Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Keteladanan Abdullah Bin Al-Mubarak

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Oktober 2020 18:44 6:44 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Oktober 2020 18:44
Bagikan
[Ilustrasi]
Bagikan

Hidayatullah.com | NAMA lengkapnya adalah Abdullah bin al-Mubarak bin Wadhih, Abu Abdurrahman al-Handzali. Beliau lebih dikenal dengan Ibn al-Mubarak.

Ayahnya berasal dari Turki dan ibunya berkebangsaan Arab. Beliau dilahirkan pada tahun 118 H.

Ayahnya, al-Mubarak, dulunya hanyalah seorang mawla (pelayan) dari seorang saudagar besar. Ia lama bekerja di perkebunan saudagar itu. Pada suatu hari, datanglah saudagar tersebut ke perkebunannya. Ia menyuruh al-Mubarak mengambilkan buah delima yang manis dari kebunnya. Al-Mubarak pun bergegas mencari pohon delima dan memetik buahnya, kemudian menyerahkan buah itu kepada tuannya.

Setelah tuannya membelah dan memakan delima itu, ternyata rasanya kecut. Tuannya kesal sambil berkata, “Aku minta yang manis. Kamu malah ngasih yang kecut. Ambilkan yang manis!”

Al-Mubarak segera bergegas kembali dan memetik delima dari pohon yang lain. Buah delima itu lalu diberikan kepada tuannya.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Namun, lagi-lagi buah itu rasanya kecut. Tuannya makin kesal kepada al-Mubarak. Hal itu berlangsung sampai tiga kali.

Akhirnya, tuannya bertanya, “Sekian lama kamu merawat kebun ini, kamu tidak bisa membedakan yang manis dan yang kecut?” Al-Mubarak menjawab, “Tidak, Tuan.”

Tuannya bertanya lagi, “Mengapa?” Al-Mubarak menjawab, “Karena saya belum pernah sekalipun mencoba mencicipi buah yang ada di kebun ini. ”Tuannya bertanya lagi, “Mengapa bisa begitu?”

Al-Mubarak menjawab, “Karena selama saya bekerja di sini, Tuan belum pernah mengizinkan saya untuk mencicipi buah di kebun ini.”

Mendengar jawaban itu, tuannya merasa takjub. Ia takjub atas sikap amanah al-Mubarak. Al-Mubarak pun mendapat tempat di hati tuannya. Tuannya lalu menikahkan al-Mubarak dengan putrinya.

Dari perkawinan keduanya lalu lahir seorang bayi laki-laki yang diberi nama Abdullah. Dialah yang kelak kemudian menjadi ulama besar: Abdullah ibn al-Mubarak.
(Lihat: Wafayat al-A’yan, 3/32).

*

Ibn al-Mubarak dijuluki dengan banyak julukan. Di antaranya: Al-Hafizh, Syaikh al-Islam, Fakhr al-Mujahidin, dan Pemimpin Para Ahli Zuhud. Masih banyak gelar lainnya.

Beliau menghabiskan usianya untuk melakukan banyak safar dalam rangka mencari ilmu, berhaji, berjihad, dan berdagang. Karena itu beliau dikenal dengan “As-Sâffar” (orang yang rajin melakukan perjalanan).

Adz-Dzahabi menuturkan, Ibnul Mubarak mulai mencari ilmu sejak umur 20 tahun di daerahnya, Marwa. Pada tahun 141 H ia melanjutkan perjalanannya ke wilayah lain dan berguru kepada para tâbi’in.

Beberapa wilayah Islam yang pernah ia kunjungi dalam rangka menuntut ilmu antara lain: Yaman, Mesir, Suriah, Bashrah, dan Kufah. Karena begitu banyaknya ulama yang beliau kunjungi untuk berguru menuntut ilmu.

Ibrahim bin Ishaq al-Bunani menuturkan bahwa Ibnul Mubarak pernah berkisah, “Aku telah belajar dari 4.000 guru dan meriwayatkan hadits dari 1.000 ulama.”

Al-Abbas bin Mush’ab juga berkata, “Aku pernah meneliti guru-gurunya dalam periwayatan hadits. Ternyata aku menjumpai gurunya ada 800 ahli hadits.”

*

Salah satu akhlak beliau yang menonjol adalah selalu berusaha menyembunyikan amal kebaikannya dari penglihatan manusia. Al-Marwazi berkata: Aku pernah mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal berkata, “Ibnu al-Mubarak tidak diangkat derajatnya oleh Allah kecuali karena dia telah banyak melakukan kebaikan yang tidak diketahui banyak orang.” (Ibn ‘Asakir, Târîkh Dimasyqi,38/240).

Terkait itu, Muhammad bin Isa berkata, suatu hari Ibnu al-Mubarak pernah berjumpa dengan seorang pemuda. Beliau lalu menyampaikan hadits. Setelah itu beliau pergi.

Setelah beberapa hari, Ibnu al-Mubarak hendak menjumpai pemuda itu untuk kedua kalinya. Namun, beliau sudah tidak melihat anak muda itu. Ibnu al-Mubarak bertanya perihal anak muda tersebut kepada seseorang. Orang itu berkata kepada beliau bahwa pemuda itu terlilit utang sebesar 10 ribu dirham (kira-kira Rp 700 juta).

Lalu Ibnu al-Mubarak meminta dipertemukan dengan orang yang telah memberi pinjaman kepada pemuda tersebut. Setelah bertemu, segera Ibnu al-Mubarak membayarkan utang pemuda tersebut sebesar 10 ribu dirham kepada orang tersebut. Beliau berpesan agar orang itu tidak perlu bercerita kepada siapapun tentang hal ini selama beliau masih hidup.

Setelah beberapa hari Ibnu al-Mubarak menemui anak muda itu dan bertanya kepada dia, “Anak muda, dari mana saja engkau? Beberapa hari ini aku tidak melihatmu?”

Dia menjawab, “Abu Abdurrahman, saya terlilit utang hingga saya dipenjara. Namun, seseorang telah datang membayarkan utangku hingga aku bebas dari penjara. Saya tidak tahu siapa orang itu.”

Al-Mubarak berkata,”Alhamdulillah.” Anak muda itu baru mengetahui orang yang telah membayar utangnya setelah Ibn al-Mubarak meninggal (Ibn’ Asakir, Târikh Dimasyqi, 38/350).

Ibn al-Mubarak juga terkenal karena kemuliaan akhlaknya. Hasan bin ‘Arafah pernah mendengar Ibnu al-Mubarak berkata, “Aku pernah meminjam sebuah pena dari penduduk Syam. Setelah selesai, aku bermaksud pergi ke Syam untuk mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya. Namun, saat aku sampai di Marwa, tiba-tiba orang yang aku pinjam penanya itu telah berada di sampingku. Aku tidak segera memberikan pena itu hingga ia kembali ke Syam. Setelah ia kembali ke Syam, aku pun segera pergi menyusul dia ke Syam untuk untuk mengembalikan pena itu.” (Ahmad bin Ali Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi, Târikh Baghdâd, 10/160).

Ibn al-Mubarak juga seorang yang wara’. Ali bin al-Hasan bin Syaqiq pernah mendengar Ibn al-Mubarak berkata, “Sesungguhnya mengembalikan satu dirham dari sesuatu yang syubhat lebih baik bagiku daripada aku bersedekah 100 ribu sampai 600 ribu dirham.” (Ahmad bin Ali Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 10/139).

Ibn al-Mubarak pun terkenal karena kedermawanannya. Fudhail bin Iyadh berkata, “Ibn al-Mubarak biasa berinfak kepada orang-orang fakir setiap tahun sebanyak 100.000 dirham (kira-kira Rp 7 miliar).”

Karena keagungan dan kemuliaan Ibn al-Mubarak, tidak aneh jika adz-Dzahabi pernah berkata, “Sungguh aku menyukai Ibnu al-Mubarak karena Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan mencintai dia karena Allah Subhanahu Wata’ala, aku berharap Allah Subhanahu Wata’ala juga memberi aku sebagian kebaikan yang telah diberikan kepada dia seperti ketakwaan, kerajinan dalam beribadah, keikhlasan, kegemaran untuk berjihad, mempunyai ilmu yang luas, kepandaian, kesederhanaan, bijak dalam memberikan fatwa dan sifat-sifat terpuji.” (Abu al-Hajaj, Tahdzîb al-Kamâl, 16/15-16).

Ibn al-Mubarak wafat pada bulan Ramadhan saat kembali dari medan perang pada tahun 181 H dalam usia 63 tahun. * Arief B. Iskandar
(Khadim Ma’had Wakaf Darun Nahdhah al-Islamiyah)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abdullah Bin Al-MubarakAbdullah bin al-Mubarak bin WadhihIbn al-Mubaraktabi'inulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mufti Mehmet Emin: Sejak Dibuka, 1,5 Juta Orang Kunjungi Masjid Agung Hagia Sophia
Tulisan selanjutnya WhatsApp Sekum Muhammadiyah Abdul Mu’ti Diretas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?