Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Orang di England dan Skotlandia Paling Sering Mabuk Miras

Ama Farah
Terakhir diupdate: 25 Januari 2021 18:15 6:15 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 25 Januari 2021 18:15
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Orang di wilayah England dan Skotlandia paling sering teler berat hingga kehilangan keseimbangan dan kesulitan berbicara akibat terlalu banyak menenggak minuman beralkohol.

Global Drugs Survey (GDS) for 2020 menunjukkan masalah teler akibat minuman keras di England jauh lebih berbahaya divanding teler alias mabuk akibat narkoba, lansir The Guardian Senin (25/1/2021).

Lebih dari 5% orang di bawah usia 25 tahun di England dilaporkan meminta perawatan rumah sakit setelah mabuk berat, bandingkan dengan rata-rata global yang sekitar 2%.

Laporan GDS menegaskan, “Kebutuhan akan perawatan darurat medis merupakan konsekuensi serius dari  menenggak minuman keras, menjadi beban bagi pelayanan kesehatan demikian pula bagi individu itu sendiri.”

Jumlah kasus orang mabuk miras yang dilarikan ke rumah sakit di England lebih tinggi dibanding kasus mabuk akibat konsumsi narkoba apapun kecuali heroin, menurut laporan tersebut. Konsumsi minuman beralkohol juga lebih meluas di England, di mana  94% orang mengaku pernah teler akibat miras tahun lalu, bandingkan angka itu dengan 2,3% orang yang teler akibat heroin.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Survei itu menanyai lebih dari 110.000 orang di seluruh dunia, termasuk 5.283 di England, dalam kurun 3 bulan dari November 2019 sampai Februari 2020, sebelum pandemi coronavirus.

Hasil survei tersebut mengulang hasil tahun sebelumnya yang nenunjukkan orang di England juga teler lebih sering dibanding orang-orang di negara lain.

Survei terbaru ini lebih kuat sebab di dalamnya mendefinisikan apa yang dimaksud dengan teler atau mabuk. Responden ditanya seberapa sering mereka mabuk berat sampai-sampai fisik mereka tidak berfungsi normal sehingga mereka kehilangan keseimbangan dan kesulitan berbicara, kesulitan untuk fokus dan ucapan serta perilakunya jelas terlihat sangat berbeda dengan orang-orang yang dikenalnya.

Dengan menggunakan definisi itu, orang-orang di Skotlandia dan England mengaku rata-rata mabuk berat sekitar 33 kali sepanjang tahun lalu. Itu merupakan yang tertinggi di antara 25 negara yang disurvei, dan dua kali lebih tinggi dibanding sejumlah negara Eropa seperti Polandia, Hungaria, Jerman, Yunani, Spanyol, Italia dan Portugal. Rata-rata global hanya 20 kali. Di antara 25 negara yang disurvei, orang Kolombia paling jarang teler, yaitu sekitar 6,5 kali sepanjang tahun lalu.

Hanya 7% orang Skotlandia dan England yang disurvei mengaku tidak teler sama sekali selama 12 bulan tahun lalu. Hanya orang Denmark dan Australia yang persentasenya lebih rendah dari itu, yaitu 5%.

Parahnya, sedikit saja orang di England yang mengaku menyesal setelah mabuk berat, hanya 31%. Sedangkan di Skotlandia yang mengaku menyesal 33,8%. Bandingkan dengan rata-rata global 32,8%.

Orang di Kolombia paling banyak yang mengaku menyesal setelah teler, yaitu 88,3%.

Riset GDS sebelumnya menunjukkan bahwa ketika mabuk orang biasanya menghabiskan uang jajannya untuk satu minggu dalam sekali duduk. Akibat mabuk mereka juga rentan mengalami kecelakaan, trauma dan terganggu sistem imunnya (yang terakhir ini sangat mengkhawatirkan terutama di masa pandemi Covid-19).

Riset lain oleh GDS tagun lalu mendapati 48% orang di wilayah Britania Raya memgaku semakin banyak menenggak minuman beralkohol sejak awal pandemi.

Prof Adam Winstock, pimpinan eksekutif dan pendiri GDS, berkata bahwa bangsa Inggris tidak memiliki budaya jujur tentang dampak menenggak minuman beralkohol. Orang Inggris tidak punya takaran konsumsi minuman beralkohol.

“Sementara banyak kebudayaan lain menganggap alkohol hanya sebagai pelengkap acara sosial dan bahkan tidak suka melihat orang mabuk di tempat umum, kita sering kali justru menganggapnya sebagai bagian identitas budaya,” kata Winstock soal kebiasaan mengkonsumsi alkohol orang-orang di Inggris.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:alkoholEnglandinggrismabukskotlandiateler
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemikiran dan Perjuangan Mr. Mohammad Roem: Ujung Tombak Diplomasi Perjuangan RI (2)
Tulisan selanjutnya vaksin-covid-19-gaza Orang yang Sudah Divaksinasi Masih Dapat Ketularan dan Menularkan Covid-19

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?