Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Setelah Ledakan Bom, Para Menteri Mundur, PM Lebanon Hassan Diab Bubarkan Kabinet Pemerintahan

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 11 Agustus 2020 12:52 12:52 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 11 Agustus 2020 12:38
Bagikan
Hassan Diab umumkan pembubaran Kabinet Lebanon
Bagikan

Hidayatullah.com–Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab mengundurkan diri pada Senin (10/08/2020) di tengah kemarahan di dalam dan di luar pemerintahannya atas ledakan mematikan di pelabuhan Beirut. Masyarakat Lebanon menuduh ketidakmampuan dan korupsi penguasa yang telah berlangsung puluhan tahun sebagai penyebab bencana tersebut terjadi.

“Saya menyatakan hari ini pengunduran diri (kabinet) pemerintahan ini. Semoga Tuhan melindungi Lebanon,” kata Diab, yang mengulangi do’anya tiga kali, dikutip oleh Al Jazeera.

Perkembangan tersebut menyusul protes anti-pemerintah akhir pekan lalu setelah ledakan 4 Agustus di pelabuhan Beirut. Ledakan menyebabkan kerusakan luas, menewaskan sedikitnya 160 orang dan melukai sekitar 6.000 lainnya.

“Hari ini kami mengindahkan orang-orang dan tuntutan mereka untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab atas bencana,” katanya dalam pidato singkat di televisi yang dikutip oleh The New Arab.  “Inilah mengapa hari ini saya mengumumkan pengunduran diri pemerintah,” tambahnya.

Selain PM Hassan Diab, setidaknya ada lima menteri yang juga mengundurkan diri. Menteri Luar Negeri Nassif Hitti adalah menteri pertama yang mengundurkan diri dari jajaran kabinet PM Diab. Hitti mundur sebelum terjadinya ledakan pada Senin (03/08/2020) karena krisis ekonomi berkepanjangan. Ia menuding pemerintah tidak serius menggerakkan reformasi, dikutip oleh AFP.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Menteri menteri Mundur

Pada Ahad (09/08/2020), Menteri Informasi Abdel Samad juga mengundurkan diri, dilansir oleh Associated Press (AP). Abdel Samad mengundurkan diri tak lama setelah belasan anggota parlemen lebih dulu melakukan hal yang sama sebagai protes atas kinerja pemerintah.

Setelah pengunguman Abdel Samad itu, PM Diab sempat mengunjungi menter-menterinya untuk menahan mereka dari pengunduran diri. Sebab, mundurnya 7-20 menteri dapat membuat kabinet pemerintah turun dan menjadi pemerinah sementara.

Pada Senin (10/08/2020), di hari yang sama dengan pengunduran diri PM Diab, tiga menteri lain juga melakukan hal yang sama. Mereka adalah Menteri Lingkungan Damianos Kattar, Menteri Keuangan Ghazi Wazni, dan Menteri Kehakiman Marie-Claude Najm.

Presiden Michel Aoun menerima pengunduran diri tersebut dan meminta kabinet pemerintahan Diab. Pemerintahan ini dibentuk pada bulan Januari dengan dukungan dari kelompok Hizbullah Iran yang kuat dan sekutunya, untuk tetap sebagai juru kunci sampai kabinet baru terbentuk, sebuah pengumuman yang disiarkan televisi.

Sejak Oktober, telah terjadi demonstrasi massal yang menuntut pengunduran diri dari seluruh kepemimpinan berbasis sektarian di pemerintahan Lebanon karena korupsi yang mengakar, ketidakmampuan dan salah urus. Tetapi oligarki yang berkuasa telah memegang kekuasaan begitu lama – sejak akhir perang saudara pada tahun 1990 – sehingga sulit untuk menemukan tokoh politik yang kredibel yang tidak tercemar oleh koneksi dengan mereka.

Bernard Smith dari Al Jazeera Beirut melaporkan,  perubahan itu akan menjadi tantangan karena sistem pemilihan Lebanon diatur “untuk melindungi elit politik di negara itu”.Bahkan ledakan dasyat beberapa hari lalu dinilai tak membuat para elit melepas kekuasaan.

“Untuk mengubah sistem itu, para elit politik itu harus menyetujuinya,” kata Smith. “Bahkan ledakan sebesar bencana hari Selasa mungkin tidak cukup untuk membuat para elit itu dengan mudah melepaskan cengkeraman mereka pada kekuasaan … Itulah mengapa tekanan internasional, menurut orang-orang, diperlukan,” katanya.

Pada hari Ahad (09/08/2020), para pemimpin dunia dan organisasi internasional menjanjikan hampir 300 juta Dolar dalam bantuan kemanusiaan darurat ke Beirut. Namun organisasi internasional memperingatkan tidak ada dana yang akan tersedia sampai pemerintah Lebanon berkomitmen untuk reformasi politik dan ekonomi yang diminta oleh rakyat.

Rami Khouri, seorang profesor di American University of Beirut, menggambarkan perkembangan minggu lalu sebagai “titik balik bersejarah dalam pemerintahan politik modern Lebanon” yang “baru saja dimulai,” lapor Al Jazeera.

Khouri mengatakan pada dasarnya ada dua kekuatan utama saat ini di Lebanon. Kekuatan pertama adalah milisi Syiah Hizbullah dan kedua gerakan protes.

“Yang pertama adalah Hizbullah dan sekutu dekatnya, dan yang lainnya adalah gerakan protes, atau revolusi sebagaimana mereka menyebut diri mereka sendiri – mereka semua adalah tipe masyarakat yang mewakili mayoritas penduduk,” katanya.  “Pertanyaannya adalah, apakah akan ada negosiasi yang serius sekarang,” lanjutnya, seraya mencatat bahwa pembentukan “pemerintahan hibrida” yang ditugaskan untuk menangani masalah kritis Lebanon mungkin saja terjadi.

“Mereka harus menyetujui apakah pemerintahan transisi yang datang adalah pemerintahan reformis yang serius, dengan orang-orang yang ‘bersih’ dan efisien yang dapat memperoleh dukungan dari komunitas internasional dan melakukan kesepakatan cepat dengan IMF.”

Enam hari setelah ledakan kimia dahsyat yang menyebabkan kehancuran di sebagian besar ibu kota dan dirasakan hingga pulau Siprus, penduduk dan sukarelawan masih membersihkan puing-puing dari jalanan.  Tim penyelamat internasional dengan anjing pelacak dan peralatan khusus tetap bekerja di “ground zero” lokasi bencana yang hangus itu, tempat pencarian mayat dengan tanpa ekpektasi korban selamat.

Lebanon sedang mencari pihak yang bertanggungjawab atas tragedi ledakan. Para pejabat tinggi negara itu telah menjanjikan penyelidikan yang cepat dan menyeluruh – tetapi mereka tidak menyetujui penyelidikan independen yang dipimpin oleh para ahli asing seperti yang diminta oleh para pengunjuk rasa.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Hassan DiabHizbullahLebanonpemerintahan Lebanonsyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kasus Covid-19 di Kalangan Anak-Anak Amerika Serikat Melonjak di Akhir Juli
Tulisan selanjutnya Indeks Capai 16,3 Persen, Wapres Minta “Fintech” Bantu Tingkatkan literasi Ekonomi Syariah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?