Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Kembalinya Iwan Fals dan Dendang Parau Densi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Februari 2021 10:21 10:21 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Februari 2021 09:00
Bagikan
Kembalinya Iwan Fals berdendang lagu tentang buzzer
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Buzzer-buzzer herder siapa
Hukum tak sanggup hentikan gonggongnya
Buzzer-buzzer dipelihara
Sekali gonggong terima berjuta
Buzzer-buzzer inilah fakta
Simak congornya si abu bangsat
Buzzer-buzzer adalah pahlawan
Bagi loyalis dan para penjilat
Buzzer-buzzer siap menggigit
Mereka yang kritis terhadap tuannya

Hidayatullah.com | Itulah cuplikan syair lagu “Buzzer”, karya Iwan Fals, yang syairnya digarap keroyokan dengan fans, yang ada di Twitter dan fb nya.

Syair dari lagu-lagu Iwan Fals sejatinya memang kritis, tapi itu dulu. Itu saat era represif Orde Baru. Memasuki Orde Reformasi, apalagi di era Presiden Jokowi, ia tak tampak kritis lagi. Hilang kegarangannya, dan tentu kehilangan fans setia, yang menganggapnya sebagai “penyambung lidah” rakyat.

Akhirnya Iwan pun siuman dari tidur panjangnya, bermimpi buruk dan saat terjaga ia melihat semuanya sudah berubah. Suasana hangat di ruang publik hilang, dan berganti saling umpat jadi fenomena keseharian.

Beberapa kali Iwan men-twit kekesalannya atas munculnya para buzzer, lalu bersama fansnya syair lagu “Buzzer” itu dibuatnya. Syairnya tajam-keras dan tanpa tedeng aling-aling, menyebut buzzer sebagai herder, anjing yang menggonggong… sekali gonggong terima berjuta…

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Muncul juga kata menyengat, bahkan amat kasar… Simak congornya si abu bangsat. Yang dimaksud itu pastilah Abu Janda, nama lain dari Permadi Arya, buzzer yang untuk sementara tidak mampu disentuh hukum.

Setelah ini pastilah Iwan Fals akan dihajar ramai-ramai para herder itu. Pastilah ia sudah dianggap bukan kawan lagi. Sudah dianggap murtad. Iwan Fals memang sedang dinantikan sikap kekritisannya, untuk bisa bersama menyuarakan kebaikan yang biasa dulu ia suarakan.

Baca: Saktinya Permadi Arya, Jengahnya Susi, dan Janji Kapolri

Densi Bermain Api Besar

Abu Janda dan Denny Siregar, biasa dipanggil dengan Densi, adalah dua besar buzzer papan atas. Jika syair lagu “Buzzer” itu menyebut dengan herder, maka dua orang itu bukan herder sembarang herder.

Dua orang itu memang herder kelas wahid, tidak cuma bisa menggonggong tapi juga bisa melempar rangsang luas. Mulai rasisme, agama (Islam) yang dipersekusi, dan mainan-mainan lain yang bahkan bisa memantik perpecahan di antara anak bangsa.

Dalam Twitternya (17/2/2021), Densi mengujar hal yang sungguh menyakitkan mereka yang masih punya akal sehat. Setelah Biro Pusat Statistik (BPS), mengumumkan Aceh sebagai provinsi termiskin di Pulau Sumatera, Densi merespons dengan resiko yang bisa memantik api besar, yang tidak ia sadari, atau bahkan ia sadari.

“Alhamdulillah… ada juga prestasinya,” cuit Densi.

“Lho, provinsi termiskin itu prestasi. Karena jadi provinsi kaya itu biasa, sudah banyak yang melakukannya. Miskin itu gaya hidup yang gak semua orang bisa. Pertahankan provinsi juara bertahan! Anda bisa.” Cuitannya itu menimbulkan respon keras para netizen.

Densi berhasil mengundang respons dari banyak pihak. Tidak tahu persis, apakah jika yang ditwit itu menimbulkan “gairah” luas publik, maka bayaran yang diterimanya akan juga besar. Mestinya demikian. Makin nekat, maka cuannya makin gede.

Memang mustahil jika keberaniannya memantik api besar itu tidak dibarengi faktor penunjang. Tentu disamping materi yang tidak kecil, tentu pastilah perlindungan untuk tidak bisa disentuh hukum.

Baca: Akhir Hidup Para Buzzer, dan Dunia Baru

Tampaknya dua buzzer papan atas itu utamanya, dan buzzer-buzzer bertingkat dibawahnya, akan juga terlindungi. Benar syair lagu “Buzzer” tadi, Buzzer-buzzer adalah pahlawan bagi loyalis dan para penjilat… Buzzer-buzzer siap menggigit mereka yang kritis terhadap tuannya.

Apa yang di-twit Densi itu, tentu bukan tanpa perhitungan. Semuanya pastilah diperhitungkan. Sudah ada hitungan-hitungannya. Apakah saat men-twit ia lapor dulu pada “tuannya”, tidak ada yang tahu persis. Pada waktunya jawaban itu akan terkuak dengan sendirinya.

Densi “menghina” provinsi Aceh, itu semua orang yang berpikir sedikit tajam pastilah mengerti. Itu bukan sekadar Aceh, tapi lebih dari itu. Ia ingin gambarkan, meski secara tersirat, bahwa Aceh miskin itu karena memakai Syariat Islam. Ia sedang menggiring opini, dan lagi-lagi menghina syariat (agama).

Beberapa netizen kemarin meresponsnya dengan diantaranya mengingatkan pada sejarah masa lalu, saat republik ini baru lahir dan tentunya miskin. Maka rakyat Aceh mengumpulkan dana, dan lalu membelikan pesawat terbang pertama yang dimilki bangsa ini. Pesawat itu diberi nama Seulawah. Dengan pesawat itu, Presiden Soekarno bisa terbang kesana kemari menemui rakyatnya.

Juga ada yang mengingatkan, bahwa emas yang ada di ujung Monas itu hadiah dari Aceh. Dan beratnya 35 kg. Saat itu negeri ini miskin, tidak punya apa-apa. Dan Aceh lah yang banyak membantu. Manusia semacam Densi itu bukannya tidak pernah baca buku sejarah tentang itu, atau tidak pernah mendengarnya.

Sejarah kebaikan masa lalu Aceh, itu buat manusia macam Densi dan kawan-kawannya, itu hanyalah sekadar mitos. Biarlah itu ada dalam catatan sejarah yang dimitoskan. Densi sedang punya misi menggiring opini, bahwa memakai Syariat Islam itu pastilah miskin.

Densi tanpa disadarinya, sedang membandingkan dirinya yang kaya, meski “memakan daging saudaranya sendiri”, dengan marbot masjid yang hidupnya sederhana bahkan miskin secara ekonomi, tapi adem hidupnya berdekatan dengan Tuhannya.

Biarkan saja Densi dan para buzzer berdendang saat masih ada yang menabuh gendang. Pada saat gendang itu selesai ditabuh, maka selesailah dendang parau itu dinyanyikannya. Tamat! (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

a

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abu JandabuzzerDenny SiregarIwan Fals
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Agar Tak Menyimpang, Din Syamsuddin Dorong Revisi SKB 3 Menteri Soal Seragam
Tulisan selanjutnya biden, penindasan muslim uighur Pertama Kali, Biden ‘Ancam’ China atas Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Xinjiang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Feature
29 Agustus 2026 10:49
Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?