Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Terhentilah Langkah Pak Moel, AHY Pemenang, Usai Sudah Kemelut Partai Demokrat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 April 2021 14:41 2:41 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 April 2021 14:17
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Selesai sudah drama dualisme kepengurusan kepemimpinan Partai Demokrat. Pemerintah lewat Menkumham, Yasonna H Laoly, menolak kepengurusan Partai Demokrat versi KLB, yang diketuai Jenderal (Purn) Moeldoko.

Dengan demikian, jelaslah bahwa kepemimpinan Partai Demokrat yang sah adalah yang dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang terpilih lewat Kongres V, 2020. Maka hiruk pikuk dan saling klaim dua kubu, yang merasa paling berhak, mestinya sudah harus berakhir.

Kemelut Partai Demokrat, yang hampir dua bulan ini, menyisakan kisah pilu tidak saja bagi Partai Demokrat, tapi bagi demokrasi di Indonesia, yang akan terus dikenang dengan kenangan buruk dan memalukan. Berbagai narasi baru muncul, yang tidak enak diucapkan, seperti begal politik, dan sejenisnya.

Inilah sejarah kelam demokrasi coba dihancurkan dengan cara yang belum pernah terjadi di negeri ini. Perampasan partai politik, dalam hal ini Partai Demokrat, yang dilakukan oleh pihak di luar partai (eksternal), yang dibantu beberapa senior partai, lewat cara-cara inkonstitusional.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Bagaimana mungkin orang di luar partai, dalam hal ini Pak Moeldoko, diangkat sebagai Ketua Umum oleh mereka yang tidak punya hak suara dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat, di Deli Serdang, Sumatera Utara (5 Maret).

Baca: Yasonna Laoly Siang Ini Putuskan Dualisme di Partai Demokrat: Putusan Berdasar Hukum Atau Politik?

KLB di Deli Serdang itu  pelaksanaannya lancar-lancar saja, meski tanpa izin dari Kepolisian, seolah ada tangan kekuasaan yang bermain di sana. Sehingga tidak ada yang mampu menghentikan. Padahal di masa pandemi ini, tidak mudah bisa dapat izin penyelenggaraan acara apa pun, apalagi yang mendatangkan jumlah massa besar.

Terkesan pula KLB itu dilaksanakan dengan cara ugal-ugalan, dimana tidak sampai satu jam (ada yang mengatakan hanya 40 menit saja) sejak kongres dibuka, Ketua Umum sudah terpilih. Dan Ketua Umum terpilih, Pak Moeldoko, belum hadir di arena kongres. Lalu lewat telepon ketua umum terpilih menyatakan kesediaannya, meski dengan syarat-syarat, yang lalu dipenuhi peserta kongres.

Kasihan Pak Moel

Tidak ada yang bisa memahami langkah yang diambil Pak Moeldoko itu. Menghalalkan cara merebut Partai Demokrat dengan cara-cara di luar kepatutan. Awalnya tidak mengakui, ada rencana darinya bahwa ia akan mengambil alih Partai Demokrat. Kata Pak Moel, mereka datang, dan ia adalah orang yang terbuka menerima siapa saja di rumahnya. Setelah disodorkan bukti, bahwa pertemuan lanjutan itu di kamar sebuah hotel, maka ia katakan cuma ngopi-ngopi saja.

Setelah itu, ternyata Pak Moel nekat maju terus menuju KLB, dan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Sebuah langkah ngawur, yang seperti tanpa diperhitungkannya.  Sepulang dari KLB, ia disebut sebagai ketua umum ilegal, dan bahkan ditambahkan label sebagai jenderal begal politik. Jadi bahan olok-olok, menggerus integritasnya.

Setelah itu, Pak Moel tidak tampil di hadapan publik, hampir tiga pekan. Seperti ngumpet tidak percaya diri dengan langkahnya. Tidak seperti AHY yang tampak pede, terus melakukan anjangsana pada pejabat tinggi, dan tokoh nasional. Setelah tiga pekan ngumpet, Pak Moel lalu muncul dengan pernyataan lewat video Instagramnya.

Dimana ia katakan, bahwa ia khilaf, itu karena ia tidak meminta izin pada istri dan keluarganya saat mengikuti KLB itu. Juga, ia minta untuk tidak melibatkan Presiden Jokowi. Bagaimana mungkin presiden tidak lalu ikut terlibat, bukannya ia selaku orang dekatnya, yang duduk sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

Lalu, Pak Moel bicara bahwa ia didaulat untuk mimpin Partai Demokrat. Bicara juga, bahwa kekisruhan sudah terjadi di Partai Demokrat, dan demokrasi sudah bergeser di dalam tubuh Partai Demokrat. Jika benar kondisi Partai Demokrat, sebagaimana yang disampaikannya itu, lalu urusannya apa dengannya.

Ada pula pernyataannya yang membingungkan, bahwa akan terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Pertarungan yang terstruktur dan gampang mengenalinya, dan karenanya akan jadi ancaman bagi cita-cita menuju Indonesia Emas 2045.

Baca: Bom Meledak, Pak Moel Bak Robin Hood, dan Ending Partai Demokrat Tidak Menentu

Ada hal menarik lainnya yang disampaikan Pak Moel, dan itu bisa jadi pelajaran buat kita semua, yaitu pernyataan tulusnya bahwa ia khilaf. Jika saja ia tidak khilaf, dan sebelumnya membicarakan langkahnya itu dengan istri dan keluarganya, maka bisa jadi ia tidak nekat ambil alih Partai Demokrat dengan sewenang-wenang.

Jika ia tidak khilaf dan bicara dengan istri dan keluarganya terlebih dahulu, maka setidaknya ada pertimbangan dari sang istri, agar ia berpikir untuk tidak melakukannya, bahwa di Partai Demokrat itu ada Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dulu pernah berjasa mengangkatnya selaku Kastaf AD, dan lalu Panglima TNI. Mosok sih lali, Pak? setidaknya kalimat demikian, yang disampaikan sang istri.

AHY Sumringah, Tidak pada Pak Moel

Setelah pengumuman Menkumham, siang hari (31 Maret). Tidak lama kemudian, AHY mengadakan Konferensi Pers, dengan wajah sumringah, ia makin tampak tampan.

Dengan tenang ia sampaikan perasaan syukurnya, dan ucapan terima kasih pada Presiden Jokowi, Menko Polhukam, Prof Mahfud MD, Menkumham, Yasonna Laoly, Kapolri, Listyo Sigit Prabowo, dan beberapa pihak lainnya.

Perasaan sumringah itu bukan cuma dirasakan AHY saja, tapi seluruh pengurus Partai Demokrat merasakan hal yang sama. Bahkan di Surabaya, para pengurus PC Demokrat melakukan sujud syukur, setelah mendengar keputusan Menkumham.

Drama pertempuran AHY versus Moeldoko mestinya sudah usai, meski tetap menyisakan rasa sumringah dan nelangsa pada dua belah pihak yang bertikai. Sebaiknya tidak perlu Pak Moel memperpanjang membawa drama ini ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Mencoba memperpanjang kasus ini, justru akan lebih menampar wajah.

Wajah Pak Moeldoko masih akan sering kita lihat, karena jabatannya sebagai KSP, itu jika Pak Jokowi tetap masih menempatkannya sebagai orang terdekatnya. Tapi tidak ada yang tahu nasib seseorang, termasuk nasib Pak Moeldoko pasca putusan Menkumham itu.

Tapi bagaimana dengan nama Marzuki Alie, Jhoni Allen Marbun, Darmizal, Max Sopacua, dan lainnya, tentu wajahnya tidak lagi bisa kita lihat leluasa. Jika “kangen” akan sulit bisa melihat wajahnya lagi. Namanya akan hilang dari perbincangan publik.

Baca: Hambalang dan Cacing Kepanasan

Dalam sebulanan ini wajah-wajah mereka memang akrab menghiasi pemberitaan, lagaknya seolah pemilik Partai Demokrat yang sah. Pernyataan-pernyataan yang muncul dari mereka, adalah pernyataan asal bicara tanpa data yang dipunya. Jika berdebat di televisi dari dua kubu yang bertikai, tampak jomplang “dihajar” kelompok AHY.

Paling teringat saat Razman Arif Nasution, Ketua Bidang Advokasi dan Hukum Partai Demokrat kubu Moeldoko, dalam satu acara di sebuah stasiun televisi dihajar anak muda yang good looking dan berperangai tenang, Herzaky Mahendra Putra, Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, kubu AHY. Tampak beda kelas antar keduanya. Razman terlihat gelisah dikuliti Herzaky.

Masalahnya bukan Razman yang merasa lebih tua lalu bisa bicara sekenanya. Herzaky meski masih muda, tapi ia bawa data dalam perdebatan. Tidak asal bicara. Persoalan Partai Demokrat memang bukan persoalan Jenderal versus Mayor. Tapi tentang legalitas pada sebuah partai, dan Menkumham telah memutuskan, siapa yang berhak atas partai itu dengan sebenarnya. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Agus Harimurti YudhoyonoMoeldokoPartai DemokratYasonna H Laoly
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mengembalikan Kehangatan Sosial Zaman Dulu
Tulisan selanjutnya Rumah sakit muhammadiyah vaksinasi 85 Rumah Sakit dan 10 Perguruan Tinggi Muhammadiyah Siap Bantu Pemerintah Percepat Proses Vaksinasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?