Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Genosida, Sebutan Parlemen Belanda untuk Perlakuan China terhadap Uighur

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 28 Februari 2021 10:58 10:58 am
Nashirul Haq
Dipublikasikan 28 Februari 2021 07:00
Bagikan
Kunjungan Menteri China Turki
Courtesy Al Jazeera
Bagikan

Hidayatullah.com — Parlemen Belanda menyebut perlakuan China terhadap minoritas Muslim Uighur sama dengan genosida. Hal ini disampaikan melalui mosi tidak mengikat yang ia sahkan, langkah pertama yang dilakukan negara Eropa.

“Genosida terhadap minoritas Uighur sedang terjadi di China,” mosi ini menyatakan, tidak mengatakan secara langsung bahwa pemerintah China bertanggungjawab, dilansir Al Jazeera.

Para aktivis dan pakar HAM PBB mengatakan setidaknya satu juta Muslim telah ditahan di kamp-kamp di wilayah barat Xinjiang. Mereka dan beberapa politisi Barat menuduh China melakukan penyiksaan, kerja paksa dan sterilisasi.

China menyangkal pelanggaran HAM apapun di Xinjiang dan mengatakan kamp-kampnya menyediakan pelatihan menyediakan pelatihan kejuruan dan itu diperlukan untuk melawan paham garis keras.  Kedutaan China di Den Haag mengatakan pada Kamis bahwa setiap tuduhan genosida di Xinjiang adalah “kebohongan langsung” dan parlemen Belanda telah “dengan sengaja mencoreng China dan mencampuri urusan dalam negeri China.

Kanada mensahkan resolusi yang melabeli perlakuan China terhadap Muslim Uighur sebagai genosida pada awal pekan ini. Pada konferensi pers di hari Selasa, Juru Bicara Departemen Dalam Negeri AS Ned Price juga mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri AS Blinken telah “sangat jelas” apa yang terjadi di Xinjiang “adalah genosida” dan merupakan “kejahatan terhadap kemanusiaan”.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

‘Perhatian besar’

Mosi Belanda mengatakan bahwa tindakan pemerintah China seperti “tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran” dan “memiliki kamp hukuman” sesuai dengan Resolusi PBB 260, secara umum dikenal sebagai konvensi genosida. Partai VVD konservatif Perdana Menteri Mark Rutte menentang resolusi tersebut.

Menteri Luar Negeri Stef Blok mengatakan pemerintah tidak ingin menggunakan istilah genosida, karena situasinya belum diumumkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau pengadilan internasional. “Situasi orang Uighur sangat memprihatinkan,” kata Blok kepada wartawan setelah mosi itu disahkan, seraya menambahkan bahwa Belanda berharap untuk bekerja sama dengan negara lain dalam masalah ini.

Penulis mosi itu, legislator Sjoerd Sjoerdsma dari Partai Demokrat kiri-tengah 66, secara terpisah mengusulkan melobi Komite Olimpiade Internasional untuk memindahkan Olimpiade Musim Dingin 2022 dari Beijing.  “Mengakui kekejaman yang terjadi terhadap Uighur di China apa adanya, yaitu genosida, mencegah dunia untuk melihat ke arah lain dan memaksa kami untuk bertindak,” katanya kepada kantor berita Reuters dalam tanggapan email atas pertanyaan.

Dalam pernyataan di situsnya, Kedutaan Besar China di Den Haag mengatakan populasi Uighur di Xinjiang telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menikmati standar hidup yang lebih tinggi dan harapan hidup yang lebih lama. “Bagaimana Anda bisa menyebut ini sebagai genosida?” katanya. “Masalah terkait Xinjiang tidak pernah tentang hak asasi manusia, etnis atau agama, tetapi tentang memerangi kekerasan terorisme dan pemisahan diri.”

Baca juga: Mengenal Muslim Uighur

Pada Rabu kemarin, Duta Besar China untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa menuduh kekuatan Barat menggunakan masalah Uighur untuk mencampuri urusan dalam negeri negaranya.  Tekanan yang tumbuh kepada China atas Uighur datang ketika laporan tahunan dari Biro Statistik Nasional China menunjukkan penurunan tajam dan tiba-tiba tingkat kelahiran di Xinjiang di tengah laporan penahanan massal dan pengendalian populasi.

Tingkat pertumbuhan populasi Xinjiang menyusut sekitar dua pertiga dalam dua tahun, menurut angka yang berjalan hingga 2019, menurut Hong Kong Free Press, yang pertama kali melaporkan angka terbaru pada hari Kamis. Antara 2017 dan 2019, angka kelahiran di Xinjiang hampir setengahnya, turun dari 15,88 persen pada 2017 menjadi 8,14 pada 2019, menurut statistik.

Pada hari Rabu, sebuah laporan Human Rights Watch baru juga menuduh bahwa pemerintah China telah meningkatkan “persekusi tak berdasar” di wilayah paling barat, dengan Uighur dan Muslim lainnya menjadi sasaran hukuman penjara yang lama di Xinjiang.

Sejak pemerintah China meningkatkan “Kampanye Serang Keras Melawan Terorisme” yang represif pada akhir 2016, sistem peradilan pidana formal di kawasan itu telah memvonis dan menghukum lebih dari 250.000 orang.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:etnis uighurGenosida UighurHuman Rights Watchmosi tidak mengikatxinjiang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya webinar internasional BMOIWI Gelar Webinar Internasional, Usung “Pentingnya Peran dan Kewajiban Perempuan dalam Islam”
Tulisan selanjutnya Pria India Mati di Kaki Ayam Sabungan Miliknya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?