Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Pro Kontra Pemindahan Ibu Kota dan Janji Kampanye

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Agustus 2019 20:05 8:05 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Agustus 2019 20:05
Bagikan
Bagikan

BELAKANGAN ini isu pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur seakan banjir yang menenggelamkan ruang kesadaran sebagian bangsa Indonesia. Sehingga siapapun, mulai dari mahasiswa hingga profesor diskusinya di media sosial adalah tentang pemindahan ibu kota.

Dan, seperti umumnya sebuah gagasan, ide pemindahan ibu kota menuai pro dan kontra. Mereka yang pro cenderung melihat langkah tersebut sebagai sebuah keniscayaan menghadapi masa depan. Sedangkan mereka yang kontra, melihat isu ini sama sekali tidak memiliki urgensi dan relevansi yang memadai dari segala sisi.

Namun, bagaimana semestinya kita selaku bangsa Indonesia memandang isu ini?

Pertama, jika merujuk pada dinamika sebuah negara, pemindahan ibu kota merupakan hal yang biasa-biasa saja, terutama jika melihat negara-negara lain pernah melakukannya. Seperti Amerika Serikat yang memindahkan ibu kota dari New York ke Washington DC. Kemudian Brasil memindahkan ibu kotanya dari Rio de Janeiro ke Brasilia, dan Australia yang bergeser dari Sydney ke Canberra. Termasuk Turki dari Istanbul ke Ankara.

Jika ada satu hal yang perlu dianalisis secara mendalam adalah apakah alasan negara-negara tersebut memindahkan ibu kota sudah sama dalam pengertian keterdesakan, kepentingan, dan keharusan. Karena kajian pemindahan ibu kota memang dilakukan segelintir orang dan dituangkan di ruang publik saat situasi sosial-politik kurang memadai, isu pemindahan ibu kota ini bagaimanapun juga telah menguras energi, waktu, dan produktivitas warga negara.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Baca: Alasan Jokowi Pindahkan Ibu Kota ke Kaltim

Kedua, pemindahan ibu kota di Indonesia cenderung potensial dipandang sebagai kebijakan politis dibanding komitmen mensejahterakan kehidupan rakyat Indonesia.

Hal ini akan begitu tampak jika mengacu pada statement Presiden Joko Widodo sendiri yang secara tegas pernah menyampaikan bahwa dengan menjadi presiden dirinya akan lebih mudah mengatasi segala problematika Ibu Kota Jakarta, mulai dari banjir hingga kemacetan. Kini, saat jabatan itu telah di genggamannya bahkan memasuki periode kedua, ternyata kebijakannya tidak konsisten dengan apa yang telah diucapkan.

Pada saat yang sama, isu pemindahan ibu kota telah efektif membuat sebagian besar publik lupa untuk menagih dan mengawal janji-janji Jokowi-Ma’ruf dalam kampanye Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Ketiga, sebagian warga, termasuk milenial memandang, pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara sebagai sebuah kebijakan yang tidak perlu, mengingat Kalimantan adalah paru-paru dunia. Dan, seakan memahami bahwa proyek pemindahan ibu kota tidak akan benar-benar memperhatikan lingkungan, mereka menanggapi isu pemindahan ini sebaiknya dihentikan atau pun jika harus dilanjutkan, maka jangan ke Kalimantan.

Keempat, analisa pemilihan Kutai Kartanegara sebagai ibu kota baru nantinya ternyata lemah bahkan tidak sesuai fakta. Seperti ungkapan bahwa di sana potensi musibah cenderung minim. Padahal, pernah terjadi sebuah musibah banjir besar yang mengakibatkan belasan ribu warga terdampak dan hidup dalam kesulitan. Di sisi lain, gempa bumi yang konon memang tidak pernah menyapa Kalimantan, justru terjadi tak lama sejak isu ini digulirkan.

Baca: DPD: Pemulihan Ekonomi Lebih Prioritas daripada Pindah Ibu Kota

Kelima, jika memperhatikan besaran utang negara untuk APBN sepanjang 2014 – 2019 jelas proyek pemindahan ibu kota ini jauh dari kata rasional. Jika proyek-proyek yang selama ini saja bersumber dari dana utang, lantas bagaimana dengan proyek pemindahan ibu kota, apakah mungkin itu bebas dari utang?

Sementara pengendalian impor saja sangat sulit dikendalikan oleh presiden. Bagaimana nantinya jika benar-benar ibu kota akan dipindah. Tentu rasio sebagian masyarakat sulit untuk mencernanya.

Menarik yang disampaikan oleh Sandiaga Uno dalam akun Twitter pribadinya, @sandiuno, Selasa (27/08/2019).

“Perlu dipelajari betul berapa biaya yg akan dikeluarkan, biayanya darimana, menguntungkan siapa, berapa jumlah lapangan kerja yang akan bertambah, untuk siapa lapangan kerja yang tercipta, seberapa urgensinya, apakah ini sebanding dengan biayanya?”

Tentu saja masih banyak aspek yang dapat digunakan sebagai pisau analisis mengenai urgensi dan keterdesakan Indonesia memindahkan ibu kota. Mulai dari aspek hukum, ketersediaan RUU yang tepat dan progresif serta berorientasi mensejahterakan rakyat yang perlu hadir dan benar-benar sesuai dengan semangat pengamalan nilai Pancasila hingga keterlibatan rakyat itu sendiri di dalam proyek yang belum pernah terjadi di negeri ini.

Dengan demikian, masyarakat, pemuda, mahasiswa, dan seluruh elemen bangsa Indonesia, hendaknya melihat isu pemindahan ibu kota ini secara wajar. Jangan lengah dari mengawal janji kampanye presiden terpilih, memberikan kritik yang membangun, serta aktif memberikan masukan-masukan yang diperlukan yang boleh jadi presiden dan pemerintahan lalai atau lupa di dalam analisisnya.

Terakhir, jangan lupa untuk senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala, mengingat negeri ini merdeka atas rahmat Allah Ta’ala dan dengan semangat perjuangan serta pengorbanan para ulama dan umat Islam.

Andai pun rakyat tidak berdaya dan pemerintah tetap menjalankan ambisinya secara tergesa-gesa, maka itu sudah merupakan satu bukti bahwa kelak pasti akan berjumpa dengan bahaya. Karena dalam Islam, setiap ketergesa-gesaan sebaiknya dihindari.*

Imam Nawawi | Sekjen Syabab Hidayatullah/Alumnus SMA N1 Loakulu Kutai Kartanegara

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ibu KotaJoko widodoJokowiKalimantan TimurKaltimKukarpemindahan ibu kotaPPU
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Polisi di NRW Jerman Akan Ungkap Kebangsaan Setiap Pelaku Pidana
Tulisan selanjutnya Forum Haji ASEAN Dibentuk sebagai Wadah Strategis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?