Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Mulia dengan Ilmu dan Iman

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Agustus 2019 14:54 2:54 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Agustus 2019 15:00
Bagikan
Generasi muda Muslim di Raja Ampat, Papua Barat.
Bagikan

FITRAH manusia asalnya mulia. Allah mencipta manusia sebagai sosok mulia. Bahkan memotivasinya berlomba-lomba meningkatkan kemuliaan. Seperti bahagia, mulia juga idaman setiap manusia. Tak seorang pun manusia suka dihina dan ternista dalam hidupnya. Apapun akan dipertahankan dan dibelanya, jika itu dianggap simbol kemuliaan seseorang.

Firman Allah, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra [17]: 71).

Soalannya, apakah manusia boleh bercukup dengan kemuliaan fisiknya? Hanya karena orang itu dicipta berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain? Bahwa selain fisik yang paripurna, manusia juga dibekali perangkat akal dan hati. Akal adalah alat untuk menalar dan menimbang sesuatu sedang hati tempat bercermin dengan kejernihan bak telaga.

Bagi orang beriman, kemuliaan tak cukup dengan bersandar pada sempurnanya fisik semata. Sebab demikian itu hanya sesaat. Fana dan segera lenyap begitu saja. Mengukur manusia dengan jasadnya sama seperti menyerupakan manusia dengan makhluk lainnya. Cuma mungkin agar sedikit berbeda lalu dibuat tambahan aspek penilaian disana sini.

Buya Hamka dalam karya berjudul Pribadi, mengutip sebuah pepatah Arab yang menyatakan: “Aqbil ‘ala an-nafsi, wa-ahsin fadhaailahaa. Fainnaka bin-nafsi laa bil-jismi insaanun.” (Fokuskan dirimu pada jiwamu, dan sempurnakanlah keutamaan-keutamaannya. Sebab, pada hakikatnya, anda disebut manusia, karena jiwa anda, bukan karena tubuh anda).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Realitasnya, tak sedikit manusia terjebak dengan asumsi keliru tentang mulia tersebut. Sebagian mengartikan mulia (al-izzah) sebagai capaian dan prestasi dunia semata. Merasa dirinya (lebih) mulia hanya gara-gara hartanya yang lebih banyak atau kekuasaannya yang lebih tinggi, dan seterusnya.

Akibatnya, orang berlomba-lomba mengejar dunia dan menjadikannya tujuan nomor satu di setiap aktivitasnya. Mereka disibukkan dengan urusan jasad semata. Baik fisik secara rangka biologis ataupun fisik secara bangunan infrastruktur. Hari-harinya tersita hanya mengurus materi dan kebendaan saja. Ia lalai dari hakikat dirinya sendiri sebagai manusia yang sebenarnya bertumpu pada jiwanya.

Baca: Banyak Sujud, Banyak Solusi

Untuk itu mari mengetuk hati. Merenungi kembali apa yang digariskan Allah, Sang Pemilik kehidupan. “… Padahal izzah itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan bagi orang-orang beriman…” (QS. Al-Munafiqun [63]: 8).

Bahwa sumber mulia itu dari Allah, Dia-lah penggenggam kemuliaan, yang memuliakan siapa saja makhluk-Nya yang diinginkan mulia dan menistakan siapa yang dikehendaki menjadi hina. Barometernya adalah ilmu, iman, dan amal shaleh. Bukan yang lain. Sebab selainnya hanyalah bonus hadiah dari Sang Khaliq Yang Maha Pemurah.

Maka, tak ada yang keliru dari segala obsesi dan cita-cita tinggi manusia di dunia. Asal jangan sampai pekerjaan dan kesibukan itu melalaikan dari mengingat Allah dan beribadah kepada-Nya. Sebab mulia itu ketika ia memilih tersungkur hina bersujud di hadapan-Nya. Mulia itu ketika berilmu tapi makin tersadar akan kebodohannya.

Sebaliknya, merugilah manusia yang gara-gara mengejar dunia untuk dibilang sukses dan dianggap mulia, sedang dirinya tak lebih dari orang yang dipenjara oleh keinginan hawa nafsunya. Ketahuilah itu hanya kebahagiaan semu yang berbalut dusta belaka. Setiap waktu, ia mesti bersembunyi di balik topeng atas nama pencitraan.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amalfisikfitrahilmuImanmulia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Membaca Dimana Saja
Tulisan selanjutnya DPD: Pemulihan Ekonomi Lebih Prioritas daripada Pindah Ibu Kota

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?