahun-tahun mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan konsep adab Prof. Naquib al-Attas dalam dunia pendidikan, Prof. Wan Mohd Nor menegaskan, bahwa Prof al-Attas ini adalah seorang reformis dan pemikir besar yang mampu merumuskan ulang konsep adab secara dinamik. Sebab, beliau merumuskan konsep itu sebagai hasil aktivitas mental dan fisikal yang berkelanjutan dalam usahanya untuk menyelesaikan beberapa masalah sejarah dan konsep tertentu yang membelenggu ilmuwan dan masyarakat secara umumnya.

Demikian catatan singkat tentang Peristiwa Bersejarah pada 15 Juni 2019 lalu. Semoga peristiwa itu menjadi tonggak penting dalam upaya mewujudkan kejayaan Tamaddun Melayu-Indonesia, sebagai peradaban yang unggul dan menjadi rahmatan lil-alamiin. Aamiin. (hidayatullah.com, Kuala Lumpur, 25 Juli 2019).*

Penulis adalah Direktur At-Taqwa College, PP at-Taqwa Depok. Artikel dimuat di hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabislamisasi ilmuRaja Zarith SofiahRZS-CASIS UTMSyed Muhammad Naquib al-AttasWan Mohd Nor Wan Daud
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Erupsi Gunung Tangkuban Parahu, Kolom Abu Capai 200 Meter
Tulisan selanjutnya Pakai Duit Kampanye Ebola Mantan Bos Sepakbola Liberia Dapat Kartu Merah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?