Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

10 Sifat Malu menurut Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 16 Juni 2020 13:21 1:21 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 16 Juni 2020 13:15
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | MALU adalah bagian dari ajaran agama (ad dien). Dan sebagian ulama berpendapat bahwa sifat malu bermula dari interaksi hati dengan segala sesuatu yang pantas untuk disikapi malu dengan rasa takut kepada Allah.

Adapun Ibnu Qoyyim berpendapat bahwa malu merupakan sifat khusus gabungan antara sikap penganggungan dan cinta kepada Allah SWT. Jika keduanya berpadu, maka tumbuhlah sifat malu. Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Malu dan iman adalah dua sisi yang selalu bersma. Jika salah satunya hilang dari keduanya maka yang lain juga ikut hilang.” (HR: Hakim)

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa pemuda itu menegur saudaranya dikarenakan malu dengan perkataannya, “Kamu sungguh orang yang pemalu,” hingga seakan-akan berkata, “Malu itu telah membahayakan dirimu.” Kemudian Rasulullah ﷺ berkata padanya, “Biarkanlah saudaramu!” Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.” (HR: Bukhari dan Muslim)

Dalam buku Fikih Malu, karya Dr Muhammad Ismail al-Muqaddam mengutip Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah membagi sifat malu sebagai berikut:

Pertama, malu karena berbuat kejahatan. Seperti rasa malu yang dimiliki Nabi Adam. Ketika dia lari ketakutan di dalam surga, Allah bertanya kepadanya, “Hai Adam , apakah kamu lari karena takut kepada-Ku . Adam menjawab, “sama sekali tidak wahai Tuhanku. Akan tetapi , aku malu kepada-Mu.”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Kedua, malu karena lalai dalam menjalankan ibadah sebagaimana malunya malaikat yang selalu bertasbih siang dan malam tanpa berhenti.

وَلَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَمَنْ عِندَهُۥ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ

يُسَبِّحُونَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS: Al Anbiyaa’: 19-20)

Ketiga, malu yang diperoleh karena penghargaan kepada seseorang hamba atau sering disebut dengan malu makrifat. Jenis malu sangat tergantung pada sejauh mana makrifat seorang hamba terhadap Tuhannya.

Keempat, malu yang timbul karena kemurahan hati. Seperti malunya Nabi Muhammad ﷺ ketika menjamu kaum yang diundang untuk menghadiri resepsi  pernikahannya dengan Ibunda Zainab; hingga beliau berdiri dan malu untuk berkata kepada mereka. “Beranjaklah kalian dari sini.”

Lima, malu karena merasa hina. Seperti rasa malu seseorang hamba kepada Tuhannya ketika meminta agar segala permohonannya dikabulkan, dengan penuh kerendahan diri di hadapan-Nya.jenis malu ini dikarena sebab posisi dirinya merasa kecil di hadapan Allah, sementara kesalahan dan dosa yang dilakukannya terlalu banyak.

Enam, malu karena ada hubngan keluarga. Sebagamana yang dialami oleh Ali bin Abi Thalib ketika dia bertanya kepada Rasulullah tentang madzi (cairan yang keluar dari kemaluan). Dia merasa alu karena kedudukan putri  beliau (Fatimah) yang menjadi istrinya.

Tujuh, malu yang didasarkan karena cinta. Yaitu malu seseorang karena rasa malu terhadap orang yang dicintainya. Rasa malu yang bergejolak di dalam hatinya dan terbesit di wajahnya, sementara dia tidak menyadari apa yang menyebabkan dia merasakan seperti itu.

Delapan, malu dalam hal beribadah kepada Allah. Ia merupakan gabungan dari rasa cinta, takut dan pengakuan seorang hamba akan ibadahnya yang tidak patas dipersembahkan kepada-Nya. Karena kedudukan Alah jauh lebih mulia dan agung daripada ibadah yang dilakukannya.

Sembilan, malu karena kedudukan yang disandangnya. Ini muncul disaat seseorag melakukan sesuatu, baik berupa pengorbanan, amal kebaikan maupun sedekah namun dia gagal. Dengan demikian dia akan merasa malu karena kehormatan yng disandangnya, namun dia tidak mampu melakkan sesuatu yang diiginkan orang lain.

Sepuluh, rasa malu seseorang pada diri sendiri merupakan rasa malu yang dimiliki oleh jiwa mulia, terhormat dan tinggi kedudukannya.

Jikalau memang ajaran agama tidak mewajibkan seseorang untuk memiliki sifat malu, pastilah akal yang akan berperan sebagai penggantinya dan memandang begitu pentingnya memiliki sifat malu.*/ Akbar Muzakki

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ibnu-Qoyyim al Jauziyyahmalusifat malu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ‘Israel’ Akan Caplok Tepi Barat Secara Bertahap
Tulisan selanjutnya Cara Syariat Islam Hapuskan Perbudakan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Berita
14 Juli 2026 19:51
Perwira Cadangan ‘Israel’: Pasukan Kami Sedang Mengalami Kemerosotan Moral
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Seorang Dokter Jerman Bunuh Sedikitnya 15 Pasien
Amnesty Kecam Pemberian Tanda Kehormatan pada Modi karena Rekam Jejak HAM

Terbaru

  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?