Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Cina Gagal Peringatkan Publik Lebih Awal Terkait Virus Covid-19

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 16 April 2020 14:52 2:52 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 16 April 2020 14:52
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | Dalam enam hari setelah para pejabat tinggi China diam-diam mengetahui bahwa mereka mungkin sedang menghadapi pandemi Covid-19, kota Wuhan mengadakan perjamuan massal yang dihadiri puluhan ribu orang dan jutaan orang mulai mudik tahunan mereka untuk perayaan Tahun Baru Imlek lapor Al Jazeera, Rabu (15/4/2020).

Presiden Xi Jinping memperingatkan publik pada 20 Januari – hari ketujuh – tetapi pada saat itu, lebih dari 3.000 orang telah terinfeksi selama hampir seminggu kesunyian publik, menurut dokumen internal yang diperoleh oleh kantor berita Associated Press (AP) dan perkiraan berdasarkan data infeksi retrospektif.

Penundaan dari 14 Januari hingga 20 Januari bukanlah kesalahan pertama yang dibuat oleh pejabat China, bukan juga jeda terlama, karena pemerintah di seluruh telah terseok-seok selama berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan dalam menangani virus itu.

Tetapi penundaan oleh negara pertama untuk menghadapi virus corona terjadi pada saat yang kritis – awal dari wabah. Upaya China untuk memilih menyiagakan publik dan menghindari kepanikan telah memberi panggung pada pandemi yang kini telah menginfeksi hampir 2 juta orang dan merenggut lebih dari 126.000 jiwa.

“Ini dahsyat sekali,” kata Dr Zuo-Feng Zhang, seorang ahli epidemiologi di University of California, Los Angeles. “Jika mereka mengambil tindakan enam hari lebih awal, akan ada jauh lebih sedikit pasien dan fasilitas medis sudah cukup.”

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Meskipun begitu, pakar epidemiologi lain, Benjamin Cowley di Universitas Hong Kong, mencatat bahwa itu adalah keputusan yang sulit. Jika pejabat kesehatan menyalakan peringatan terlalu cepat itu akan merusak kredibilitas mereka dan melumpuhkan kemampuan mereka untuk memobilisasi publik, katanya.

Penundaan enam hari oleh para pemimpin China di Beijing terjadi ketika hampir dua minggu di mana Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) nasional tidak mendaftarkan kasus baru, informasi internal yang didapatkan dan dikonfirmasi oleh AP. Namun selama waktu itu, dari 5 Januari hingga 17 Januari, ratusan pasien muncul di rumah sakit tidak hanya di Wuhan, di mana penyakit itu pertama kali terdeteksi di pasar, tetapi juga di seluruh negeri.

Kontrol ketat China pada informasi, birokrasi yang rumit dan keengganan untuk mengirim berita buruk ke rantai komando di atasnya meredam peringatan dini, kata para analis.

Tanpa laporan internal ini, dibutuhkan kasus pertama di luar China, di Thailand pada 13 Januari, untuk memberi efek kejut kepada para pemimpin di Beijing agar mengakui bahaya di hadapan mereka.

Pemerintah China berulangkali menyangkal telah menutupi informasi pada hari-hari awal, mengatakan negaranya langsung melaporkan wabah itu kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Tuduhan menutup-nutupi atau kurangnya transparansi di China tidak berdasar,” kata juru bicara kementrian luar negeri Zhao Lijian pada konferensi pers.

Dokumen-dokumen menunjukkan bahwa kepala Komisi Kesehatan Nasional China, Ma Xiaowei, menjabarkan penilaian suram dari situasi pada teleconference rahasia 14 Januari dengan pejabat kesehatan provinsi.

Sebuah memo menyatakan bahwa teleconference diadakan untuk menyampaikan instruksi tentang coronavirus dari Presiden Xi, Perdana Menteri Li Keqiang dan Wakil Perdana Menteri Sun Chunlan, tetapi tidak merinci apa instruksi itu.

“Situasi epidemi masih parah dan kompleks, tantangan paling berat sejak SARS pada tahun 2003, dan kemungkinan akan berkembang menjadi peristiwa kesehatan masyarakat besar,” memo tersebut mengutip perkataan Ma.

Dalam pernyataan yang dikirim melalui faks, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan China telah mempublikasikan informasi mengenai wabah itu secara “terbuka, transparan, bertanggungjawab dan tepat waktu,” sesuai dengan “instruksi penting” yang berulang kali dikeluarkan oleh Xi.

Dokumen-dokumen itu berasal dari sumber anonim di bidang medis yang tidak ingin disebutkan namanya karena takut pembalasan. Kantor berita AP memastikan konten itu dengan dua sumber lain di kesehatan publik yang dekat dengan telekonferensi tersebut.

Di bawah bagian berjudul “pengertian sederhana situasi ini,” memo itu memilih kasus di Thailand, mengatakan bahwa situasi telah “berubah secara signifikan” karena kemungkinan penyebaran virus di luar ke negeri.

“Semua daerah harus bersiap untuk dan menanggapi pandemi,” katanya.

Mengecilkan ancaman

Komisi Kesehatan Nasional membagikan rangkaian instruksi setebal 63 halaman kepada para pejabat kesehatan provinsi, yang diperoleh AP. Instruksi, yang ditandai “tidak untuk diungkapkan pada publik,” memerintahkan pejabat kesehatan nasional untuk mengidentifikasi kasus yang diduga wabah, rumah sakit untuk membuka klinik demam, serta agar dokter dan perawat untuk mengenakan alat pelindung.

Namun, di depan publik, para pejabat terus mengecilkan ancaman.

“Risiko penularan manusia-ke-manusia yang berkelanjutan rendah,” Li Qun, kepala pusat darurat CDC China, mengatakan pada stasiun televisi China pada 15 Januari.

Di bawah perintah baru, keesokan harinya pejabat di Wuhan dan di tempat lain akhirnya mendapatkan alat pengujian yang disetujui CDC dan lampu hijau untuk mulai mengkonfirmasi kasus baru. Di seluruh negeri, lusinan kasus yang dilaporkan kemudian mulai muncul, dalam beberapa kasus di antara pasien yang terinfeksi sebelumnya tetapi belum diuji.

Pada 20 Januari, Xi membuat komentar publik pertamanya tentang Covid-19, mengatakan wabah “harus ditanggapi dengan serius”. Seorang ahli epidemiologi Tiongkok terkemuka, Dr Zhong Nanshan, sementara itu, mengumumkan untuk pertama kalinya bahwa virus itu menular dari orang ke orang di televisi nasional.

Penundaan itu dapat mendukung tuduhan oleh Presiden AS Donald Trump bahwa kerahasiaan pemerintah China memperlambat respon dunia terhadap virus. Namun, bahkan pengumuman publik pada 20 Januari memberi dua bulan kepada Amerika Serikat untuk mempersiapkan pandemic.

Beberapa pakar kesehatan mengatakan Beijing mengambil tindakan tegas mengingat informasi yang tersedia.

“Mereka mungkin tidak mengatakan hal yang benar, tetapi mereka melakukan hal yang benar,” kata Dr Ray Yip, pensiunan pendiri kantor Pusat Pengendalian Penyakit AS di Cina. “Pada tanggal 20, mereka membunyikan alarm untuk seluruh negara, yang bukan penundaan yang tidak masuk akal.”

Tetapi yang lain mengatakan peringatan lebih awal akan menyelamatkan nyawa. Jika publik telah diperingatkan seminggu sebelumnya untuk mempraktekkan jarak fisik, memakai masker dan mengurangi perjalanan, kasus-kasus dapat dipangkas hingga dua pertiga.

“Semakin dini Anda bertindak,” kata ahli epidemiologi Los Angeles, Zhang, “semakin mudah Anda mengendalikan penyakit ini.”* Nashirul Haq AR

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Cinacovid-19gagalPeringatkanWuhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Orientalis dan Missionaris di Balik Pertikaian Islam vs Kolonial di Indonesia
Tulisan selanjutnya Pakar: Vitamin C efektif melawan COVID-19

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?